Bagaimana cara memahami perkataan Ibnu Taimiyyah berikut ini, yang sering dijadikan kedok orang Liberal dan yang semisal untuk membolehkan memilih pemimpin Kafir?

ولهذا يروى ” الله ينصر الدولة العادلة وإن كانت كافرة، ولا ينصر الدولة الظالمة وإن كانت مؤمنة ”

“Allah akan menolong suatu negara yang adil walaupun kafir. Dan Allah tidak akan menolong suatu negara yang dzolim walaupun beriman.”

****
Jawab :
Penjelasan akan hal ini sebenarnya mudah, asal kita faham apa yang dimaksud dari perkataan beliau dengan mengembalikan nya kepada Al Qur’an dan As Sunnah bi fahmis Salaf.

1. Yang terpakai disitu adalah fi’il madhi (kata kerja lampau), yakni pada masalah status daulah nya dengan kata ” إن كانت”

Sehingga ini memberikan faedah bahwa negaranya itu sudah ada dulu, ini seperti negara Mesir yang ada dulu sebelum datang Nabi Yusuf dan nabi Musa di situ.

2. Kemudian fi’il mudhori yang berupa pertolongan Allah ataupun hilangnya pertolongan Allah ada setelah berjalannya daulah itu.

Yakni pada perkataan fi’il mudhori ” ينصر”

3. Maksudnya bagaimana memahami point satu dan dua di atas itu?

Seperti misal negara Mesir pada waktu zaman Nabi Yusuf.

Negara Mesir waktu itu dibantu Allah nggak dengan kedatangan Nabi Yusuf yang mentakwilkan mimpi sang Raja dan kemudian menjadi Bendahara untuk mengatasi bencana paceklik?

Ya, dibantu. Jelas itu. Akan tetapi negara itu ada dulu jauh sebelum Nabi Yusuf datang bukan?

Dan Kalau argumentasi itu dijadikan dasar memilih pemimpin Kafir maka juga salah dan nggak benar. Karena negara itu sudah ada dulu, dan Nabi Yusuf tidak ikut mendirikan Mesir dan juga tidak ikut mengangkat pemimpinnya.

Beliau datang setelah semua itu ada.

Jadi sampai sini jelas dulu kan?

4. Sekarang bagaimana jika negara itu beriman dan negara Islam tapi dzolim, kan dikatakan Allah tidak akan menolongnya?

Ya, dan ini terjadi juga. Sebagaimana munculnya Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi karena kedzoliman para rakyatnya, sebagai bentuk ujian dan teguran dari Allah.

Para sahabat dan Tabi’in umumnya berkata, Hajjaj itu ada karena kedzoliman kita.

Padahal apakah para Sahabat dan Tabi’in itu kurang dalam masalah imannya? Dan apakah orang yang beriman itu tidak bisa melakukan kedzoliman?

Dan apakah Hajjaj ikut mendirikan kekholifahan? Tidak.

Sejak dari zaman Rasulullah negara Islam itu ada. Dia hanya datang setelahnya, ketika penduduknya dzolim walau beriman. Sama seperti kita memahami penjelasan mengenai Nabi Yusuf tadi.

*
Jadi jelas kan maksud memahami perkataan Ibnu Taimiyyah tadi?

Jadi ini adalah khobar, bukan perintah apalagi dalil yang membolehkan untuk memilih pemimpin Kafir.

Masalah khobar jika Allah akan menolong suatu negara yang Adil walaupun Kafir, itu berbeda dengan masalah larangan untuk memilih dan mengangkat pemimpin Kafir.

Allah menolong pezina yang membantu anjing yang kehausan di padang pasir (sebagaimana yang tersebut dalam hadits yang Shohih) itu, berbeda dengan masalah legalitas untuk menjadi Pezina yang jelas jelas dilarang.

Perhatikan dengan benar-benar perbedaan akan hal ini.

Advertisements