Jika kita buka dan mempelajari kitab kitab induk yang menerangkan mengenai manhaj Salaf.

Umumnya yang ditegaskan dan disebutkan pertama kali di situ adalah berkaitan dengan, masalah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah berkaitan dengan Shifat Shifat Allah.

Berikut juga bantahan terhadap para Ahlul Bid’ah yang menolak, atau menyelewengkan dengan cara mentakwil, sifat sifat Allah yang jelas jelas disebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Baik itu dengan bantahan yang ringkas, ataupun yang panjang lebar.

Porsi bahasan mengenai ini biasanya paling awal dan paling banyak dibahas di dalam kitab kitab manhaj, karena ini adalah bahasan paling pokok dan mendasar.

Perkara “kulliyah” kalau bahasa para Ulama.

***
Bagi muslim hanif (lurus) dan baru pertama mencoba memahami pokok pokok manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah lebih dalam, mungkin akan bingung kenapa hal ini dibahas panjang lebar?

Bukannya kalau sudah jelas ayat nya dan Shohih hadits nya masalah sifat sifat Allah ini, maka ya kita tinggal terima saja?

Ya, memang seharusnya begitu. Itu yang benar. Tapi faktanya bagi Para Ahlul Bid’ah tidak begitu.

Jadi ibaratnya kita itu seperti membangun benteng yang kokoh dulu, walaupun keadaan masih tidak diserang. Demikian juga pentingnya membangun i’tiqod pemahaman yang benar dulu Mengenai Allah, walaupun kita tidak ada maksud dan pemahaman yang aneh aneh dalam masalah itu.

Pentingnya membangun benteng ini nanti baru akan terasa ketika ada serangan musuh. Jadi first thing first, sedia payung sebelum hujan.

***
Kalau ingin melihat bagaimana bahaya nya orang yang memiliki i’tiqod yang salah mengenai sifat sifat Allah itu, maka coba lihat Pluralisme dan Liberalisme.

Karena i’tiqod mereka mendefinisikan mengenai Allah sekehendak mereka sendiri mengikuti hawa nafsu, maka itu membuat kacau seluruh pemahaman dan amaliyah mereka di dalam Islam.

Sama juga dengan misal Sufi dengan berbagai macam i’tiqod dan amaliyah nya yang nyeleneh dalam masalah ma’rifat mereka Kepada Allah.

Demikian juga para pengikut filsafat, ilmu kalam, ahlur Ro’yu, dan manthiq dalam masalah i’tiqod nya mengenai sifat sifat Allah. Mereka berbicara semau mereka mengenai Allah, sehingga mempengaruhi Aqidah, pemahaman, dan amaliyah mereka.

Itu semua terjadi karena mereka tidak punya pondasi I’tiqod yang benar mengenai sifat Sifat Allah.

Maka dari itu ini disebut masalah “Kulliyah”. Karena ini akan mempengaruhi Aqidah, pemahaman, dan amaliyah seorang Muslim secara keseluruhan.

***
Di sinilah pentingnya bagi kita memahami bagaimana manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah memahami masalah sifat sifat Allah dengan benar.

Ini penting, walaupun kadang awal kita tidak faham kenapa Jahmiyah dan Mu’tazilah dibahas sedangkan firqoh itu sudah lama punah (namun pemikirannya yang sejenis tetap ada).

Membahas Aqidah yang benar bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah bukan Makhluq, walau syiar Ahlul Bid’ah Mu’tazilah Al Qur’an adalah makhluk bukan Kalamullah sudah punah di abad modern ini. Dan yang ada hanya “modifikasi” nya saja atas nama Hermeneutika dan Liberalisme.

Pentingnya Membahas Masalah Allah turun di sepertiga malam akhir yang diingkari oleh Ahlul Bid’ah. Membahas Melihat Allah di akhirat kelak.

Membahas masalah sifat dzatiyah Allah (seperti Allah memiliki “wajah”, “tangan”, dan lain lain) dan sifat Af’aliyyah Nya (perbuatan Allah).

Maka dari itu membahas ketinggian Allah, di mana Allah, dan menetapkan bahwa Allâh bersemayam di atas Arsy, guna membantah kebid’ahan i’tiqod Allah berada di mana mana dan Allah ada tanpa tempat. Adalah pokok pokok agama yang sangat vital dan mendasar.

Ini yang pertama yang harus kita fahami.

Penting bagi kita memahami bagaimana manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam memahami masalah sifat sifat Allah dengan benar.

***
Yang kedua,
bahwasanya kita harus faham bahwa ayat-ayat di dalam Al Qur’an yang membahas masalah sifat Allah itu, lebih tinggi kedudukan dan derajatnya dibandingkan ayat-ayat berkenaan dengan hukum hukum Nya.

Maksudnya bagaimana?

Coba saya tanya, ayat apakah yang paling tinggi kedudukannya di dalam Al Qur’an? Ayat kursi atau QS Al Baqarah : 255 bukan?

Ya, jelas. Karena demikianlah yang Rasulullah jelaskan dalam hadits nya yang Shohih mengenai keutamaan ayat kursi.

Dan apakah isi kandungan ayat kursi itu?
Sejak awal hingga akhir ayat itu memberikan khobar mengenai sifat sifat Allah.

Maka dari itulah ayat-ayat mengenai sifat sifat Allah itu, lebih tinggi kedudukannya dibandingkan ayat-ayat mengenai hukum hukum Allah.

Saya coba tanya lagi, surat apa yang memiliki kedudukan seperti sepertiga Al Qur’an?

Al Jawab, QS Al Ikhlas.

Apakah isi dari QS Al Ikhlas?
Sejak dari awal hingga akhir isinya mengenai sifat sifat Allah. Dan jika kita lihat asbabun Nuzul surat ini, surat ini turun berkaitan dengan pertanyaan kaum Musyrikin kepada nabi Muhammad mengenai Allah.

Maka dari itu ayat-ayat mengenai sifat sifat Allah itu, lebih tinggi kedudukannya dibandingkan ayat-ayat mengenai hukum hukum Allah.

Namun apakah ini berarti ayat-ayat mengenai Hukum Allah itu tidak penting?

Tentu saja penting, karena hukum Hukum Allah itu diturunkan sebagai konsekuensi dari sifat Sifat Allah. Maka dari itu biasanya ayat-ayat yang berkenaan dengan hukum Allah itu, diawali atau diakhiri dengan penyebutan sifat dan asmaul Husna Allah.

Asmaul Husna itu adalah nama nama Allah yang Indah yang diambil dari sifat sifat Allah, sebagaimana yang Allah namakan bagi diri Nya sendiri.

Setiap nama Allah pasti mengandung sifat Allah, namun tidak setiap sifat Allah itu menjadi nama Allah. Sifat Allah lebih luas dibandingkan asmaul Husna Allah.

Kembali lagi ke bahasan awal, jadi ayat berkaitan dengan hukum Allah itu mempunyai sequence kedudukan dari sifat Allah.

Untuk bahasa yang lebih sederhana, ini misal seperti pencuri yang melanggar hukum Allah dengan mencuri. Namun bersamaan dengan itu, dia tetap mengakui Allah sebagai Rabb yang maha Tinggi dan Maha Mulia.

Faham kan maksudnya?

***
Kenapa Ini kita bahas panjang lebar?

Yakni karena, ketika Ibnu Taimiyyah rohimahulloh dicela dan disesatkan oleh pengikut Asy’ariyyah berkaitan dengan sifat sifat Allah.

Maka itu wajar, karena demikianlah kebiasaan para Ahlul Bid’ah yang menyimpang dalam masalah sifat sifat Allah. Ini disebutkan sendiri dalam Aqidah Salaf Ashabul Hadits yang ditulis oleh Imam Ash Shobuni.

Akan tetapi yang aneh dan menyimpang itu adalah orang orang yang mengaku Salafi namun sejatinya Haroki, Takfiri, dan fans berat manhaj Muwazanah. Yang menganggap masalah sifat sifat Allah ini adalah perkara yang remeh.

Menganggap itu hanya sekedar khilafiah, tidak perlu ada Nahi Mungkar walau hanya sekedar kebencian di hati, dan yang penting itu persatuan.

Maka dari pada itu Haroki, Takfiri, dan fans berat manhaj Muwazanah ok ok aja bergabung dengan orang orang yang menyimpang dalam masalah sifat sifat Allah dalam perjuangan demo yang berjilid jilid, dengan tanpa merasa perlu untuk mengingkari kebid’ahan nya dalam masalah sifat sifat Allah.

Inilah muwazanah. Hal hal yang kiranya mengganggu persatuan Islam itu tidak perlu diingkari, walaupun itu berkaitan dengan sifat sifat Allah.

***
Orang orang seperti itu sebenarnya tidak perlu kita katakan sebagai penyusup yang mengaku aku sebagai Salafi.

Bagi orang yang faham manhaj Salaf, sebenarnya itu sudah jelas sendiri walau tanpa perlu disebutkan.

Celakanya itu adalah orang orang yang ngakunya ikut kajian sunnah namun hanya tematik saja, dan tidak pernah belajar manhaj secara tuntas dari awal sampai akhir. Yang kemudian tertipu dan ikut ikutan muwazanah akibat ketidakfahaman akan masalah ini.

Mengaku mengikuti manhaj Salaf dan ikut kajian sunnah, namun tidak merasa risih dengan orang orang yang menyimpang dari manhaj masalah sifat sifat Allah, dan tidak ada Nahi Mungkar dengan alasan untuk persatuan atau karena merasa “nggak enakan”.

Big question mark bagi kita,
“Apakah orang orang yang terfitnah oleh para Haroki, Takfiri, dan fans berat manhaj Muwazanah; sembari mengaku pengikut manhaj Salaf itu kira kira jumlahnya banyak atau tidak ya? ”

Itulah yang namanya fitnah

Advertisements