Dikarenakan pondasi Roja’ (pengharapan), khouf (rasa takut), dan mahabah (kecintaan) kepada Allah maka kita mendakwahkan Islam dan manhaj Salaf Ahlus Sunnah yang haq ini.

Atas pondasi itu juga, kita memperingatkan saudara kita akan bahaya manhaj yang batil beserta para pengusung nya.

Dan atas pondasi itu juga kita “harap harap cemas” agar jangan sampai Allah balikkan hati kita, sehingga menyimpang dari manhaj yang haq.

Maka dari itulah kita berkata bahwa “Hati itu lemah sedangkan syubhat itu menyambar nyambar”.

Kita tidak berkeinginan hanya sekedar melecehkan orang orang yang terjatuh dalam kesalahan penyimpangan manhaj, untuk membantu syaitan menjerumuskan mereka lebih dalam.

***
Tidak ingin membantu syaitan menjerumuskan mereka lebih dalam? Bagaimana itu maksudnya?

Maksudnya adalah mengingkari, iya. Dan itu wajib bagi orang yang berilmu. Namun membantu syaitan menjerumuskan lebih dalam, tidak.

Ini seperti ketika ada pemabuk di zaman Rasulullah yang ketahuan dan dihukum, lalu para sahabat geram dan mencaci makinya.

Apa yang Rasulullah katakan? Beliau berkata,

“janganlah menjadi penolong syaitan ”

Maksud hadits itu hendaklah kita proporsional dalam bersikap, dan jangan berlebihan yang justru akan menyebabkan orang semakin menjauh dari manhaj yang haq.

Salah ya salah. Namun kalau bisa dirangkul ya dirangkul.

Berbeda kalau memang pada dasarnya “ndableg” dan penuh logical fallacy. Maka ya kadang terpaksa “Loe jual, gua beli”….

Faham kan maksud saya?

***
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata,

“Seseorang dibawa kepada Nabi saw karena telah mabuk, kemudian Beliau memerintah (para sahabat) agar ia dipukul. Maka di antara kami ada yang memukulnya dengan tangannya, di antara kami ada yang memukulnya dengan sandalnya, dan di antara kami ada (pula) yang memukulnya dengan pakainnya.”

Tatkala ia telah pulang, berkatalah seorang laki-laki: “Ada apa dengannya?, mudah-mudahan Allah menghinakan ia!”

Maka Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian menjadi penolong syaitan untuk menghina saudara kalian (sendiri).”

(Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 7442, Fathul Bari XII: 75 no: 6781 dan ‘Aunul Ma’bud XIII: 176 no: 4453).

***
Maksud saya menulis ini karena saya melihat ada beberapa orang yang tampak berlebihan dalam menyikapi orang orang yang menyimpang manhaj nya.

Walaupun penilaian saya ini subyektif, namun saya tidak ingin jika mereka menjadi penolong syaitan….

Di satu sisi saya faham bahwa sebagian dari mereka berlaku seperti itu, karena mereka adalah “mantan” dari pengusung manhaj yang menyimpang itu. Yang mana kemudian Allah berikan hidayah, hilangkan syubhat syubhat nya, dan kembali rujuk kepada Sunnah dengan berpegang kepada manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang murni.

Yang mana karena mereka “mantan” maka mereka lebih faham bahayanya manhaj ini beserta “kebusukan” para para pengusungnya.

Mereka lebih geram dengan jaringan jaringan manhaj yang menyimpang yang ada, yang bergerak untuk mengumpulkan umat ke dalam kesalahan manhaj yang dibawa oleh pengusungnya.

Walau begitu namun tetaplah proporsional dalam bersikap. Jangan sampai malah menjadi kontra produktif.

Demikian kiranya unek unek saya…

Tetap semangat namun jangan terlalu berlebihan ya…

Advertisements