Nabi Musa ‘alaihis salaam sebagai manusia biasa, takut terhadap kekuasaan Fir’aun.

Maka dari itulah jihad dengan cara berkata yang haq di sisi penguasa itu, adalah dengan benar benar face to face berhadapan muka dan berdiksusi dengan penguasa, sebagaimana yang diperintahkan Allah dan yang dilakukan Nabi Musa ‘alaihis salaam.

Bukan dengan demo dan memprovokasi rakyat dulu agar bisa menghadap penguasa.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر

“Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di sisi penguasa zhalim” [Hr. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah]

Bisakah nabi Musa demo dan memprovokasi rakyat bani Israil? Bisa.

Kenapa itu tidak dilakukan? Karena bukan itu perintah Allah.

Bukan perintah Allah? Ya, bukan perintah Allah.

Allah memerintahkan agar langsung menghadap Fir’aun. Bukan menggalang kekuatan dan melakukan usaha Perlawanan dulu.

إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى. فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS Thaahaa, 43-44)

Dan jika kita perhatikan lagi ayat di atas secara detail, yang Allah perintahkan adalah berdua yakni Nabi Musa dan Nabi Harun. Bukan Nabi Musa sendiri saja. Namun juga didampingi oleh Nabi Harun.

Kenapa?
Karena Nabi Musa memiliki kekurangan di lidahnya, dan diharapkan kefasihan lisan Nabi Harun dapat menutupi kekurangan beliau.

Selain itu juga agar Nabi Harun dapat memperkuat Nabi Musa alaihis Salaam, agar tidak takut dalam menasehati dan berdialog menghadapi Fir’aun.

***
Dari tadi bilang takut, takut, takut….

Emang benar, Nabi Musa alaihis salaam takut kepada Fir’aun dan kekuasaannya?

Ya, Nabi Musa dengan tabiat nya sebagai manusia biasa, takut kepada kekuasaan Fir’aun. Dan ini Allah sebutkan dalam firman Nya,

فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا الَّذِي اسْتَنْصَرَهُ بِالْأَمْسِ يَسْتَصْرِخُهُ ۚ قَالَ لَهُ مُوسَىٰ إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ

Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)” [QS Qoshosh : 18]

Ayat di atas berkisah mengenai takutnya Nabi Musa alaihis salaam kepada kekuasaan Fir’aun, ketika Nabi Musa bersalah memukul penduduk Mesir yang berseteru dengan bani Israil hingga tewas dengan sekali pukulan saja.

Yang mana pukulan itu sebenarnya tidak dimaksudkan untuk membunuhnya. Nabi Musa pun pergi dari Mesir karena takut akan kekuasaan Fir’aun.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”. [QS Qoshosh : 21]

Ketakutan Nabi Musa akan kekuasaan Fir’aun ini, juga diakui sendiri oleh Nabi Musa alaihis salaam. Nabi Musa mengatakan mengenai hal ini, ketika terjadi audiensi menghadap langsung kepada Fir’aun bersama Nabi Harun, dalam melaksanakan perintah Allah sebagai bentuk Afdholul Jihad (seutama utama jihad).

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ

Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. [QS Asy Syukron :21]

Ini point awal yang harus kita fahami terlebih dahulu.

***
Point kedua,

Bahkan Nabi Musa alaihis salaam ketika akan menghadap Fir’aun, juga merasa takut dengan kekuasaan Fir’aun. Yakni takut untuk didustakan dan dibunuh.

Maka Nabi Musa meminta agar Nabi Harun Allah jadikan sebagai pendamping nya dalam menemui Fir’aun. Ini juga untuk menutupi kekurangan Nabi Musa, di dalam masalah kelancaran lisan beliau.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ
وَيَضِيقُ صَدْرِي وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِي فَأَرْسِلْ إِلَىٰ هَارُونَ
وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْبٌ فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun. Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku”. [QS Asy syu-aroo : 12-14]

Allah subhaanahu wa ta’aala pun berfirman memerintahkan nabi Musa agar jangan takut di ayat selanjutnya,

قَالَ كَلَّا ۖ فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا ۖ إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُونَ

Allah berfirman: “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan). [QS Asy syu-aroo : 15]

Bahkan walaupun sudah didampingi oleh Nabi Harun, mereka berdua tetap takut dan khawatir terhadap kekuasaan Fir’aun.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

قَالَا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَىٰ
قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

Berkatalah mereka berdua: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas”. Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”. [QS Thaha : 45-46]

Jadi ada dua ketakutan yang harus dihadapi oleh Nabi Musa dalam melaksanakan Afdholul Jihad (seutama utama jihad) ini, yakni :

1. Takut didustakan
2. Takut dibunuh

Dua point yang harus dihadapi dalam Afdholul Jihad (seutama utama jihad) ini, harus benar-benar kita fahami.

***
Demikianlah Kondisi Nabi Musa dan Nabi Harun ketika akan menghadap Fir’aun secara langsung, face to face.

Mereka juga mengalami rasa takut dan khawatir, baik itu takut perkataan tidak akan dianggap (baca : didustakan) dan dibunuh.

Sekali lagi,
Mereka juga mengalami rasa takut dan khawatir, karena takut perkataan tidak akan dianggap (baca : didustakan) dan dibunuh. Maka apalagi kita yang bukan Nabi dan Rasul.

Namun demikianlah perintah dan cara yang Allah kehendaki.

Bukan dengan cara demo, provokasi, menggalang kekuatan, dan melakukan usaha Perlawanan dulu agar perkataan kita mau didengar, diterima, tidak dianggap sepele, dan tidak didustakan oleh Fir’aun.

Kenapa takut didustkan itu juga disebut selain takut dibunuh?
Ini karena manhaj dalam menasehati penguasa itu hanya menyampaikan kebenaran saja. Yakni menjelaskan, diskusi, dan memahamkan.

Bukan untuk memaksakan bahwa kebenaran yang kita sampaikan itu harus diterima oleh penguasa, dan jika tidak maka akan diancam dengan revolusi untuk memakzulkannya.

Mana perkataan Rasulullah bahwa menyampaikan perkataan Haq kepada penguasa itu, harus diterima oleh penguasa? Dan jika tidak diterima maka harus dipaksa dengan ancaman dan pemakzulan?

Mana? Tidak ada bukan?

Bahkan Nabi Musa ‘Alaihis salaam saja tidak mengancam dan menekan seperti itu kepada Fir’aun. Sekali lagi, bahkan Nabi Musa ‘Alaihis salaam saja tidak mengancam dan menekan seperti itu kepada Fir’aun.

Namun ketika Fir’aun menolak dan mendustakan audiensi dan dakwah Nabi Musa, apakah itu berarti Afdholul Jihad (seutama utama jihad) yang dilakukan Nabi Musa itu batal?

Tentu tidak.

Walaupun dakwah dan kalimat yang Haq yang disampaikan Nabi Musa itu tidak didengar, tidak dianggap, disepelekan, dan didustakan oleh Fir’aun. Namun Afdholul Jihad (seutama utama jihad) nya itu sah dan selesai.

Tidak ada yang namanya harus dengan mengancam dan menekan bahwa jika tuntutannya tidak diterima, maka akan dilakukan revolusi untuk memakzulkannya.

Ini seperti penjelasan Rasulullah yang lain mengenai detail target dari Afdholul Jihad (seutama utama jihad) itu.

Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَّةً وَلَكِنْ لَيَأْخُذَ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang ingin menasihati sulthan (pemimpin kaum muslimin) tentang satu perkara, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangannya secara menyendiri (untuk menyampaikan nasihat).

Bila sulthan tersebut mau mendengar nasihat tersebut, maka itu yang terbaik. Dan bila sulthan tersebut enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia (si penasihat) telah melaksanakan kewajibannya yang dibebankan kepadanya” [HR. Ahmad no. 15369, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 1096-1098, dan Al-Hakim no. 5269; shahih lighairihi].

Sampai di sini moga moga sudah faham dulu. Kalau perlu ulang ulangilah membaca penjelasan ini.

***
Setelah memahami penjelasan di atas, faham lah kita kenapa Rasulullah sampai berkata bahwa Afdholul Jihad (seutama utama jihad) itu dilanjutkan dengan perkataan ‘inda Sulthon ( عند سلطان), atau benar benar face to face di hadapan penguasa.

Orang yang faham bahasa Arab akan faham maksud dari kata ‘inda (عند ) yang dikatakan Rasulullah ini.

Jadi, bukan di jalanan atau medsos guna menekan pemerintah untuk memenuhi keinginan mereka, sembari mengancam akan melakukan revolusi untuk memakzulkan nya jika tidak dipenuhi tuntutannya.

Bukan pula dengan teriak-teriak dan mengancam, karena bukan ini yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Musa.

Hah, sampai permasalahan cara agar tidak dengan teriak-teriak dan mengancam juga disebutkan Allah?

Ya, permasalahan cara Afdholul Jihad (seutama utama jihad) yang dilakukan nabi Musa itu juga disebutkan dengan terperinci perintahnya oleh Allah subhaanahu wa Ta’ala.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى. فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS Thaahaa, 43-44)

Jadi sikap teriak-teriak dan mengancam atau memprovokasi, baik di jalanan atau di medsos itu, berlawanan dengan Afdholul Jihad (seutama utama jihad) yang dilakukan nabi Musa.

***
Tapi sebenarnya kalau kita lihat di zaman sekarang ini, Afdholul Jihad (seutama utama jihad) relatif lebih mudah dilakukan melalui laporan pengadilan dibandingkan pada zaman Nabi Musa.

Jika ada bukti yang kuat mengenai tindak pidana yang dilakukan penguasa, maka silakan laporkan ke pengadilan.

Jika ada bukti kuat mengenai tindak korupsi, maka laporkan ke KPK.

Jika ada bukti kuat mengenai penyimpangan konstitusi, silakan laporkan ke MK (Mahkamah Konstitusi).

Jika ada bukti kuat mengenai berbagai hal yang memerlukan arbitrase Internasional, maka silakan laporkan ke Mahkamah Internasional.

Hal ini relatif lebih mudah dan lebih efektif untuk melakukan Audiensi dengan pihak pemerintah guna Afdholul Jihad. Namun dengan tanpa harus melakukan demo, provokasi, dan penggalangan masa tentu saja.

Jika dikatakan, ah terlalu naïf. Kayak nggak faham masalah mafia peradilan saja. Paling dipelintir sana sini agar tuntutan kita tidak diterima, disepelekan, dan didustakan.

Salah-salah juga nanti kita malah jadi korban pembunuhan via pembunuh bayaran. Atau ditekan, dibully, dan diteror dimana-mana yang menghancurkan kehidupan kita. Dan ancaman ini kadang sadis. Tidak hanya terkena diri kita saja, tapi juga akan kena kepada keluarga yang kita cintai juga.

Keluarga kita juga tidak akan lepas dari usaha pembunuhan dan terror. Gimana? Jangan naïf makanya….

Lho-lho-lho……
Tunggu dulu mas…..

Antum kira yang namanya Afdholul Jihad (seutama-utama jihad) itu cukup hanya dengan jalan bareng di jalanan, menyuarakan tuntutan, dan kadang sambil selfie-selfie?

Cukup ketak-ketik di medsos, sambil bilang like and share sebanyak-banyaknya?

Cukup dengan ngeyel dalam menuduh, framing teori konspirasi, dan memaksa agar diterima tuntutannya jika tidak dituntut akan dimakzulkan dengan seruan revolusi?

Itu yang namanya Afdholul Jihad (seutama-utama Jihad)?

Kalau itu dinamakan sebagai Afdholul Jihad, maka anak kecil saja juga bisa.

Padahal Nabi Musa dalam melakukan Afdholul Jihad (seutama utama jihad) itu juga benar-benar disertai dengan ketakutan dan kekhawatiran. Beliau berjihad dengan cara jika Fir’aun menerima maka Alhamdulillah, jika tidak maka kewajiban beliau selesai sampai disitu.

Apakah didustakan dan diancam dibunuh juga terjadi kepada beliau?

Ya, beliau didustakan oleh Fir’aun, dan beliau beserta bani Israil juga hendak dibunuh melalui kejaran pasukan Fir’aun.

Namun Allah menyelamatkannya dengan membelah laut Merah, dan menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya disana.

Jadi mas, jangan salah dalam memahami Afdholul Jihad (seutama utama jihad) itu.

Jangan juga dekat-dekat sama para Mukholif yang menyimpang manhajnya. Akibatnya, antum jadi kacau pemahamannya kayak gini kan?

Kalau kata orang jawa, “Ojo cedak Kebo Gupak”.

***
Makanya kalau belum bisa menempuh Afdholul Jihad (seutama utama jihad) seperti Nabi Musa itu ya Sabarrr…… Itu juga hal yang diperintahkan oleh Rasulullah kok.

Doakan kebaikan bagi pemerintah agar taubat dari kedzolimannya, dan ikuti Sunnah Rasulullah dan manhaj Salaf walau berat.

Syukuri nikmat keamanan yang ada di negeri ini, dan perbaiki keadaan dengan tanpa harus merusaknya melalui kedok afdholul jihad (seutama-utama jihad) yang salah kaprah itu.

Katakanlah yang benar walaupun itu pahit.
Jika penjelasan ini dianggap sebagai pil pahit bagi kita, maka anggap sajalah itu sebagai obat pahit guna menyembuhkan penyakit manhaj yang ada di dalam diri kita.

Jauhi para mukholif yang menyimpang manhajnya itu, dan jangan dekat-dekat dengan mereka. Ojo cedak Kebo Gupak.

Advertisements