Wanita itu dipilih karena kecantikan nya, harta nya, nasab nya, atau karena agamanya.

Demikianlah kurang lebih kondisi para pemilih itu.

Jadi memang ada yang pemilih psikologis, ada yang pemilih rasional, ada yang pemilih sosiologis, dan ada yang pemilih akhirat.

****
Menimbang, menilai, dan berpegang kepada manhaj dalam memahami agama pun, kurang lebih ada juga orang yang memiliki tipe-tipe seperti itu.

Jadi tidak semua orang itu lebih suka memilih akhirat, dan tidak semua orang lebih suka memilih kemurnian dalam memahami agama.

Dalil, sunnah, dan atsar baginya bukan parameter utama. Yang lebih dia butuhkan hanyalah pendekatan yang sesuai dengan kecenderungan nya saja.

Namun memang selama syariat dan sunnah tidak melarang, maka metode pendekatan dakwah yang sesuai dengan kecenderungan orang itu boleh ditempuh.

***
Namun Apakah Syaitan dan mukholif (orang yang menyelisihi manhaj) akan diam saja dengan hal ini?

Tentu saja tidak.

Kondisi para pemilih dengan berbagai macam tipe nya itu, juga akan diberikan syubhat agar menjauhi dan membenci manhaj yang haq ini, sesuai dengan pendekatan tipe tipe kecenderungan tersebut.

Akibatnya bagi orang yang hanya berpegang kepada kondisi kecenderungan psikologis nya (baca : baper), akan dihembuskan syubhat psikologis bahwa pengikut manhaj Salaf itu begini dan begini.

Suka memberikan julukan Talafy, Murji’ah, Mulukiyyah, dan umpatan kepada pengikut manhaj Salaf, yang bikin orang yang mengikuti karena hanya cenderung kepada psikologis menjadi keder.

Bagi yang lebih cenderung rasional dihembuskan syubhat bahwa berpegang teguh dengan sunnah dan manhaj itu seperti orang bodoh. Kaku. Dan tidak mau menyesuaikan diri demi kepentingan Islam.

Bagi yang lebih cenderung ke sosiologis dihembuskan syubhat bahwa pengikut manhaj Salaf itu benci persatuan. Mereka Khowarij kepada para Da’i yang menyimpang manhaj nya, dan murjiah kepada pemerintah yang dzolim.

Dan seterusnya.

***
Adapun nasehat bagi yang memahami manhaj Salaf hanya dengan berdasarkan kecenderungan psikologis, rasionalis, dan sosiologis semata.

Hendaklah mulai menempuh memahami manhaj Salaf karena dalil dan atsar nya. Mulai menempuh memahami manhaj Salaf karena mencintai kemurnian nya.

Di bini dulu baru dibina itu memang tidak masalah. Tapi jangan lupa, benar benar di bina setelahnya.

Jangan hanya sekedar mengumpulkan orang untuk mengenal manhaj Salaf saja, tapi dibiarkan sesuai dengan kecenderungan masing-masing dan lupa dibina.

Orang orang tipe seperti ini mangsa empuk bagi mukholif yang juga mengaku ngaku bermanhaj Salaf.

Padahal mereka para mukholif itu sebenarnya hanyalah maling manhaj.

Yang mana mereka hanya mengambil apa apa dari manhaj Salaf yang sesuai dengan kepentingan manhaj mereka. Sedangkan yang bertentangan, mereka buang atau sembunyikan.

Sehingga tampaklah bahwa seakan akan mereka itu juga berpegang kepada manhaj Salaf, padahal sebenarnya mereka adalah maling manhaj.

Dan para orang orang galau dari pemilih psikologis, rasionalis, dan sosiologis terhadap manhaj Salaf adalah target operasi dari penyimpangan manhaj mereka

Advertisements