Dulu para sahabat saling menasehati dan saling amar ma’ruf nahi munkar di antara mereka.

Hal ini wajar karena mereka bukanlah nabi yang ma’shum, melainkan sebaik baik umat yang paling cepat untuk bertaubat dan memperbaiki diri ketika mereka bersalah.

Apakah mereka Ahlul Bid’ah sehingga harus dilakukan nahi munkar? Tentu tidak. Mereka Ahlus Sunnah.

Bahkan jika kita lihat kitab rijalul hadits, maka banyak perowi hadits yang terkena jarh (celaan) yang mempengaruhi kompetensi mereka dalam meriwayatkan hadits.

Apakah para perowi yang terkena jarh itu Ahlul Bid’ah semua? Tidak. Bahkan mayoritas mereka adalah Ahlus Sunnah bahkan para pembesar dan ulama nya.

***
Kalau ditanyakan lagi, apakah bisa antar sesama Ahlus Sunnah bertikai?

Tentu bisa, dan yang satu pada fihak yang benar dan satu pada fihak yang salah walau sama sama Ahlus Sunnah.

Ketika Muawiyah mengalami konflik hingga terjadi perang dengan Kholifah Ali mengenai darah Utsman, utusan dari kerajaan Romawi datang kepada Muawiyah untuk menghasutnya.

Maka Muawiyah naik pitam dan murka bukan kepalang kepada utusan tersebut. Dikatakan bahwa ini adalah konflik antar saudara seperti biasa, yang mana sebenarnya mereka saling mencintai dan mengasihi.

Romawi bahkan diancam oleh Muawiyah agar jangan coba coba menghasut dan ikut ikutan dalam masalah antar sesama saudara ini. Jika tidak, maka akan dikirim pasukan dalam jumlah besar yang siap untuk melumatkan kerajaan Romawi.

Sikap Ali pun juga sama seperti Muawiyah. Dalam artian ketika Ali menenangkan peperangan antar saudara ini yang mana Ali adalah fihak yang benar, beliau tidak bergembira sedikit pun.

Sikap ini berbeda ketika Ali berperang mengalahkan Khowarij Ahlul Bid’ah yang memberontak.

Beliau bergembira dengan kemenangan nya, dan beliau mengharapkan pahala atas itu.

Mengharapkan pahala?

Ya. Orang yang berperang dan membunuh Khowarij itu mendapatkan pahala. Sesuai dengan yang dikatakan oleh Rasulullah dalam haditsnya yang Shohih.

Demikian pula pemahaman yang diambil para ulama Ahlus Sunnah, ketika mereka membantah para Ahlul Bid’ah dengan berdasarkan ilmu dan hujjah. Bahkan hingga berselisih dengan mereka.

Mereka mengharapkan pahala atas itu, karena hal itu berpahala. Berbeda jika terjadi fitnah dan konflik antara sesama Ahlus Sunnah. Mereka tidak mengharapkan pahala, bahkan justru berlindung dari hal itu.

***
Sikap ilmiah dan tindakan yang sesuai syariat terhadap sesama Ahlus Sunnah ini, memiliki nilai dan maksud yang berbeda jika dilakukan terhadap Ahlul bid’ah.

Hal ini difahami oleh Ahlus Sunnah dengan berdasarkan ilmu dan contoh Mauqif yang jelas dari para Salaf.

Akan tetapi hal ini tidak difahami oleh orang orang yang menyimpang manhaj nya atau para Hizbiyyun itu.

Para Hizbiyyun itu umumnya akan melihat segala sesuatu itu hizbiyyah juga, sama seperti mereka. Hal itu bukan sesuatu yang mengherankan.

Sehingga akibatnya amar ma’ruf nahi munkar, perselisihan, dan kritik antara sesama Ahlus Sunnah itu akan dianggap juga sebagai sikap Hizbiyyah sama seperti mereka.

Ini adalah hal yang salah. Perselisihan antar sesama Ahlus Sunnah itu berbeda dengan perselisihan antara Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bid’ah.

Ahlus Sunnah itu tidak ma’shum, dan mereka meletakkan kebenaran itu pada dalil, bukan pada tokoh sebagaimana pengikut Hizbiyyah.

Akibatnya wajar jika Ahlus Sunnah kadang saling berbeda pendapat, mengkritik, dan mengkoreksi satu sama lain sebagai nasehat. Hal ini tidak lain karena mereka meletakkan kebenaran pada dalil, bukan pada tokoh.

Dan apakah kemudian Ahlul Bid’ah Hizbiyyah juga berharap, agar perselisihan mereka dengan Ahlus Sunnah itu dianggap sama seperti perselisihan antara sesama Ahlus Sunnah?

Jangan harap!
Bahkan kami mengharapkan pahala dengan berselisih terhadap kalian.

Baik itu pahala dari usaha mendakwahi kalian untuk mengikuti sunnah dan manhaj Salaf. Pahala dari memberikan bantahan ilmiah terhadap syubhat syubhat yang kalian lancarkan. Dan pahala bersabar terhadap gangguan, fitnah, dan adu domba yang kalian lakukan terhadap Ahlus Sunnah dan dakwah Salafiyyah.

Ya. Kami berharap pahala dari itu.

Advertisements