Tahapan Hizbiyyah itu tiga menurut saya :
1. Taqlid
2. Ta’ashub
3. Tahazzub

Dari ketiga tahapan itu, hukum ta’ashub dan tahazzub itu jelas tercelanya. Sedangkan hukum taqlid itu berada di “Grey area” (Abu – abu).

Maksud Grey area adalah hukum taqlid itu tidak mutlaq haram dan tercela. Dan juga tidak mutlak wajib dan harus dilakukan setiap saat

Jika orang memang tidak faham dan tidak bisa beristinbath (mengambil faedah hukum dari suatu dalil). Maka tidak mengapa dia menyandarkan diri dan mengikuti orang yang dia anggap terpercaya serta faqih dalam masalah agama, walau kadang dia tidak memahami dalil dan argumentasi yang dipakai oleh orang yang diikutinya.

Bahkan kadang jika orang dengan tipe seperti ini hendak dijelaskan panjang lebar mengenai dalil dan argumentasi nya, dia merasa berat dan tidak membutuhkan dalil yang panjang panjang.

Baginya yang penting cukup bagaimana yang benar dalam hal ini, dalil ringkasnya gimana, dan tidak perlu analisis yang panjang panjang (karena toh saya juga nggak mudeng kosakata ilmiah yang digunakan).

Yang penting benar dan praktis. Penjelasan nya kalau bisa yang pendek saja. Ntar kalau masih ada yang nggak mudeng bisa tanya lagi kok…

***
Untuk orang seperti itu tidak masalah taqlid, mengikuti orang yang dia percaya manhaj dan Aqidah nya, sesuai dengan keperluannya untuk memahami dan menjalankan agama.

Nah yang jadi masalah adalah kadang kadang orang seperti ini kurang memahami batasan taqlid yang diperbolehkan

Kalau dimisalkan mobil, dia hanya faham teknik injak gas tapi kurang faham teknik injak rem untuk mengatur arah kemudi.

Akibatnya dia bisa jatuh ke arah Ta’ashub hingga nabrak sana dan nabrak sini.

Bahkan jika dalam tahapan lebih parah, dia bisa berubah Tahazzub dan bersikap hizbiyyah sehingga mengancam keselamatan jiwa orang lain dalam mengendarai mobil.

***
Maka dari itu taqlid itu harus dibina dan diberikan pendampingan juga agar jangan sampai menjadi taqlidul a’ma (taqlid buta), dan memunculkan metamorfosa Ta’ashub dan Tahazzub.

Kita memang tidak bisa lepas dari taqlid karena kita bukan orang yang tahu semuanya. Akan tetapi kita juga bukan orang yang harus hidup dan memahami agama hanya dengan modal taqlid saja. Karena Allah telah memberikan kita anugerah akal dan pemahaman untuk kita gunakan.

Advertisements