Hadits ini sebenarnya cukup panjang, yakni mengenai masalah perselisihan antara para Istri Nabi.

Namun akan saya potong yang perlu saja agar kita bisa mengambil faedah hukum dan contoh Salaf (Shahabat) yang disetujui oleh Rasulullah, dalam masalah bolehnya membalas kedzoliman secara proporsional asalkan tidak menimbulkan madhorot yang lebih besar.

Perhatikan benar benar mengenai syarat proporsional dan tidak menimbulkan madhorot yang lebih besar ini.

***
Zainab pun meminta izin masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu berada dalam selimut bersama ‘Aisyah sebagaimana keadaan beliau ketika Fathimah menemuinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkan. Zainab lalu mengutarakan maksud kedatangannya. Setelah itu ia mencela ‘Aisyah habis-habisan.

‘Aisyah berkata, “Aku mengamat-amati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencari tahu apakah beliau mengizinkan aku untuk membalas. Terus-menerus Zainab melemparkan kemarahannya terhadapku hingga aku tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mempermasalahkan bila aku membela diri.”

Maka ‘Aisyah pun membalas perbuatan Zainab tersebut, hingga ia dapat mematahkan ucapan Zainab dan mengalahkannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tersenyum seraya berkata, “Inilah dia putri Abu Bakr.”

(Sahih, HR. al-Bukhari no. 2581 dan Muslim no. 2442, lafadz di atas adalah menurut riwayat Muslim)

***
Jadi jika anda didzolimi, dihina, atau direndahkan oleh orang yang berlagak seperti preman, jika anda mempunyai kemampuan dan tidak menimbulkan madhorot yang lebih besar, maka anda boleh membela diri dan membalasnya.

Namun jika itu menimbulkan madhorot yang lebih besar, maka sebaiknya tidak atau jangan terang terangan.

Ini sebagaimana hadits Rasulullah berikut ini,

Seorang lelaki meminta untuk bertemu dengan Rosululloh. Beliaupun berkata: “Izinkan dia. Sungguh dia anak keluarga yang jelek – atau sungguh dia saudara keluarga yang jelek –“ namun ketika dia masuk, beliau berkata lemah lembut padanya.

Aisyah berkata: “Akupun berkata kepada beliau: “Wahai Rosululloh, tadi Anda berkata begini dan begitu namun Anda berkata lemah lembut padanya.”

Beliaupun bersabda:

أَيْ عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ مَنْ تَرَكَهُ – أَوْ وَدَعَهُ – النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah yang dihindari oleh manusia karena khawatir akan kejahatannya.” [Hr. Bukhari]

***
Bahkan jika ingin kisah Salaf yang lebih hebat lagi adalah seperti kisah Doa Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas.

Dulu beliau pernah difitnah dan didzolimi oleh seorang penduduk Kufah. Maka beliau pun akhirnya geram, hingga membalas kedzoliman tersebut dengan berdoa agar orang tersebut dipanjangkan umurnya dan ditimpa dengan berbagai macam fitnah.

Akhirnya orang itu umurnya panjang, buta, dan ditimpa berbagai macam fitnah.

***
Bagaimana jika seseorang tidak mau mengaku bahwa dia suka bergaya preman, suka menfitnah dan merendahkan orang lain, dan sudah mafhum orang orang akan keburukan nya?

Bahkan dia justru jika dibalas keburukan nya, malah ndableg, playing victim, dan menuduh orang lain lah yang telah berlaku buruk kepada nya. Dia ngeles bahwa bukan dia yang sebenarnya memulai kedzoliman itu.

Maka jawabannya sederhana. Yang namanya maling itu mana mau ngaku jika dia maling.

Asalkan anda proporsional, maka jangan takut dengan tipuan Playing victim nya.

Bongkar saja kedok keburukan dan kejelekannya agar orang faham dan bisa berhati-hati.

Maling pun jika sudah ketangkap kadang bilangnya, “Ampun, saya sudah tobat”. Besoknya maling lagi.

Jadi jangan mudah tertipu

Advertisements