Saya akan sedikit bercerita mengenai khuruj dan mimpi.

Dulu sahabat Abdullah bin Zaid rodhiyalloohu ‘anhu pernah bermimpi mengenai cara adzan dengan rangkaian lafal lafalnya.

Setelah mendapatkan mimpi itu, maka beliau melaporkan perihal mimpi itu kepada Rasulullah.

Rasulullah pun kemudian menyetujui bahwa itu mimpi yang berasal dari Allah, dan menetapkan adzan dengan lafal lafal itu sebagai syariat bagi kaum muslimin.

Sunnah seperti ini namanya sunnah taqririyyah, yakni suatu amalan yang disetujui dan ditetapkan Rasulullah sebagai syariat.

*
Apakah semua amalan sahabat disetujui dan ditetapkan oleh Rasulullah sebagai syariat?

Al jawab, tidak.

Terdapat sebagian sahabat yang “saking semangatnya” beramal, menetapkan amalan untuk puasa terus tidak berbuka, sholat malam terus tidak tidur, dan tidak akan menikah selama lamanya.

Mengetahui itu, Rasulullah murka dan mencela amalan yang diada adakan itu.

Bahkan Rasulullah sampai berkata “Man roghiba ‘an sunnatii falaisa minnii” (barangsiapa yang membenci sunnah ku, maka dia bukan dari golongan ku), saking marahnya beliau.

Semoga kita terhindar dari kemurkaan Allah dan Rasul-Nya.

*
Inti pokok dari penjelasan ini,
suatu amalan itu harus mendapatkan persetujuan dari Rasulullah agar bisa disebut sebagai sunnah taqririyyah.

Tidak boleh suatu amalan itu hanya dibuat buat dan ditetapkan sendiri.

Adapun Rasulullah sekarang telah wafat, agama telah sempurna, tidak boleh ditambah tambahi dan dikurangi, ataupun diada adakan sendiri atas dasar klaim mimpi yang didapatkan.

Barangsiapa yang membuat buat suatu amalan baru dengan atas dasar klaim mimpi, maka dia telah menyimpang dari sunnah.

Sebagaimana perkataan Rasulullah “Man roghiba ‘an sunnatii falaisa minnii” (barangsiapa yang membenci sunnah ku, maka dia bukan dari golongan ku)

*
Maka jika ada sebagian firqoh yang berdalil mengenai masalah khuruj, yang diklaim didapatkan oleh pendirinya melalui ilham mimpi.

Yang mana berdasarkan mimpi itu dia melakukan “tafsir bathini” ala Tasawuf pada ayat kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnaas (QS Ali Imron : 110), sebagai dakwah ala khuruj dengan memahami kata “ukhrijat” dalam ayat itu.

Maka dia telah menyimpang dari sunnah Rasulullah.

Belum lagi ini juga ditambah dengan tafsir bathini guna penjelasan teknis masalah khuruj, dengan menetapkan 4 bulan sebagai acuan waktu maksimal untuk khuruj, dengan berdalil pada masalah kata “4 bulan” yang disebutkan pada awal ayat ayat At Taubah (QS At Taubah : 2).

Maka sungguh pemahaman ini telah menyimpang dari sunnah Rasulullah dan konteks kedua ayat tersebut.

Terlebih lagi pemahaman khuruj atas nama dakwah yang berakibat kepada penelantaran keluarga nya ini, bertentangan dengan hadits Rasulullah di bawah sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya

كفى بالمرء إثما أن يضيع من يقوت ( رواه أبو داود، رقم 1692 ، وحسَّنه الشيخ الألباني في ” صحيح الجامع، رقم 4481)

“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa (tatkala) dia menyia-nyiakan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.” [HR. Abu Daud, no. 1692. Dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 4481]

*
Jika dikatakan mereka menelantarkan dan meninggalkan keluarga, berkamuflase dengan alasan dakwah, yang berkaca pada kisah Nabi Ibrahim yang meninggalkan Hajar dan Ismail.

Maka kita katakan :

Mereka tidak mendapatkan wahyu seperti halnya Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu. Dan wahyu telah terputus setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam meninggal.

Yang mana ibunda Hajar ketika ditinggalkan di padang pasir tandus beserta nabi Ismail yang masih bayi bertanya kepada Nabi Ibrahim “Apakah ini perintah Allah?” Dan Nabi Ibrahim membenarkan nya dan inilah wahyu perintah Allah khusus kepada nabi Ibrahim.

Dan hadits Rasulullah ini,

كفى بالمرء إثما أن يضيع من يقوت

“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa (tatkala) dia menyia-nyiakan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.”

Telah membatalkan pemahaman dan manhaj mereka mengenai khuruj.

Hadits ini juga menjelaskan bahwa kisah Nabi Ibrahim meninggalkan ibunda Hajar dan nabi Ibrahim yang masih bayi itu adalah kekhususan perintah Allah kepada Nabi Ibrahim saja.

Bukan suatu perintah untuk semua orang.

Hatta bukan pula untuk Rasulullah dan Ummat nya. Sebagaimana hadits Rasulullah yang menjelaskan berdosanya orang yang menelantarkan keluarga nya tadi.

*
Kita katakan,

Kenapa antum hanya memilih perintah Allah kepada nabi Ibrahim untuk meninggalkan Hajar dan Nabi Ismail saja, dan meninggalkan perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya?

Jika manhaj antum dalam memahami agama ini benar, maka harusnya antum sembelih juga anak antum sebagaimana kisah Nabi Ibrahim

Itulah pemahaman yang memiliki integritas, jika antum “otak atik gathuk” demi membenarkan manhaj dakwah khuruj anda.

Yakni otak atik gathuk dengan cara,
Tidak mengakui bahwa perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk meninggalkan ibunda Hajar dan Nabi Ismail yang masih bayi itu, adalah perintah Allah khusus kepada Nabi Ibrahim saja.

Bukan suatu perintah dan pemahaman untuk semua orang. Hatta bukan pula untuk Rasulullah dan Ummat nya sebagaimana yang telah kita jelaskan tadi.

***

Tanya :

Klo dihubungkan dengan hadits Abu Bakar Ashshidiq Radliyallahu ‘anhu yg menginfaqkan seluruh hartanya gimana Om?

 

Jawab :

Hadits itu imma dimansukh ataupun khusus untuk Abu bakar.

Maksudnya adalah dimansukh atau dikhususkan untuk Abu bakar karena ada ayat sebagai berikut,

ولا تجعل يدك مغلولة الى عنوفك ولا تبسطها كل البسط فتقعد ملوما محسورا

“ Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan ( pula ) engkau terlalu mengulurkannya ( sangat pemurah ) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal“. [QS Al Isra : 29]

Ini yang pertama.

Yang kedua adalah hadits Saad bin Abi Waqqas ingin berwasiat menshodaqohkan seluruh hartanya, maka Rasulullah melarangnya.

Setengah harta, Rasulullah juga melarang.

Hingga sepertiga, baru Rasulullah membolehkan.

Hadits ini Shohih diriwayatkan Bukhori Muslim

 

Tanggapan :

Syukron Jazakallahu khairan

Advertisements