Sesuai perkataan saya sebelumnya, demi menjaga kenyamanan para tetangga yang telah banyak memberikan complain dan masukan kepada diri saya.

Maka batas waktu 3 x 24 jam yang saya berikan telah habis.

Dan akun akun yang saya pandang telah meresahkan itu,
Yang menghilangkan kenyamanan bertetangga dengan saya untuk saling berbagi faedah ilmu, Yang kurang memiliki itikad baik untuk menjadi tetangga yang baik,

Telah saya unfriend.

Semoga ini bisa mengembalikan kenyamanan para ikhwah semua ketika berteman dengan akun FB saya ini.

***
Namun dari semua peristiwa ini, ada baiknya saya sebutkan lesson learn yang bisa kita ambil ilmu darinya.

Banyak sebenarnya ilmu dan praktek nyata yang bisa kita ambil dari hal ini, walau bukan dengan konotasi yang baik.

1. Kita telah belajar masalah sikap dzul wajhain (memiliki dua muka) dan Ghooibul Haya’ (hilangnya rasa malu).

2. Kita telah belajar masalah teknik penyesatan berpikir (logical fallacy) dan praktik langsung dari strawman, playing victim, appeal to force, dan Argumentum ad hominem.

3. Khusus mengenai appeal to force, kita telah belajar bahwa bertemu itu baiknya di kepolisian atau di pengadilan. Kita belajar juga dari appeal to force agar tidak memberikan KTP, foto, dan no HP secara sembarangan.

Karena teror telepon itu bisa menimpa tidak hanya kita, tapi juga berefek pada keluarga kita.

Kita juga bisa didatangi baik di rumah kita atau tempat kita mencari nafkah untuk menyelesaikan masalah secara appeal to force. Sebagaimana hal ini pernah terjadi.

Keluarga kita juga tidak terlepas dari bahaya appeal to force ini. Maka dari itu jangan tertipu dengan bahasa silaturahim, koordinasi, dan yang semisal.

4. Kita telah belajar bahwa melaporkan ke kepolisian guna diproses secara pidana ke pengadilan itu tidak memerlukan No HP, KTP, atau yang semisal dari yang dilaporkan.

Cukup ada bukti awal dan pihak yang melaporkan ke kepolisian, maka polisi akan langsung bisa mengusut dan menyidik.

5. Kita juga telah belajar perincian buruknya suka bersumpah atas nama Allah dan suka menantang mubahalah.

Dikit dikit sumpah, dikit dikit nantang mubahalah. Padahal hal ini ada tahapan tahapannya dan juga hikmahnya, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.

Bukan malah ini digunakan secara semena mena demi kepentingan appeal to force.

6. Perlu dicatat juga bahwa kombinasi Playing victim dan appeal to force itu hal yang sering terjadi.

Hingga pada prakteknya terjadi tipuan merasa terdzolimi (playing victim) yang kemudian orang tersebut bisa semena mena mendoakan keburukan kepada orang yang dianggap mendzolimi nya.

Dan ini terjadi berulang ulang. Sehingga tampak bahwa ini adalah adab yang buruk kepada Allah, demi membenarkan logical fallacy appeal to force nya.

7. Lebih lanjut mengenai playing victim, kita juga telah belajar boleh berkata buruk mengenai hakikat seseorang ketika orang tersebut dzolim kepada kita, agar umat mengetahui keburukan orang itu.

Maka playing victim bahwa orang yang mengungkapkan keburukannya, sebagai orang yang dituduh balik buruk adab dan buruk akhlaknya itu tidak berlaku disini.

Bahkan justru perkataan yang buruk untuk mengungkapkan keburukan seseorang, agar orang lain waspada kepadanya itulah yang sebenarnya merupakan akhlak yang baik.

8. Kita juga belajar masalah Strawman atas nama “Baper”.

Yang mana si Juki hanya berkata A, namun si Mukidi karena baper bisa berkata B hingga Z untuk menuduh Juki.

Padahal Juki tidak pernah ngomong atau membicarakan kecuali A, namun atas nama “baper” semua dianggap bisa dihubung hubungkan oleh Mukidi guna menuduh Juki.

Demikianlah manhaj wanita Strawman dan baper ini.

***
Bagaimana?

Banyak bukan yang sebenarnya telah kita pelajari, walau melalui proses yang tidak nyaman?

Ini ilmu yang mahal sebenarnya, dan kita beruntung bisa mendapatkan langsung dari praktik nyata yang ada walaupun itu menimbulkan keresahan.

Itulah tantangan tantangan manhaj dan dakwah yang kadang harus kita hadapi.

Akan tetapi itu insya Allah sudah berlalu.

Kita akan fokus lagi untuk saling berbagi faedah ilmu dan manhaj ke depannya Insya Allah.

Semoga ini bisa mengembalikan kenyamanan yang ada lagi dalam “bertetangga” dengan akun saya ini.

***
Sekarang jika misal ada yang membuat tidak nyaman lagi langsung beritahu saya saja. Sekarang sudah tidak pakai batas waktu 3 x 24 jam lagi.

Saya insya Allah akan bisa langsung bertindak jika ada oknum oknum yang meresahkan tetangga saya.

Kalau bisa dibina ya kita bina. Kalau tidak bisa, maka terpaksa kita unfriend.

Namun tentu saja unfriend itu bukan hanya karena masalah ini saja. Jadi jangan difahami bahwa jika di unfriend itu pasti karena masalah ini.

Sekedar intermezzo :
Kalau misal antum punya hutang sama temen, maka ya jangan di unfriend temen antum donk gara gara dia nagih utang. Itu hak dia hehee… 🙂

***
Terakhir, status ini bersifat umum sama seperti status status saya lainnya.

Ini hanya sekedar perkataan umum untuk pelajaran kita bersama.

Jadi tidak perlu sebut nama, cukup kita introspeksi diri kita sendiri saja.

Jika misal masih ada lesson learn yang terlewat, maka silakan saja tulis di comment agar bisa kita ambil faedah nya bersama sama.

Advertisements