Dalam salah satu tulisan di website ustadz Aris Munandar :

“Karena demikian mengikat gerak gerik anggota pengajiannya sangatlah tepat jika berbagai gerakan dakwah (baca: harokah) yang ada di medan dakwah saat ini disebut sebagai shufiyyah ‘ashriyyah.

Dalam dalam sufi, murid yang baik adalah murid yang memiliki ketaatan kepada guru sebagaimana ketaatan jenazah di hadapan orang-orang yang memandikannya.

Sedangkan orang-orang yang terikat dengan berbagai berbagai gerakan dakwah saat ini akan dinilai sebagai anggota yang loyal ketika memiliki ketaatan yang membabi buta kepada amir, imam jamaah, qiyadah, naqib dan murabbi.

Sehingga untuk menikah dengan perempuan yang sudah terikat dengan pengajian semacam ini langkah awalnya adalah meminta izin dan restu murabbi dulu baru datang ke orang tua si perempuan.

Sungguh ini adalah suatu ajaran aneh yang tidak pernah dikenal oleh syariat.”

Sumber : http://ustadzaris.com/mempertanyakan-ngaji-dengan-sururi

****
Biasanya pengikut manhaj hizbiyyah seperti ini juga suka untuk mengikuti kajian kajian Salafiyyah.

Motivasi nya bermacam macam.

Bisa karena murni ingin mencari ilmu, alhamdulillah. Ingin memahami manhaj Salaf, alhamdulillah. Atau karena suka bergaul dengan orang orang yang mencoba untuk iltizam berpegang kepada sunnah dan manhaj Salaf.

Bisa juga karena didorong pemahaman usaha taqrib bainal manhaj (mendekatkan manhaj yang berbeda) dan pemahaman persatuan semu, na’udzubillaah. Bisa juga karena memang disuruh oleh organisasi nya untuk menyusup dan mengamati perkembangan dakwah Salafiyyah.

Semua orang dengan motivasi yang bermacam macam itu, disambut dengan tangan terbuka untuk mengikuti kajian Sunnah.

Kita hanya melihat dari dhohir nya saja, semua orang berhak untuk mendapatkan dakwah dan pemahaman mengenai manhaj Salaf, adapun apa yang tersembunyi di balik hatinya kita kembalikan kepada Allah Sang pembolak balik hati manusia.

Banyak kok orang yang mulanya niatnya buruk dan benci kepada dakwah Salafiyyah, Allah berikan hidayah faham seperti apa manhaj Salaf itu yang sebenarnya, faham doktrin dan gambaran buruk mengenai manhaj Salaf itu sebenarnya hanyalah syubhat yang menipu, dan akhirnya meninggalkan Harokah hizbiyyah yang semula dia ikuti.

***
Mau disusupi atau tidak disusupi, semua itu tidak masalah. Karena dakwah Salafiyyah itu bukan dakwah hizbiyyah.

Hanya saja ketika fitnah menimpa, maka biasanya akan terlihat siapa yang berusaha berpegang kepada manhaj Salaf, dan terlihat juga yang hanya merupakan penyusup hizbiyyah yang berusaha semakin memperkeruh fitnah yang terjadi.

 

***

Tanya :

Afwan, syaikh menyebutkan si blognya ustadz aris boleh mengambil faidah dan kebenaran, namun klau telah diketahui kalau mereka adalah sururi dan haroki apa tetap boleh duduk di majlisnya?

 

Jawab :

Hukum asalnya tidak boleh, andaikata boleh maka itu dengan syarat atau catatan.

Dalil akan hal ini adalah kisah Abu Huroiroh yang Rasulullah tugaskan menjaga Zakat dalam Shohih Bukhori Muslim.

Yang mana Abu Huroiroh bertemu dengan syaitan yang menyamar dan berusaha mencuri harta zakat.

Ketika tertangkap dia mengajarkan Abu Huroiroh keutamaan membaca ayat kursi sebelum tidur, sebagai ganti agar dia tidak dibawa menghadap Rasulullah.

Abu Huroiroh waktu itu tidak tahu bahwa dia sebenarnya adalah Syaitan. Hingga Rasulullah pun kemudian memberitahunya bahwa dia adalah Syaitan yang menyamar.

Setelah tahu bahwa itu adalah syaitan yang sudah dibongkar penyamarannya, maka apakah itu berarti Abu Huroiroh tetap dibolehkan mengambil faedah dari syaitan??

Al jawab tentu tidak boleh.

Demikianlah keadaannya jika seseorang telah diketahui bahwa dia adalah Haroki atau sururi. Maka jangan duduk lagi di majlis nya.

Dan andaikata boleh pun, maka itu dengan catatan dan syarat. Jadi bukan difahami boleh mutlak

 

Tanya :

Contohnya mas dengan catatan?

 

Jawab :

Misal :
Di daerah itu tidak ada lagi guru kecuali beliau dalam mengajar Qiroat, sedangkan dia manhaj nya bermasalah.

Karena Qiroat tidak berhubungan langsung dengan manhaj, maka tidak mengapa mengambil ilmu Qiroat darinya.

Misal lain,
para ulama Ahlul Hadits membolehkan untuk mengambil riwayat Ahlul Bid’ah asalkan memenuhi 2 syarat sbb :
1. Dia tsiqoh dan dhobt. Bukan pendusta.
2. Hadits yang dia riwayat kan tidak berhubungan dengan penyimpangan Aqidah dan manhaj nya.

Nah perowi seperti ini boleh diambil riwayat nya, walaupun manhaj dan Aqidah nya menyimpang.

Ini sebagaimana para ulama Ahlul Hadits mengambil periwayatan hadits dari Khowarij.

***
Kira kira sudah faham kan akh?

Memang sih sebenarnya “term and condition” tiap tiap orang itu beda beda karena sesuai dengan sikon tiap tiap orang.

Orang yang faham manhaj dan cukup memiliki bekal ilmu, tentu beda dengan orang yang baru belajar.

Maka dari itu yang paling selamat sebenarnya adalah meninggalkan nya. Ini juga sesuai dengan qoidah fiqh dar-ul mafaasid muqoddamun ‘ala jalbil mashoolih (meninggalkan kerusakan itu lebih diutamakan daripada mengambil maslahat).

Ustadz Kibar juga sering memberi contoh seperti ini karena faham kondisi umat yang mudah terkena syubhat, dan masih belum punya pondasi ilmu serta manhaj yang kuat.

Beliau misal biasanya berkata pendek saja, ” Hizbi. Tinggalkan”.

 

Tanggapan :

Itulah, kalau saya pribadi tinggalkan, cuman bingung saja dengan catatan dan syarat, syukran lek jazaakallah khair

 

Penanya lain :

Seorang dai disamakan dengan syaiton? Mohon maaf, boleh dijelaskan?

 

Jawab :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا

“Akan muncul dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam, barangsiapa yang menerima seruan mereka maka mereka akan menjerumuskannya ke dalam jahannam”.

[HR Bukhori dan lainnya. Potongan dari hadits Hudzaifah yang panjang]

Advertisements