Di antara perkara Aqidah mengenai syafaat, adalah mengimani masalah syafaat antara sesama kaum muslimin.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَوَالَّذِى نَفْسِي بِيَدِهِ! مَا مِنْ أَحَدٍ مِنْكُمْ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً للهِ فِى اسْتِضَاءَةِ الْحَقِّ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ للهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لإِخْوَانِهِمُ الَّذِيْنَ فِى النَّارِ. يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! كَانُوْا يَصُوْمُوْنَ مَعَنَا وَيُصَلُّوْنَ وَيَحُجُّوْنَ. فَيُقَالُ لَهُمْ : أَخْرِجُوْا مَنْ عَرَفْتُمْ. فَتُحَـرَّمُ صُـوَرُهُمْ عَـلَى النَّارِ. فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا قَدْ أَخَذَتِ النَّاُر إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! مَا بَقِيَ فِيْهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ. فَيَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِيْنَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! لَمْ نَذَرْ فِيْهَا أَحَدًا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ. ثُمَّ يَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ نِصْفِ دِيْنَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! لَمْ نَذَرْ فِيْهَا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا أَحَدًا. ثُمَّ يَقُوْلُ : اِرْجِعُوْا! فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوْهُ! فَيُخْرِجُوْنَ خَلْقًا كَثِيْرًا. ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا!ْ لَمْ نَذَرْ فِيْهَا خَيْرًا.
وَكَانَ أَبُوْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ يَقُوْلُ: إِنْ لَمْ تُصَدِّقُوْنِي بِهَذَا الْحَدِيْثِ فَاقْرَأُوْا إِنْ شِئْتُمْ : (إَنَّ اللهَ لاَيَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا) من سورة النساء : 40 – الحديث.- رواه البخاري ومسلم-.

“Demi Allah Yang jiwaku ada di tanganNya. Tidak ada seorangpun diantara kamu yang lebih bersemangat di dalam menyerukan permohonannya kepada Allah untuk mencari cahaya kebenaran, dibandingkan dengan kaum Mu’minin ketika memohonkan permohonannya kepada Allah pada hari Kiamat untuk (menolong) saudara-saudaranya sesama kaum Mu’minin yang berada di dalam Neraka.

Mereka berkata : “Wahai Rabb kami, mereka dahulu berpuasa, shalat dan berhaji bersama-sama kami”.

Maka dikatakan (oleh Allah) kepada mereka : “Keluarkanlah oleh kalian (dari Neraka) orang-orang yang kalian tahu!”

Maka bentuk-bentuk fisik merekapun diharamkan bagi Neraka (untuk membakarnya). Kemudian orang-orang Mu’min ini mengeluarkan sejumlah banyak orang yang dibakar oleh Neraka sampai pada pertengahan betis dan lututnya.

Kemudian orang-orang Mu’min ini berkata: “Wahai Rabb kami, tidak ada lagi di Neraka seorangpun yang engkau perintahkan untuk mengeluarkannya”.

Allah berfirman : “Kembalilah! Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat satu dinar, maka keluarkanlah (dari Neraka)!”

Maka merekapun mengeluarkan sejumlah banyak orang dari Neraka. Kemudian mereka berkata lagi : “Wahai Rabb kami, tidak ada lagi seorangpun yang kami sisakan dari orang yang Engkau perintahkan untuk kami mengeluarkannya”.

Allah berfirman : “Kembalilah! Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat setengah dinar, maka keluarkanlah (dari Neraka)”. Merekapun mengeluarkan sejumlah banyak orang.

Selanjutnya mereka berkata lagi : “Wahai Rabb kami, tidak ada seorangpun yang Engkau perintahkan, kami sisakan (tertinggal di Neraka)”.

Allah berfirman: “Kembalilah! Siapa saja yang kalian dapati di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji dzarrah, maka keluarkanlah (dari Neraka)”. Maka merekapun mengeluarkan sejumlah banyak orang.

Kemudian mereka berkata : “Wahai Rabb kami, tidak lagi kami menyisakan di dalamnya seorangpun yang mempunyai kebaikan”.

Pada waktu itu Abu Sa’id al Khudri mengatakan: “Apabila kalian tidak mempercayai hadits ini, maka jika kalian suka, bacalah firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak menzhalimi seseorang meskipun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar”. (QS an Nisaa’ : 40)”.

[HR. Bukhari dan Muslim]

Hadits ini Shohih, dan wajib bagi kita untuk mengimani adanya syafaat di antara sesama kaum Muslimin ini.

Karena sebagian kaum muslimin ada yang masuk surga duluan, dan ada juga yang “mampir” dulu ke neraka untuk dihukum dosa dosanya terlebih dahulu.

Hadits ini berbicara mengenai syafaat untuk kaum muslimin pendosa yang mampir dulu ke neraka.

***
Hadits ini untuk pemahaman Amaliyyah nya adalah, hendaknya kita banyak banyak berteman dengan orang yang sholeh. Karena hadits itu berkata,

يَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا! كَانُوْا يَصُوْمُوْنَ مَعَنَا وَيُصَلُّوْنَ وَيَحُجُّوْنَ

Mereka berkata : “Wahai Rabb kami, mereka dahulu berpuasa, shalat dan berhaji bersama-sama kami”.

Sehingga mafhumnya adalah memperbanyak teman yang beriman dan suka beramal sholeh.

Ini sesuai dengan perkataan Imam Al Hasan Al Bashri mengenai hal ini,

استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة. [تفسير البغوي جـ8 صـ340]

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” [Disebutkan riwayat nya dalam tafsir Al Baghowi (ma’alimut tanzil) , Juz 8, halaman 340]

***
Di sini ada sedikit musykilah ketika kita mencoba memahami apa dikatakan Ibnul Jauzi rahimahullah (bukan Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah ya).

Beliau berkata :
إن لم تجدوني في الجنة بينكم فاسألوا عني وقولوا : يا ربنا عبدك فلان كان يذكرنا بك

”Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Tuhan kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.” Kemudian beliau menangis.

Demikian perkataan Ibnul Jauzi.

Saya sendiri berusaha mencari cari sumber rujukan dari kitab mana beliau berkata, dan saya belum menemukannya.

Apakah di kitab beliau Shoidul Khothir atau yang lain, saya belum menemukan nya. Mungkin saya kurang “piknik”…

Tetapi yang jelas perkataan itu masyhur dinisbatkan kepada beliau.

Sikap meminta syafaat bagi orang yang masih hidup, dengan “titip pesan” seperti itu tampaknya mulai ngetrend di masyarakat kita sekarang ini.

Baik itu dari sang ustadz yang titip pesan kepada jamaah pengajian nya, ataupun jamaah pengajian yang titip pesan kepada ustadz nya.

Bolehkah kita mengkritisi fenomena yang ada dan mulai ngetrend ini?

Tentu saja boleh asalkan ilmiah.

***
Ketika hadits itu dikabarkan oleh Rasulullah, tidak ada para sahabat yang kemudian saling memberikan wasiat agar nanti menanyakan kepada Allah perihal dirinya jika tidak menemukan di surga dengan berdasarkan hadits ini.

Tidak juga para Tabi’in.
Tidak juga para Tabiut Tabi’in.
Tidak juga para imam empat Madzhab.

Hingga kemudian Ibnul Jauzi mengatakan hal itu secara “insidental”, dan tidak bertujuan agar para jamaah melazimkan meniru hal yang beliau lakukan itu.

Sikap ini juga tidak diikuti oleh para ulama sezaman dengan Ibnul Jauzi ataupun ulama setelahnya, dalam memahami hadits itu.

Baik Imam Nawawi, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Ibnu Katsir, Adz Dzahabi, Ibnu Hajar, dan lain lain tidak tercatat melakukan hal tersebut dalam memahami hadits itu

Jadi “ungkapan khouf dan sikap Tawadhu” dari Ibnul Jauzi ini sepertinya hanya merupakan perkara insidental, bukan sengaja untuk diajarkan agar dilazimkan seperti itu, dan perkara ini merupakan udzur bagi beliau jika benar hal ini dinisbatkan kepada beliau.

***
Kenapa hal ini dipermasalahkan?

1. Karena hadits tadi berbicara mengenai syafaat yang akan terjadi besok di hari kiamat, sedangkan kita masih hidup di dunia ini.

2. Hadits itu sebenarnya hanya masalah khobariyyah, bukan suatu amaliyah agar kita saling titip pesan ketika di dunia.

3. Dan yang paling penting adalah kita tidak mengetahui, apakah kita meninggal sebagai orang yang beriman ataukah catatan taqdir mendahului kita meninggal sebagai orang yang tidak beriman. Na ‘udzu billaahi min dzaalik.

Ini karena Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

عن أبي عبدالرحمن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق ” إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم علقه مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك , ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح , ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه , وأجله , وعمله , وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة

Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda, – dan beliau adalah orang yang jujur dan dibenarkan –

“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 hal: rezeki, ajal, amal dan celaka/bahagianya.

Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka.

Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Bad’ul Khalq)

***
Hadits di atas mengajarkan kepada kita kaidah berkaitan dengan masalah Aqidah,

“Tidak boleh memastikan seseorang yang masih hidup secara ta’yin definitif sebagai penghuni surga atau neraka, karena kita tidak mengetahui bagaimana akhir hidupnya kecuali dengan berdasarkan kabar dari Allah dan Rasul-Nya”.

Adapun jika hanya secara umum saja, dengan tanpa mengarahkan secara definitif kepada individu tertentu, maka hal itu tidak mengapa. Seperti perkataan “Orang Islam itu pasti masuk surga, sedangkan orang kafir itu pasti masuk neraka”, hal ini tidak mengapa.

***
Adapun yang kita permasalahkan dengan fenomena trend yang terjadi, karena hal itu memastikan seseorang masuk surga tanpa adanya kabar khusus mengenai orang tersebut dari Allah dan Rasul-Nya.

Dan juga ini karena termasuk dalam meminta syafaat kepada orang yang masih hidup berkaitan dengan masalah akhirat.

Baik ustadz yang meminta syafaat kepada jamaah nya, berarti dia memastikan jamaah nya atau salah satunya pasti akan masuk surga. Dan juga sang ustadz memastikan dirinya pasti akan meninggal sebagai muslim, dengan tanpa mengetahui apa yang Allâh takdir kan pada akhir hayatnya.

Demikian juga sebaliknya, jika para jamaah titip pesan kepada Ustadz nya. Maka ini berarti memastikan sang Ustadz pasti masuk surga, dengan tanpa mengetahui apa yang Allâh takdir kan pada akhir hayatnya.

Jadi Aqidah Ahlus Sunnah itu selain tidak boleh memastikan seseorang masuk neraka atau surga dengan tanpa dalil, dia itu juga harus menjalani hidup nya dengan khouf (rasa takut) dan roja (rasa harap) dengan bergantung sepenuhnya kepada Allah sembari melakukan amalan yang Allah dan Rasul-Nya perintah kan.

***
Sebenarnya yang cocok dalam memahami hal ini adalah hadits “anta ma’a man ahbabta” (Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai).

Mari kita perhatikan hadits di bawah ini.

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata:

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Kapankah hari kiamat terjadi wahai Rasulullah?”

beliau menjawab, “Apa yang telah kau persiapkan untuknya?”

Laki-laki itu menjawab, “Aku tidak mempersiapkan banyak shalat, puasa, ataupun sedekah, namun aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Maka beliau bersabda: “Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.” (HR. Al-Bukhari no. 5705 dan Muslim no. 2639)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya,

“Ya Rasulullah, bagaimana menurut anda tentang seseorang yang mencintai suatu kaum namun dia tidak bisa menjangkau (amalan saleh) mereka?”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dia cintai.” (HR. Al-Bukhari no. 5703 dan Muslim no. 2640)

***
Hadits inilah yang difahami dan langsung diamalkan oleh para Sahabat, para ulama Salaf, dan orang orang yang mengikuti mereka dengan Ihsan.

Mereka tujukan cinta mereka kepada orang orang yang benar-benar dijamin masuk surga dengan berdasarkan dalil khobar yang khusus ditujukan kepada mereka. Ini sepertinya mencintai Rasulullah, khulafaur Rasyidin, dan sisa dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

Bahkan hadits anta ma’a man ahbabta ini dikalangan Ahlul Hadits dan riwayat, dijadikan hadits musalsal bil mahabbah.

Yakni hadits yang bersambung sanadnya hingga ke Rasulullah, dengan harapan orang yang mendapatkan ijazah sanad periwayatab musalsal bil Mahabbah ini, bisa bersama sama dengan orang yang tersambung riwayat nya dengan kecintaannya sampai ke Rasulullah.

***
Namun tentu saja sanad dan ijazah periwayatan itu tidak ada gunanya kalau hanya sekedar mengklaim cinta, namun ternyata manhaj nya menyimpang dan amalan nya penuh dengan kebid’ahan yang bertentangan dengan sunnah.

Abu Tholib jelas mencintai Rasulullah, dan Rasulullah juga jelas mencintai beliau. Namun kecintaan beliau tidak menyebabkan beliau masuk surga bersama sama dengan Rasulullah.

Jadi yang penting itu adalah benar-benar mengikuti Rasulullah dan sunnah nya sebagai bukti kecintaan kita.

***
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Baarokalloohu fiik

Advertisements