Seseorang jika dia ma’ruf berpegang kepada manhaj Salaf, namun terlihat akrab dan saling membantu dengan orang yang menyimpang dari manhaj Salaf dalam berdakwah.

Maka ini adalah perkara yang musykil dari kacamata Mauqif (sikap) Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Bagaimana mungkin kita ikut membantu, meridhoi, atau minimal diam saja terhadap kemungkaran manhaj yang didakwahkan?

Yang mana alasan kita ikut membantu, meridhoi, atau minimal diam saja dengan alasan nggak enak karena sudah akrab, karena alasan ukhuwah, dan karena alasan mencoba untuk saling membantu dalam berdakwah ?

Sedangkan para Sahabat itu juga berdakwah, dan juga saling Amar ma’ruf nahi munkar di antara sesama mereka. Nabi Musa alaihis salaam saja juga pernah marah kepada Nabi Harun alaihis salaam.

Adapun jika itu hanya berhubungan dengan masalah muamalah, tidak berhubungan dengan masalah dakwah, maka itu tidak masalah.

***
Para ulama Salaf secara umum membenci dan mentahdzir orang seperti ini.

Kecuali jika sekiranya ada udzur dalam hal itu, yang mana dia bersikap mudaaroh tanpa ada maksud untuk meridhoi penyimpangan manhaj nya.

Qodhi Abu Yusuf rohimahulloh berkata,
“Lima hal yang wajib manusia untuk bersikap mudaroh yaitu ketika berhadapan dengan : raja yang berkuasa, hakim yang suka mentakwil, wanita, orang yang sakit, dan orang alim yang di ambil ilmunya.”
[ Al adab as syar’iyyah ibnu muflih 3/ 477]

Apa sih mudaaroh itu?

Arti asalnya sebenarnya menghindar atau mengelak. “Ngeles” atau “main cantik” dalam tanda kutip juga bisa, walau sebenarnya agak kurang tepat.

Adapun arti praktis nya adalah mencoba menolak dengan cara yang lembut, atau mencoba bersikap lembut dan kompromistis guna menolak madhorot yang lebih besar.

***
Dalil dan contoh sikap langsung Mudaaroh ini adalah,

1. Sikap Nabi Musa alaihis salaam yang lemah lembut dan argumentatif ketika berhadapan dengan Fir’aun. Ini sebagaimana yang banyak dikisahkan di dalam Al Qur’an. Lihat QS Thoha : 43-46

2. Sikap seorang anak yang tetap diperintahkan bergaul dengan baik kepada kedua orang tuanya, walau mereka Kafir dan mengajak untuk syirik kepada Allah.

Sang anak tersebut disuruh untuk menolak ajakan syirik dengan cara yang baik, dan tetap bergaul dengan cara yang baik kepada kedua orangtua nya. Lihat QS Luqman : 14-15

3. Perintah Allah agar bersikap pemaaf, tetap menyeru ke arah kebaikan, dan berpaling dari orang orang yang jahil. Lihat QS Al A’raaf :199

4. Sikap Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan dalam Bukhari Muslim.

Yang mana beliau mencela keburukan seseorang, akan tetapi ketika orang itu menghadap Rasulullah, beliau bersikap manis dan lunak kepada nya demi menghindari keburukan yang lebih besar.

***
Contoh kasus mudaaroh ini seperti misal ketika dia berada di lingkungan yang mayoritas Ahlul Bid’ah, dan dia disuruh berpartisipasi dalam kegiatan dakwah.

Yang mana jika dia frontal dalam menanggapi nya, kemadhorotan dan fitnah yang lebih besar yang terjadi.

Maka jika dia hanya berniat mudaaroh saja, dengan tanpa maksud meridhoi kebid’ahan yang ada. Maka ini tidak mengapa.

Atau mungkin bisa juga dia hanya berniat mengenalkan sunnah dan manhaj Salaf secara perlahan lahan, dengan tanpa maksud meridhoi penyimpangan dan kebid’ahan yang ada. Maka ini juga tidak mengapa, dan ada udzur baginya.

Bisa juga disebutkan contoh contoh lain yang kiranya bersifat “situasional”, yang mana dia dalam “posisi yang tidak enak”, dalam kedudukan yang lemah, sehingga dia harus bersikap lunak dan toleran demi menghindari madhorot yang lebih besar.

Semoga sampai di sini kita sudah faham terlebih dahulu.

***
Namun ingat, tidak setiap kejadian itu harus selalu dianggap “situasional”.

Kalau semua dianggap situational, tidak ada usaha untuk merubah atau keluar dari situasi itu. Dan bahkan justru bersikap meridhoi apa yang terjadi.

Maka ini namanya mudahanah.

Yakni sikap menjual manhaj, bermudah mudahan terhadap kebid’ahan dan penyimpangan manhaj

Orang yang seperti inilah yang terkena celaan dari qoul para Ulama Salaf akan masalah sikap Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bid’ah.

Aplikasi mudaaroh dan mudahanah ini sama sebenarnya. Hanya saja kondisi, latar belakang, dan motivasi nya berbeda berkebalikan 180 derajat.

Memang, kadang antara bersikap hikmah dan bersikap munafiq itu tipis bedanya.

***
Bahkan ada juga orang yang ngakunya berpegang kepada manhaj Salaf, namun “mesra” dengan Ahlul Bid’ah dalam masalah dakwah, manhaj, dan agama tanpa ada udzur.

(Adapun jika dalam muamalah, maka itu tidak mengapa)

Dia tidak dalam kondisi yang sulit, tidak bertujuan untuk menghindari madhorot yang lebih besar, dan juga tidak bertujuan untuk menasehati serta membantah kebid’ahan nya dengan cara yang hikmah.

Apa yang dilakukannya hanyalah sikap kompromistis atas nama ukhuwah dan syubhat menghadapi musuh bersama. Dengan cara mengorbankan manhaj tanpa udzur.

Sikap kompromistis dan mudahanah tercela seperti ini, sama seperti yang Allâh peringatkan di dalam Al Qur’an.

Yang mana orang musyrikin mencoba bersikap lunak kepada Rasulullah, dengan tujuan agar Rasulullah juga ikut lunak dan kompromistis terhadap kesyirikan mereka. Lihat QS Al Qolam : 8-9

Maka ini sama juga dengan yang dilakukan oleh orang yang menyimpang dari manhaj. Mereka mencoba lunak kepada pengikut manhaj Salaf, dengan tujuan agar pengikut manhaj Salaf juga ikut lunak dan kompromistis terhadap penyimpangan mereka….

***
Akan tetapi dewasa ini, ada yang lebih parah dari itu sebenarnya.

Jika tadi inisiator nya adalah dari orang orang yang menyimpang dari manhaj Salaf.

Yang mana dia mengajak untuk sama-sama bersikap kompromistis dan tidak mengingkari penyimpangan manhaj yang mereka miliki, demi tujuan bersama yang lebih besar.

Maka sekarang yang mengajak seperti itu adalah orang yang ngakunya Salafi itu sendiri. Yang mana dia melakukannya karena terkena penyakit manhaj muwazanah dan Pluralisme manhaj.

Sehingga akibatnya mereka mesra dengan orang orang yang menyimpang manhaj nya, dan mengajak orang lain agar bersikap sama seperti mereka itu.

Inilah bencana dan fitnah besar yang sedang menimpa kita saat ini.

***
Bahkan ketika para Da’i muwazanah dan pluralisme manhaj yang berkedok dengan baju Salafi itu kemudian terbuka kedok nya.

Maka alih alih dari mengakui kesalahan mereka dalam memahami permasalahan, mereka justru malah menyerang para pengikut manhaj Salaf yang berusaha kokoh dan tidak kompromistis dalam hal itu.

Padahal udzur untuk hal itu sebenarnya tidak ada pada diri mereka. Apalagi dakwah Salafiyyah sudah semakin kuat dan tersebar dimana mana.

Maka tidak ada alasan sebenarnya bagi mereka untuk merendahkan diri terhadap manhaj bid’ah. Kecuali jika memang ada penyakit dalam hati mereka, dan penyimpangan dalam manhaj mereka walaupun mereka mengaku Aku Salafi.

Yang ada sebenarnya ituadalah dakwah ilmiah dan hikmah kepada orang yang terjatuh dalam kebid’aha, agar meninggalkan kebid’ahan nya.

Bukannya malah bersikap kompromistis dan mengorbankan prinsip.

***
Orang orang seperti itu sering disebut sebagai Free thinker dan Talafy (Perusak) yang sesungguhnya.

Mereka lah pengusung manhaj muwazanah dan Pluralisme Manhaj dengan memakai baju Salafi sebagai kedok mereka.

Banyak kah orang orang yang terjebak dalam perangkap mereka yang mengatasnamakan manisnya “ukhuwah semu” itu?

Itulah yang sebenarnya menjadi PR kita bersama untuk menjawabnya.

Advertisements