Orang bisa meninggal, namun prinsip akan tetap bisa diwariskan.

Orang bisa tiada, namun manhaj akan tetap bisa diteruskan.

Inilah sebenarnya makna dari perkataan sahabat Rasulullah Abdullah bin Mas’ud rodhiyalloohu anhu, selaku pemuka ulama dari kalangan sahabat.

مَنْ كان مُسْتنَاًّ فَلْيَسْتَنِّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ كَانُوا خَيْرَ هَذِهِ الأُمَّةِ ، وَأَبَرَّهَا قُلُوباً ، وَأََعْمَقَها عِلْماً ، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا ، قَوْمٌ اِخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَة نَبِيِّهِ وَنَقْلِ دِيْنِهِ فَتَشَبَّهُوْا بِأََخْلاَقِهِمْ وَطَرَائِقِهِمْ ؛ فَهُمْ كَانُوا عَلَى الهَدْيِ المُسْتَقِيمِ (أخرجه البغوي في شرح السنة)

“Siapa yang ingin mengikuti ajaran tertentu, hendaklah ia mengikuti ajaran orang yang telah wafat, yaitu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka ialah sebaik-baik umat ini. Hati mereka paling baik, ilmu mereka paling dalam, dan mereka paling tidak suka berlebihan (takalluf) dalam beragama.

Merekalah kaum yang dipilih Allah untuk menjadi pendamping Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menyampaikan dien-Nya.

Maka tirulah akhlak dan tingkah laku mereka, karena mereka selalu berada di atas petunjuk yang lurus” (Diriwayatkan oleh Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah).

***
Pemahaman seperti ini sepertinya susah difahami oleh para pendukung Hizbiyyah, yang pemahaman dan aplikasi beragama nya bergantung kepada sikap resmi para pemimpinnya, Harokah nya, dan Tandzim nya.

Bagaimana mungkin memahami agama hanya dengan berdasarkan riwayat, hadits, dan atsar Salaf yang dikumpulkan ulama Ahlul Hadits yang sudah meninggal?

Bagaimana mungkin memahami agama hanya berdasarkan kitab kitab induk Aqidah dan manhaj Salaf, yang ditulis oleh para ulama Salaf dengan berdasarkan riwayat mereka, yang mana mereka semua sudah meninggal?

Bagaimana mungkin kita mau mengembalikan pemahaman agama dan garis garis perjuangan kepada ulama kontemporer, yang walau beliau masih hidup, namun kerjaan nya hanya selalu berpegang teguh mengikuti riwayat, buku, dan perkataan orang yang sudah mati?

Kita ini bukan perpustakaan berjalan.

Berpegang kepada sanad transmisi dan kembali ke penjelasan di buku yang menjelaskan mengenai pokok pokok Aqidah dan Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu kuno.

Bagaimana mungkin meletakkan garis garis perjuangan kepada perkataan orang yang sudah mati?

Yang benar itu garis garis perjuangan dan pemahaman agama itu harus bergantung kepada organisasi dan Harokah mana yang kita ikuti.

Paling nggak minimal jadi fans dan pendukung nya yang ber intisab kepada organisasi dan Harokah itu, jika tidak bisa menjadi anggota dan kader resmi

Nggak ada orang Islam yang tidak berafiliasi kepada suatu Organisasi dan Harokah tertentu. Paling tidak sebagai pendukung dan fans.

Hanya berafiliasi kepada manhaj, riwayat, dan atsar ini non sense. Kita itu harus Hizbi.

***
Kenapa anda mau mengikuti perkataan Rasulullah kalau begitu?

Bukankah beliau juga sudah meninggal?

Bukankah Al Qur’an dan As Sunnah juga memerintahkan untuk mengikuti Sahabat, walaupun mereka semua sudah meninggal?

Inilah yang namanya mengikuti manhaj Salaf wahai saudaraku

Advertisements