Menghalang halangi seseorang dari jalan Allah itu sejati nya adalah sikap orang kafir, sebagaimana yang disebutkan dalam QS Al Anfal : 47, An Nisaa : 167, An Nahl : 88, Muhammad : 1 & 32, Ibrahim : 2-3, Al Hajj : 25

Adapun jika itu dilakukan oleh seorang Muslim, maka dia adalah seorang Munafiq Amali, sehingga terpenuhi syarat syarat Takfir sehingga dia menjadi Munafiq I’tiqodi yang Kafir.

Ini sebagaimana sikap orang munafiq yang berusaha menghalang halangi manusia untuk mendekati Rasulullah guna mendapatkan dakwah beliau, yang tersebut dalam QS An Nisaa : 61

***
Maka dari itu perbuatan memilih pemimpin kafir, dan perbuatan menghalang halangi seseorang dari jalan Allah karena alasan budaya dan istiadat itu pada hakekatnya sama sama perbuatan orang munafiq.

Namun kenapa yang satu diancam tidak disholatkan jenazah dengan berdasarkan QS At Taubah : 84 yang dhohir nya itu karena sudah dihukumi Munafiq I’tiqodi yang Kafir keluar dari Islam, sedangkan yang satunya lagi tidak diancam dan dikasih udzur?

Nggak ada tuh Broadcast dan pengumuman spanduk yang disebar dengan massive. Padahal dua duanya sama-sama perbuatan orang munafiq.

Apa jangan jangan manhaj yang antum ikuti hanya jika sesuai dengan kepentingan antum saja?

***

Tanya :

Jadi BANSERep dan ahoakers itu nanti klo pada mati boleh tidak disholati tdk ustadz ??klo ksh ilmu ,pencerahan, atau semacamnya jangan ngambang lah,,,, kita yg awam jadi bingung nih,,, disholati atau tidak ??

Jawab :

Boleh,
sepanjang ada udzur atau syubhat kenapa dia melakukan kemunafikan itu

Tanya :

Boleh tidak disholati?? apa boleh disholati??…
Afwan ustadz saya yg lola(loadingnya lama) x yak,, atau kurang ilmu tdk spt tmen2 yg lain yg fix saja dgn kajian antum..

Jawab :

Boleh disholatkan

Tanggapan :

Lihat keadaan orang tersebut.
Jika ia benci sunnah dan menghalang2i orang dari jalan Allah ATAS DASAR KEYAKINANNYA maka tidak boleh di sholati, murtad sudah.
Tp jika ia hanya ikut ikutan, atau bayaran atau korban profokasi, dengan syarat ia awam, maka boleh.

Tp sy tidak akan mensholati, cz agar orang2 hati2 biar gk asal2an

***

Saya Menulis lagi :

Saya tidak mengkafirkan orang orang yang berbuat dosa besar dan kemunafikan amali dalam masalah wala wal baro’, sebagaimana Rasulullah tidak mengkafirkan sahabat Hathib bin Abi Baltha’ah rodhiyalloohu Anhu yang memberikan wala kepada musyrikin Kafir.

Yang mana Umar bin Khoththob tegas mengatakan bahwa dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dengan amal perbuatan nya itu.

Kecuali terpenuhi syarat syarat takfir, sehingga dia adalah munafiq I’tiqodi yang dikafirkan.

Saya bukan Khowarij yang tidak membedakan antara munafiq Amali dan munafiq I’tiqodi.

Saya memunafiqkan seseorang, namun saya tidak gegabah mengkafirkan nya tanpa perincian

Tanya :

“Adapun jika itu dilakukan oleh seorang muslim, maka dia adalah seorang munafiq amali, sehingga terpenuhi syarat syarat takfir sehingga dia menjadi munafiq i’tiqodi yang kafir.”

Munafiq amali yg dimaksud yaitu munafik amali yg terdapat pada ayat2 tersebut kan mas BU? Bukan sembarang munafiq amali.

Jawab :

Agak kurang tepat.

Seluruh kata kata munafiq yang disebutkan di dalam Al Qur’an itu bisa dilakukan oleh seorang Muslim.

Hanya saja seseorang bisa melakukan hal yang sama, namun dihukumi berbeda beda. Antara yang hanya sekedar dihukumi Nifaq amali saja, atau yang terpenuhi syarat dan sebab hingga dijatuhkan sebagai munafiq I’tiqodi yang dikafirkan karena tiadanya udzur.

Ini seperti misal, ada orang orang yang mencela Allah dan Rasul-Nya, berikut dengan ayat ayat Nya.

Maka ada yg hanya nifaq Amali yang tidak dikafirkan karena bodoh, tidak tahu, ada udzur, syubhat, dan lain lain.

Dan ada pula yang dihukumi nifaq I’tiqodi yang dikafirkan, karena terpenuhi sebab dan syaratnya, serta tiadanya udzur.

Misal orang orang yang menolak dan mentakwil takwilkan ayat khobar berkaitan dengan sifat sifat Allah. Orang yang menolak sifat Allah istiwa di atas Arsy misalnya.

Maka ini orang sebenarnya mempermainkan ayat ayat berkaitan dengan sifat sifat Allah, yang memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan ayat-ayat Ahkam (hukum hukum).

Namun orang seperti ini tidak dikafirkan karena ada syubhat dan udzur. Tapi wajib untuk diingkari, dibenci, dimunafiqkan karena mempermainkan ayat ayat Allah, namun tidak sampai dikafirkan.

Demikian juga dengan ayat ayat Ahkam (hukum) berkaitan dengan larangan memilih pemimpin Kafir. Maka dia lebih bisa difahami dibandingkan dengan orang orang yang menolak ayat ayat berkaitan dengan sifat Allah karena ada syubhat dan udzur.

Contoh lain, Rasulullah murka kepada sahabat yang mengatakan Masya Allah wa syi’ta (Dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya). Ini karena dianggap mengolok olok serta merendahkan Allah, dengan dianggap sederajat dengan Rasulullah walau hanya dalam kalimat.

Perbuatan sahabat tersebut diingkari namun tidak dikafirkan karena ada udzur.

Demikian juga hadits Shohih Bukhori Muslim orang yang salah berkata saking gembira nya “Allah engkau hambaku dan Aku Rabb mu”. Akan tetapi orang ini tidak dikafirkan karena ada udzur. (ini hadits masalah Allah lebih gembira menerima Taubat seseorang dibandingkan orang yang dikisahkan Rasulullah itu)

Semoga jelas dan mudah difahami

Tanggapan :

Lalu untuk munafiq amali yg dlm bentuk ‘menghalangi dari jalan Allah’ itu termasuk amalan yg tdk ada udzurnya sehingga otomatis pelakunya tertuduh munafiq i’tiqadi kah?

Jawab :

Nggak, bukan begitu.

Seluruh perbuatan itu bisa dilakukan karena ada udzur dan syubhat ketidakfahaman, mengikuti hawa nafsu kemaksiatan.

Dan juga bisa tidak.

Tanggapan :

Berarti maksud dari paragraf yang ane kutip itu “if we use their logic” ?

Jawab :

Hmm yang saya tahu sih logika Ahlus Sunnah dan Khowarij dalam masalah pengkafiran itu berbeda

 

Tanya :

“Adapun jika itu dilakukan oleh seorang muslim, maka dia adalah seorang munafiq amali, sehingga terpenuhi syarat syarat takfir sehingga dia menjadi munafiq i’tiqodi yang kafir”

Berarti ini ada salah tulis kah? Soalnya terkesan tiba2 dari munafiq amali lalu terpenuhi syarat takfir sehingga jadi munafiq i’tiqodi yg kafir, seharusnya kan belum tentu krn bisa jadi ada udzur?

Jawab :

Itu hanya masalah pemahaman gaya bahasa saja

Hukum asalnya dari seorang muslim yang melakukan nya maka itu adalah nifaq Amali.

Hingga kemudian terpenuhi syarat syarat takfir padanya, dan hilang udzur nya, maka jadilah dia munafiq I’tiqodi yang dikafirkan.

Jadi tidak ujug ujug kafir, sebagaimana faham “otomatis kafir” nya Khowarij.

Ahlus Sunnah itu mengkafirkan dengan perincian. Dan perincian itu butuh proses verifikasi dan sebagainya.

Jadi tidak berfaham tiba-tiba langsung kafir setelah sebelumnya adalah seorang muslim yang bersyahadat dan mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Semoga penjelasan ini membantu

Tanggapan :

Nah sip, jazakallahu khairan mas BU

***

Tanggapan :

udzurnya mereka blum mngenal sunnah. klo dia sdh mngenal sunnah tp masih spti itu, brrti masuk i’tiqodi.

gtu ya akhy?

Jawab :

Ngasih udzur itu mudah, tapi yang jelas fihak yang berseberangan berani nggak mengkafirkan dan memurtadkan orang orang yang mereka tuduh itu.

Biasanya orang orang seperti itu nggak berani dirinya sendiri ngafir ngafirin dan menganggap murtad dengan bahasa yang tegas dan mantap secara ta’yin.

Mereka hanya beraninya tanya tanya dan mancing mancing agar orang lain yang ngafirin dan menganggap nya murtad.

Biasanya orang awam namun punya ghiroh yang jadi sasaran mereka.

Sikap seperti ini “nabok nyilih tangan”, adalah sikap yang munafiq sebenarnya.

Advertisements