Jika kita makan sahur atau sholat berjamaah di shaff pertama (bagi laki laki), maka kita akan mendapatkan keutamaan syafaat didoakan oleh Malaikat.

Namun jika kita berdoa langsung kepada Malaikat, seperti misal “Wahai Malaikat Jibril, dengan kedudukan mu di sisi Allah berikanlah kami Syafaat mu agar kami terhindar dari bencana dan lancar rizki kami. Mintakanlah itu kepada Allah”.

Maka ini kesyirikan, karena berdoa itu adalah ibadah dan hak milik Allah semata. Tidak boleh ditujukan dan diberikan kepada selain Nya, hatta walau dengan alasan untuk meminta syafaat Allah dan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak mengibadahi mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.

Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. [QS Az Zumar : 3]

***
Demikian juga ketika kita mendoakan Nabi Muhammad setelah selesai Adzan, maka kita berhaq untuk mendapatkan syafaat Rasulullah di hari kiamat kelak.

Sebagaimana yang tersebut dalam hadits Shohih.

Namun jika kita berdoa langsung kepada Rasulullah untuk meminta Syafaat nya seperti misal “Wahai Rasulullah, dengan kedudukan mu di sisi Allah berikanlah kami Syafaat mu agar kami terhindar dari bencana dan lancar rizki kami. Mintakanlah itu kepada Allah”.

Maka ini kesyirikan, karena berdoa itu adalah ibadah dan hak milik Allah semata. Tidak boleh ditujukan dan diberikan kepada selain Nya, hatta walau dengan alasan untuk meminta syafaat Allah dan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Syafaat Rasulullah itu hanya di hari kiamat, bukan ketika kita hidup di dunia.

Dan Syafaat itupun ada setelah ummat datang meminta langsung ke Rasulullah di hari akhir pada proses awal pengadilan, setelah sebelumnya mereka datang dan meminta ke Nabi Adam, nabi Ibrahim, nabi Musa, dan Nabi Isa yang mana mereka semua berkeberatan berusaha memberi syafaat meminta kepada Allah karena alasan alasan tertentu.

Jadi syafaat Rasulullah itu bukan diminta untuk mengatasi masalah masalah kita di dunia. Dan jika kita berdoa langsung kepada Rasulullah yang sudah meninggal dengan alasan meminta syafaat pun, maka ini juga syirik dan tidak dibolehkan.

Jadi sekali lagi, Syafaat Rasulullah itu hanya di hari kiamat, bukan ketika kita hidup di dunia.

Kira kira jelas bedanya kan?

***
Hal yang sama serupa dengan pembahasan Shalawat kepada Nabi.

Shalawat itu bukan kita minta dan berdoa kepada Nabi walau dengan alasan Syafaat. Shalawat itu justru kita mendoakan Nabi dengan memintanya kepada Allah.

Dan itupun harus sholawat yang ma’tsur berasal dari yang diajarkan Rasulullah. Bukan karangan dan bikinan yang diada adakan, walau tujuannya untuk bershalawat mengagungkan Rasulullah.

Apalagi sambil diiringi nyanyian dan tabuhan rebana.

Karena para sahabat pun sebelumnya tidak tahu bagaimana bershalawat kepada Rasulullah, hingga mereka bertanya kepada Rasulullah bagaimana cara bershalawat kepada Rasulullah. Dan Rasulullah pun kemudian mengajarkan nya sebagaimana yang tersebut dalam hadits yang Shohih.

***
Demikian juga pembahasan meminta syafaat ke makam makam wali atau orang Sholeh yang sudah meninggal. Atau menyebut nyebut nama orang Sholeh ketika kita berdoa kepada Allah, seperti misal menyebut nama Syaikh Abdul Qodir Jailani dan yang semisal

Baik itu dengan alasan meminta syafaat dengan kedudukan mereka disisi Allah guna tawasul dan tabaruk.

Maka ini semua jelas jelas lebih tidak boleh dan merupakan kemunkaran.

Advertisements