Jikalau ilmu itu dimisalkan rumah, maka tentu kita memang harus masuk dari pintunya agar bisa masuk ke dalam rumah.

Akan tetapi sayangnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam Shohih Bukhori Muslim, mempermisalkan dengan Hujan dan Tanah. Bukan Rumah dan Pintu.

Demikian juga pemahaman, sehingga Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata melalui hadits yang diriwayatkan Muawiyah,

Man yuridillaahu bihi khoiron yufaqqihhu fid Diin
(Barangsiapa yang Allah kehendaki atasnya kebaikan, maka Allah berikan dia pemahaman dalam masalah Agama. Hr. Muslim)

****
Sehingga orang yang bersikeras mewajibkan prosedur rumah dan pintu, justru seperti orang yang berlindung dari hujan itu sendiri.

Ilmu ilmu ditolak hanya karena tidak melalui pintu rumah yang telah mereka tentukan, dan dengan alasan takut akan petir dia berlindung di balik rumah.

***
Berikut adalah isi hadits tersebut selengkapnya,

كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ
“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

***
Jika hadits di atas adalah hadits yang Shohih, sebenarnya ada juga hadits lain yang menyebutkan mengenai Kholifah Ali adalah pintu ilmu. Dan hendaklah bagi orang yang menginginkan ilmu, datang melalui pintu tersebut.

Akan tetapi sayangnya hadits ini palsu, karena dalam rowi nya terdapat Abu Shalt yang merupakan Syi’ah Rofidhoh yang tertuduh memalsukan hadits menurut para Ulama Ahli Hadits.

Dan pada praktik nya hadits ini sering digunakan oleh Syi’ah Rofidhoh.

Diriwayatkan dari jalan Abu Shalt Abdussalam bin Shalih Al Harawi, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari A’masy dari Mujahdi dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’ dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam,

أنا مَدِينَةُ العلمِ وعليٌّ بابُها فمَنْ أرادَ المدينةَ فَلْيَأْتِها من قِبَلِ البابِ

“saya adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya, maka barangsiapa yang menginginkan ilmu hendaklah mendatanginya dari arah pintunya”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tahdzibul Atsar, Ath Thabrani dalam Al Kabir 1/108, Al Hakim 3/126, Al Khothib dalam Tarikh Baghdad 11/48, Ibnu Asakir 2/159.

Advertisements