Referensi untuk memahami perbedaan Manhaj antara Ahlus Sunnah dan Asy’iroh dalam masalah mentauhidkan Allah

Leave a comment

Save dulu ah,
penting untuk memahami perbedaan antara manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan manhaj Asya’iroh dalam masalah mentauhidkan Allah.

Judul Kitab :

منهج أهل السنة والجماعة ومنهج الأشاعرة في توحيد الله تعالى

(- Perbedaan antara – Manhaj Ahlus Sunnah dan Manhaj Asyaa’iroh dalam masalah Mentauhidkan Allah )

Penulis :
خالد بن عبد اللطيف بن محمد نور

(Kholid bin Abdul Lathif bin Muhammad Nur)

Terbitan : Maktabah Al Ghuroba’ Al Atsariyyah, 1416 H / 1995 M
Jumlah Halaman : 795

Link download ebook : http://waqfeya.com/book.php?bid=5194

Advertisements

Memahami masalah Kasuistik belajar dan Merguru kepada Ahlul Bid’ah

Leave a comment

Bagaimana dengan kisah Abu Hasan Al Asy’ary yang pernah berguru, mengambil ilmu, dan datang di kajian nya Mu’tazilah (walaupun beliau akhirnya bertaubat), beserta kisah kisah yang semisal dengan itu?

*
Jadi merguru dan mengambil ilmu sama Ahlul Bid’ah atau orang yang menyimpang dari manhaj itu sebenarnya kasuistik, bukan standar.

Kita lihat dari output nya (hasilnya), ataukah ada udzur di situ.

Bukannya malah dijadikan Framing agar misleading untuk digeneralisir boleh seperti itu, sebagaimana yang diinginkan Free thinker dan fans berat manhaj muwazanah.

Kisah hidup seseorang itu berliku liku, dan tidak setiap lika liku kehidupan seseorang itu hujjah bagi kita.

Kita ini bukan tukang cerita, bukan novelis, dan bukan tukang Framing yang suka me misleading kan orang.

*
Adapun jika kembali kepada qoul ulama, maka biasanya mereka kasih syarat yang ketat atau memberikan udzur untuk hal-hal bersifat kasuistik.

Bahkan sebagian ulama Salaf berkata,

“Jika kita melihat pemuda di awal awal belajarnya bersama guru yang lurus dan benar manhaj serta Aqidah nya. Maka taruhlah harapan baginya.

Namun jika kita melihat pemuda di awal awal belajar nya bersama guru yang sesat, menyimpang Aqidah dan manhaj nya. Maka hilangkanlah harapanmu “.

Tentu saja ini tidak mutlak, karena hidayah itu di tangan Allâh.

Namun kita insya Allah faham apa yang dimaksud.

*
Jadi demikianlah jawaban dan counter attack terhadap serangan dari negara Abu-abu itu.

Guru, ustadz, dan majlis ilmu yang jelas Aqidah dan manhaj nya saja masih banyak dan bertebaran. Masak malah ngajak ngajak ke yang nggak jelas, dan bahkan yang sudah ditahdzir?

Kalau ada udzur, bisa dimaklumi lah. Walau sekarang lewat media Internet dan Ebook juga bisa. Nah kalau nggak ada udzur, maka ya emang pada dasarnya ingin promosi manhaj Muwazanah dan Pluralisme Manhaj.

Ingin seperti orang yang mabuk minum khomr dan pemakai narkoba yang penting having fun, disini senang, disana senang, mengikuti hawa nafsu saja.

Alasannya sih klise, “ingin piknik” katanya hehe

Namun memang demikianlah keadaan nya. Semua sudah berubah semenjak negara Abu Abu menyerang….

Ketika Imam Bukhori ditahdzir, maka beliau membalas dengan membuat tulisan Ilmiah

Leave a comment

Dulu Imam Al Bukhori pernah terkena fitnah bahwa beliau beraqidah Al Qur’an adalah makhluq, namun beliau membantahnya dengan membuat kitab :

( خلق أفعال العباد و الرد على الجهمية و أصحاب التعطيل)

Untuk menjelaskan secara ilmiah bahwa tuduhan itu hanya fitnah belaka, dan Aqidah beliau itu Al Qur’an adalah Kalamullah (Firman Allah) bukan makhluq.

Maka dari itu ketika para asatidz mengkritik dengan tulisan ilmiah dan bukti bukti yang nyata dari perkataan orang yang dikritik itu sendiri.

Bahwa Aqidah nya dalam masalah taqdir itu salah dan menyerupai firqoh Qodariyah. Dan penafsiran Al Qur’an nya dalam masalah QS Al Fatihah ayat “Ihdinash Shiroothol mustaqiim” itu ditafsirkan semaunya sendiri dan menyelisihi tafsir para Imam Ahli tafsir dari Ahlus Sunnah.

Maka balaslah saja kritikan ilmiah itu dengan tulisan yang ilmiah juga, sebagaimana sikap imam Al Bukhori.

Be a man!

Kalau salah, ngaku salah. Kalau benar, maka bantah secara ilmiah

Serangan Negara Abu Abu

Leave a comment

Wow, luar biasa….

Setelah gelombang serangan pertama dari para Free thinker yang terdiri dari anak-anak muda itu keok dan berhasil dipatahkan. Sekarang muncul lagi gelombang serangan kedua yang lebih besar dari negara Abu abu.

Para sesepuh dementor politikus dakwah ikut turun gunung, menggantikan anak-anak muda para Free thinker yang nggak becus itu.

Tetap bertahan dan pegangan yang kuat ya. Negara abu abu sudah mulai mengeluarkan para dementor mereka.

Daya tarik Manhaj Salaf

Leave a comment

Kenapa tertarik dengan manhaj Salaf?

Karena benar benar menjaga kemurnian Islam, ilmiah, dan tidak suka basa basi.

Framing orang-orang tidak bertanggung jawab terhadap video-video Asatidz

Leave a comment

Beredar viral bahwa Framing seakan akan Ustadz Kholid Basalamah membela Ustadz Adi Hidayat, yang sedang ditahdzir akan kesalahan beliau.

Video itu dishare baik melalui WA ataupun youtube dengan cara cara yang licik dan menipu. Yakni dengan cara :

1. Diberikan subtitles pengantar di depan, agar orang orang ter Framing dan misleading bahwa Ustadz Kholid seakan akan sedang membela ustadz Adi Hidayat yang sedang ditahdzir.

2. Dihilangkan rekaman gambar video aslinya, dan ditinggalkan rekaman suaranya saja. Tentu saja maksudnya agar orang orang tidak bisa mengklarifikasi dan mencari sumber aslinya.

3. Setelah selesai rekaman suara itu dipertunjukkan, dilakukan closing yang cantik dengan subtitles caption dan tambahan penjelasan Rekaman suara Ustadz Adi Hidayat yang sedang ditahdzir, agar orang orang terframing dan misleading sesuai dengan kemauan fihak yang mengotak atik dan mengedit video itu.

***
Video yang diedit yang saya maksud adalah yang ada pada Link ini :

https://youtu.be/qj9mNd7PdAs

Sedangkan rekaman video yang asli dari Ustadz Kholid Basalamah yang sudah ada sejak berbulan bulan yang lalu, jauh sebelum ustadz Adi Hidayat ditahdzir adalah ada pada Link ini :

https://youtu.be/am1nSgfaIAk

Silakan perhatikan antara rekaman suara pada Link yang pertama, dan video utuh pada Link yang kedua. Sama bukan?

***
Saya sendiri mempunyai sikap tersendiri terhadap dua asatidz itu, baik Ustadz Kholid Basalamah ataupun Ustadz Adi Hidayat.

Akan tetapi demi keadilan, dan agar video dan rekaman suara Ustadz Kholid tidak disalahgunakan oleh fihak fihak tertentu. Maka hal ini saya jelaskan di sini.

Semoga ini bermanfaat bagi kita semua

Qaidah-qaidah Mudah dalam Memahami Takdir

Leave a comment

Takdir itu sudah ditetapkan. Apa yang kita ketahui itu adalah takdir yang sudah berlalu, adapun takdir yang ada di depan kita tidak mengetahui nya.

Karena kita tidak mengetahui takdir yang akan terjadi ke depannya, yang diwajibkan bagi kita ada dua :

1. Beriman secara global bahwa takdir manusia yang tidak kita ketahui di depan itu sudah ditetapkan sejak dulu kala.

2. Berikhtiar semaksimal mungkin untuk menjemput apa yang Allâh telah takdirkan bagi kita.

Adapun yang dilarang bagi kita juga ada dua :

1. Beralasan dengan takdir Allah yang belum kita ketahui di depan, untuk menolak irodah syar’iyyah Allâh yang dibebankan kepada kita.

2. Bahwasanya dilarang bagi kita menetapkan takdir muallaq yang merupakan takdir baru yang baru ditetapkan bergantung sesuai dengan usaha, ikhtiar, dan kehendak kita.

***
Dibolehkan bagi kita satu hal :

Beralasan dan berargumen dengan takdir yang telah lalu, yang telah terjadi, dan yang kita ketahui untuk bahan introspeksi serta penetapan takdir terhadap diri kita dengan menggunakan timbangan syariat.

Ini sebagaimana “debat” yang terjadi antara Nabi Musa dan Nabi Adam, ketika Nabi Musa menyalahkan “kesalahan” yang dilakukan Nabi Adam hingga menyebabkan dirinya dan keturunan nya dikeluarkan dari surga.

Nabi Adam memenangkan perdebatan itu dengan beralasan bahwa itu adalah takdir Allah yang telah ditetapkan sejak jauh kala, sesuai dengan hikmah Nya.

Hadits ini Shohih.

***
Dan dilarang bagi kita satu hal juga :
Berusaha mencari cari tahu apa takdir kita ke depan, karena itu rahasia Allâh sesuai dengan hikmah Nya.

Yang diwajibkan bagi kita adalah berikhtiar semampu kita sesuai dengan syariat, guna menjemput takdir kita yang sudah ditetapkan dan yang merupakan rahasia ilahi.

Salah satu hikmah dari hal ini agar terkumpul pada kita rasa Khouf (takut), Roja’ (pengharapan), dan Mahabbah (cinta) kepada Allah Ta’ala.

Ketiga rasa ini adalah ruh dalam memahami dan menjalankan agama.

Walloohu A’lam

Older Entries