Manhaj Salaf Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam I’tiqod nya kepada Allah dalam masalah uluhiyyah dan Ubudiyyah kepada Nya, beri’tiqod bahwa :

1. Hanya Allah lah ilah yang Haq, dan ilah-ilah selainnya bathil

2. Peribadahan dan penyembahan dengan segala macam bentuknya, adalah hak milik Allah semata.

3. Menyerahkan segala bentuk dan jenis penyembahan serta peribadahan kepada selain Allah itu merupakan bentuk kesyirikan.

Baik itu bentuk peribadahan yang dilandasi I’tiqod “bahwa ada ilah selain Allah yang setara dengan Nya”. Yang mana pengertian ini umumnya sudah difahami kebatilannya oleh seluruh kaum Muslimin, dan by default dijauhi serta disyirikkan.

Ataupun bentuk peribadahan kepada sesama makhluq, yang dilandasi I’tiqod bahwa ini hanya perantara (wasilah atau tawasul) dan jalan untuk mencari barokah (Tabaruk), agar nanti diteruskan kepada Allah.

Jadi karena toh tujuannya kepada Allah juga nantinya, walau hanya lewat perantara saja, maka dia tidak menganggap bahwa hal ini juga merupakan kesyirikan.

Pengertian ini umumnya banyak tidak diketahui kebatilannya oleh kaum muslimin yang jarang belajar mengenai masalah Aqidah.

4. Jenis ibadah itu berupa do’a, sholat, penyembelihan, puasa, haji, isti’anah (meminta pertolongan secara umum dalam bentuk do’a dan penyandaran hati), istighotsah (meminta pertolongan ketika terkena musibah), dan lain-lain dari ritual ibadah itu harus langsung diberikan kepada Allah. Tidak boleh diwakilkan dan diberikan kepada perantara.

Berbeda dengan masalah muamalah yang lebih ke antara sesama manusia, yang diatur di dalam syariat yang ditetapkan Allah. Maka ini boleh untuk diwakilkan dan diberikan kepada perantara. Shodaqoh misalnya, maka boleh diberikan ke perwakilan untuk diserahkan yang membutuhkan dengan niat ikhlash beramal karena Allah

5. Segala macam bentuk ibadah dan penyembahan itu harus muthoba’ah (mengikuti) contoh dari Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Tidak boleh diada-adakan sendiri.

6. Kesyirikan adalah dosa paling besar yang tidak akan diampuni Allah di hari Akhirat kelak, jika tidak bertaubat ketika hidup di dunia.

Adapun dosa-dosa selain syirik bergantung kepada kehendak Allah (fii ma’syiatullah). Yang mana terserah Allah, apakah akan memberikan ampunan akan dosanya ketika di akherat kelak. Ataukah akan membalas dosanya itu setimpal terlebih dahulu dengan memasukkannya ke dalam Neraka, dan memasukkan ke Surga setelahnya.

7. Syirik dibagi menjadi dua : Syirik Besar dan syirik kecil.

Syirik besar dapat membatalkan keislaman seseorang (menjadi kafir) dan mengekalkan pelakunya di dalam neraka. Sedangkan syirik kecil tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, akan tetapi dia wajib bertaubat akan hal itu. Dan syirik kecil itu jika dilakukan terus-menerus, maka dia bisa berubah menjadi syirik besar dan mengeluarkan seseorang dari Islam.

Seperti misal riya’, maka ini termasuk syirik kecil karena dia melakukan amalan agar dilihat manusia lain di samping beramal untuk mengharapkan pahala dari Allah. Akan tetapi kalau dia terus melakukan riya’ hingga akhirnya murni yang dia lakukan itu untuk mendapatkan keridhoan manusia saja. Tidak ada pengharapan untuk mendapatkan pahala dari Allah. Maka dia berubah menjadi orang munafik, yang dhohirnya Muslim namun I’tiqod-nya kafir.

8. Dakwah Tauhid Laa ilaaha illallooh agar manusia menyembah dan beribadah kepada Allah saja, adalah manhajul Anbiya (manhaj para Nabi) yang selalu berkesinambungan dari satu Nabi ke Nabi yang lain. Atas dasar inilah semua Nabi dan Rasul diutus, dan atas dasar inilah semua Nabi dan Rasul berdakwah.

Bukan atas dasar Politik dan perebutan kekuasaan, dengan syubhat untuk menegakkan syariat Islam setelah berkuasa.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).’ [QS An-Nahl : 36]

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada ilah (sesembahan, Tuhan) (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. [QS. Al-Anbiyaa’ : 25]

***
Semua I’tiqod ini sebenarnya kembali kepada pemahaman yang benar akan kalimatut Tauhid Laa ilaaha Illallooh.

Untuk penjelasan lebih luas mengenai Kalimatut Tauhid Laa ilaaha Illallooh, silakan lihat ebook kami RIsalah Tauhid jilid 1.

***
Penyimpangan I’tiqod kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala dalam masalah Uluhiyyah Nya ini, umumnya berasal dari sikap ghuluw (berlebih-lebihan hingga melewati batas). Dan Rasulullah sudah memperingatkan bahwa sikap Ghuluw inilah yang telah menghancurkan ummat-ummat sebelumnya.

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّيْنِ. (رواه أحمد وابن ماجه والنسائي وقال الشيخ الإسلام ابن تيمية في الإقتضاء ص ١٠٦، إسناده على شرط مسلم و وافقه الألباني في الصحيحة رقم ١٢٨٣)

“Hati-hatilah kalian terhadap perbuatan ghuluw di dalam agama, karena sesungguhnya hancurnya orang-orang sebelum kalian dikarenakan (sikap) ghuluw di dalam agama.”
[HR. Ahmad, Ibnu Majah, Nasa`i, dan berkata Syaikhul Islam di dalam Iqtidha hal. 106: Sanadnya dengan atas syarat Muslim, dan disepakati oleh Al-Albani di dalam ash-Shahihah 1283]

Perincian sikap ghuluw ini adalah dalam :
1. Ghuluw dalam masalah syariat dan Ibadah, hingga membuat-buat sendiri pemahaman dan cara beribadah tersendiri kepada Allah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

2. Ghuluw terhadap orang-orang sholeh, wali, syaikh, Nabi, dan yang semisal.

Hingga bertawasul kepada kuburan mereka, atau yang lazim diistilahkan sebagai Tawassul bil amwaat (bertawassul dengan orang-orang yang sudah meninggal). Dan bertabaruk (mencari berkah) melalui bekas-bekas peninggalan mereka, ataupun bertabaruk dengan berziarah ke kuburan mereka.

***
Sejarah sikap Ghuluw hingga menyebabkan kesyirikan pada awal mulanya terjadi pada zaman Nabi Nuh ‘Alaihis Salaam.

Pada awal mula diturunkannya Nabi Adam ‘alaihis salaam dari surga ke dunia ini masih belum tejadi kesyirikan sama sekali. Hingga setelah lewat 10 generasi, maka terjadilah sikap ghuluw terhadap orang sholeh yang telah meninggal, dan berakhir dengan terjadinya budaya kesyirikan yang merata pada zaman Nabi Nuh ‘alaihis salaam.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyebutkan mengenai perkataan kaum Nabi Nuh, ketika menolak seruan dakwah Tauhid yang diberikan oleh Nabi Nuh ‘Alaihis salaam.

وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا. ﴿نوح: ٢۳﴾

Dan mereka berkata: “Janganlah sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian, dan janganlah pula kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan janganlah pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nashr.” (Nuh: 23)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut (QS Nuh : 23),

“Mereka adalah orang-orang shalih di kalangan kaum Nabi Nuh.

Lalu ketika mereka wafat syaithan mewahyukan kepada mereka (kaum Nabi Nuh) agar meletakkan patung-patung mereka (orang-orang shalih tersebut) pada majlis-majlis tempat yang biasa mereka duduk dan memberikan nama patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka, maka mereka pun melaksanakannya, namun pada saat itu belum disembah.

Setelah mereka (generasi pertama tersebut) habis, dan telah terhapus ilmu-ilmu, barulah patung-patung itu disembah.” [Hr. Bukhari]

Ibnu Jarir berkata: “Ibnu Khumaid berkata kepadaku, Mahran berkata kepadaku dari Sufyan dari Musa dari Muhammad bin Qais:

“Bahwa Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr adalah kaum yang shalih yang hidup di antara masa Nabi Adam dan Nabi Nuh alaihimus salam.

Mereka mempunyai pengikut yang mencontoh mereka dan ketika mereka meninggal dunia, berkatalah teman-teman mereka: “Kalau kita menggambar rupa-rupa mereka, niscaya kita akan lebih khusyu’ dalam beribadah.” Maka akhirnya mereka pun menggambarnya.

Ketika mereka (generasi pertama tersebut) meninggal dunia, datanglah generasi berikutnya. Lalu iblis membisikkan kepada mereka seraya berkata:

“Sesungguhnya mereka (generasi pertama) tersebut telah menyembah mereka (orang-orang shalih tersebut), serta meminta hujan dengan perantaraan mereka. Maka akhirnya mereka pun menyembahnya.” [Hr. Bukhari dalam kitab tafsir [4920] surat Nuh]

***
Setelah terjadi adzab banjir air bah yang meleyapkan generasi yang penuh dengan kesyirikan pada Nabi Nuh itu, maka berlalulah lagi generasi demi generasi dan nabi demi nabi.

Yang mana kemudian karena ghuluw terjadi lagi, ummat manusia lagi-lagi melakukan kesyirikan. Bahkan saking parahnya kesyirikan yang terjadi, mereka sampai melupakan siapakah Allah Rabb pencipta mereka. Sebagaimana ini yang terjadi pada kaum yang dihadapi Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam.

Demikian juga yang dihadapi oleh Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam, Nabi Hud ‘alaihis salaam, dan Nabi Sholeh ‘alaihis salaam terhadap kaumnya yang bergelimpangan dengan kesyirikan.

Sikap ghuluw ini bahkan juga menimpa orang-orang yang mengklaim sebagai pengikut Nabi Isa ‘alaihis salaam. Yang mana sikap ghuluw mereka sampai berakhir dengan mengangkat Nabi Isa sepeninggalnya diangkat ke langit, sebagai nabi yang mempunyai unsur ilahiyyah. Alias dianggap sebagai penjelmaan Allah, atau dianggap sebagai anak Allah yang bersekutu dengan Allah dalam trinitasnya.

Dan mereka pun benar-benar menyembah dan mengibadahi nabi Isa ‘alaihis Salaam (Yesus).

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. [QS. An-Nisaa : 171]

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan dan mengingkari ghuluw yang terjadi pada Ahlul Kitab kepada orang sholeh mereka. Yang mana jika orang sholeh mereka meninggal, maka menguburkannya di tempat ibadah mereka.

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan tentang gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah. Di dalamnya terdapat shuroh (gambar atau patung). Mereka menceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda,

إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ ، فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya mereka itu apabila di antara mereka terdapat orang yang sholih yang meninggal dunia, maka mereka pun membangun di atas kuburnya tempat ibadah dan mereka memasang di dalamnya Shuroh (gambar atau patung) untuk mengenang orang-orang soleh tersebut. Mereka itu adalah makhluk yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat kelak” (HR. Bukhari no. 427 dan Muslim no. 528).

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي لَمْ يَقُمْ مِنْهُ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ قَالَتْ فَلَوْلَا ذَاكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ غَيْرَ أَنَّهُ خُشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَلَوْلَا ذَاكَ لَمْ يَذْكُرْ قَالَتْ

Dari Aisyah radhiyallahu’anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sakitnya yang menyebabkan beliau tidak bisa bangkit lagi,

‘Allah melaknat kaum Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah’.”

Aisyah berkata, “Kalau bukan karena itu, niscaya kuburan beliau dipertontonkan, padahal tindakan itu dikhawatirkan akan dijadikannya kuburan beliau sebagai masjid.” [HR. Muslim]

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Bahwa Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah memerangi kaum Yahudi yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat Ibadah” [HR. Muslim]

حَدَّثَنِي جُنْدَبٌ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Telah menceritakan kepadaku Jundab dia berkata, “Lima hari menjelang Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam wafat, aku mendengar beliau bersabda,

‘Aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil salah seorang di antara kalian sebagai kekasih, karena Allah Ta’ala telah menjadikanku sebagai kekasih sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Dan kalaupun seandainya aku mengambil salah seorang dari umatku sebagai kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian itu menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari mereka sebagai tempat ibadah, maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai masjid, karena sungguh aku melarang kalian dari hal itu”. [HR. Muslim]

Bahkan Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam sendiri berpesan, agar jangan sampai ummat setelahnya ghuluw kepadanya, dan menjadikan kuburannya sebagai tempat beribadah dan berkumpul seperti waktu hari raya Ied yang senantiasa berulang (Ied itu artinya kembali, berasal dari kata ‘Audah. Maksudnya adalah sesuatu yang selalu berulang-ulang dan dilestarikan).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَتَّخِذُوا قَبْرِي عِيدًا وَلَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي

“Jangan kamu jadikan kuburanku sebagai tempat ‘ied, dan jangan jadikan rumah-rumahmu bagaikan kuburan, dan dimana saja kamu berada, bershalawatlah kepadaku, karena shalawat kamu akan sampai kepadaku”.

[Hadits ini dikeluarkan oleh imam Ahmad dalam musnadnya dan Abu Dawud dalam sunannya dari jalan Abdullah bin Nafi’ akhbarani ibnu Abi Dzi’ib dari Sa’id Al Maqburi dari Abu Hurairah secara marfu’. Dan sanad ini adalah sanad yang Hasan sesuai dengan syarat Muslim.]

Para Ulama menjelaskan,
“Dahulu kaum musyrikin mempunyai tempat-tempat yang dijadikan untuk berkumpul, ketika islam datang, Allah hapuskan semua itu. Dan larangan menjadikan kuburan sebagai ‘ied masuk padanya kuburan para Nabi dan orang-orang shalih. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjadikan kuburannya sebagai tempat ‘ied, padahal kuburan beliau adalah kuburan yang paling utama di muka bumi ini, maka kuburan yang lainnya lebih utama dilarang.” [Iqtidla ash shiratil mustaqim hal 55-56, lihat ahkamul janaiz hal 281.]

***
Demikianlah rangkaian kisah yang senantiasa berulang akan kesyirikan yang terjadi akibat ghuluw. Berikut akan kami sebutkan juga ghuluw dalam masalah ibadah dan ghuluw terhadap orang sholeh, yang sempat terjadi atau terbersit pada zaman Rasulullah dan para Sahabat yang kemudian langsung diberantas dan dijelaskan I’tiqod yang benar akan hal itu.

1. Ghuluw dalam beribadah dan memahami agama ketika zaman rasulullah, hingga membuat-buat sendiri pemahaman dan cara beribadah tersendiri kepada Allah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

جاء ثلاثة رهط إلى بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم يسألون (وفي رواية: سألوا أزواج النبي صلى الله عليه وسلم عن عمله في السر) عن عبادة النبي صلى الله عليه وسلم فلما أخبروا كأنهم تُقَالُّوْهَا فقالوا وأين نحن من النبي صلى الله عليه وسلم قد غفر الله له ما تقدم من ذنبه وما تأخر قال أحدهم أمَّا أنا فإني أصلي الليل أبدا وقال آخر انا أصوم الدهر ولا أفطر وقال آخر أنا أعتزل النساء فلا أتزوج أبدا فجاء رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال أنتم الذين قلتم كذا وكذا أمَا والله إني لأخشاكم لله وأتقاكم له لكني أصوم وأفطر وأصلي وأرقد وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس مني

Dari Anas bin Malik, Ia berkata, :

Datang tiga orang ke rumah istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang ibadah Nabi (Dalam riwayat Muslim: “Mereka bertanya kepada istri-istri Nabi tentang amalan Nabi yang tidak terang-terangan).

Tatkala mereka diberitahu tentang ibadah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam seakan-akan mereka merasa bahwa ibadah tersebut sedikit, maka mereka berkata, “Dimanakah kita jika dibanding dengan Nabi?, ia telah dimaafkan dosa-dosanya oleh Allah baik yang telah lalu maupun yang akan datang”.

Seorang diantara mereka berkata, “Adapun aku maka aku akan sholat malam selama-lamanya (tidak tidur malam)”, yang lainnya berkata, “Saya akan puasa dahar dan aku tidak akan pernah buka”, dan berkata yang lainnya, “Aku akan menjauhi para wanita, dan aku tidak akan menikah selama-lamanya”.

Lalu datanglah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,
“Apakah kalian yang telah berkata demikian dan demikian?, ketahuilah, demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah daripada kalian, namun aku berpuasa dan berbuka, aku sholat (yaitu sholat malam) dan tidur, dan aku menikahi para wanita. Barangsiapa yang benci terhadap sunnahku maka dia bukan termasuk dariku”

[HR Al-Bukhari no 5063, dalam riwayat Muslim (2/1020) وقال بعضهم لا آكل اللحم وقال بعضهم لا أنام على فراش “Berkata salah seorang dari mereka, “Aku tidak akan memakan daging”, berkata yang lain, “Aku tidak akan tidur di atas tempat tidur” ]

2. Peringatan dan pengingkaran agar tidak bersikap Ghuluw dalam menghormati Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).’” [Hr. Bukhari]

‘Abdullah bin asy-Syikhkhir Radhiyallahu anhu berkata,
“Ketika aku pergi bersama delegasi Bani ‘Amir untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami berkata kepada beliau, “Engkau adalah sayyid (penguasa) kami!” Spontan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

اَلسَّيِّدُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

“Sayyid (penguasa) kita adalah Allah Tabaaraka wa Ta’aala!”

Lalu kami berkata, “Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling agung kebaikannya.” Serta merta beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ أَو بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ.

“Katakanlah sesuai dengan apa yang biasa (wajar) kalian katakan, atau seperti sebagian ucapan kalian dan janganlah sampai kalian terseret oleh syaithan.”

[HR. Abu Dawud (no 4806), Ahmad (IV/24, 25), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no 211/ Shahiihul Adabil Mufrad no 155), an-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 247, 249). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Rawi-rawi-nya shahih. Dishahihkan oleh para ulama (ahli hadits).” (Fat-hul Baari V/179)]

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata,
“Sebagian orang berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami! Wahai sayyid kami dan putera sayyid kami!’ “

Maka seketika itu juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، أَنَا مُحَمَّدٌ، عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِيْ فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِيْ أَنْزَلَنِيَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.

“Wahai manusia, ucapkanlah dengan yang biasa (wajar) kalian ucapkan! Jangan kalian terbujuk oleh syaithan, aku (tidak lebih) adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka kalian mengangkat (menyanjung)ku di atas (melebihi) kedudukan yang telah Allah berikan kepadaku.”

[HR. Ahmad (III/153, 241, 249), an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 249, 250) dan al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 2675). Sanadnya shahih dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.]

3. Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam mengingkari mitos-mitos atau pengkeramatan suatu benda untuk tujuan tawassul dan tabaruk.

عَنْ أَبِيْ وَاقِدٍ اللَّيْثِيْ، قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَىْ حُنَيْنٍ وَنَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍ، وَلِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌ يَعْكُفُوْنَ عِنْدَهَا وَيَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ، يُقَالُ لَهَا: ذَاتُ أَنْوَاطٍ، فَمَرَّرْناَ بِسِدْرَةٍ فَقُلْنَا: ياَ رَسُوْلَ اللهِ إجْعَلْ لَناَ ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (اللهُ أَكْبَرُ! إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ ـ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ـ كَمَا قَالَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلُ لِمُوْسَى: (إجْعَلْ لَنَا إلهاً كَماَ لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ) لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ”. [رَوَاهُ التِّرْمِذِيْ وَصَحَّحَهُ]. هَذاَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ.

Dari Abu Waqid Al Laysie, ia berkata:

“Kami keluar bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain, saat itu kami baru saja keluar dari kekufuran. Orang-orang musyrikin memiliki sebatang pohon yang besar, mereka duduk di sisinya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya. Pohon itu disebut pohon Dzâtu Anwâth.

Lalu kami melewati sebatang pohon yang besar pula. Maka kami berkata:”Ya Rasulullâh jadikanlah untuk kami pohon Zatu Anwâth, sebagaimana mereka memiliki pohon Dzâtu Anwâth!”

Rasululâh pun bertakbîr (Allâhu Akbar) Demi Zat yang jiwaku berada ditangannya sesungguhnya ucapan kalian ini sebagaimana ucapan Bani Israil kepada Musa Alaihissallam: “Jadikanlah untuk kami sembahan sebagaiman mereka memiliki sesembahan! Musa berkata: sesungguhnya kalian kaum yang bodoh”. Sesungguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang sebelum kalian”[HR Tirmidzi]

4. Ghuluw dalam beribadah dan memahami agama ketika zaman Shahabat, hingga membuat-buat sendiri pemahaman dan cara beribadah tersendiri kepada Allah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ بْنُ الْمُبَارَكِ أَنْبَأَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى قَالَ سَمِعْتُ أَبِى يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ ، فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الأَشْعَرِىُّ فَقَالَ : أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْدُ؟ قُلْنَا : لاَ ، فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ ، فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعاً ، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّى رَأَيْتُ فِى الْمَسْجِدِ آنِفاً أَمْراً أَنْكَرْتُهُ ، وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلاَّ خَيْراً. قَالَ : فَمَا هُوَ؟ فَقَالَ : إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ – قَالَ – رَأَيْتُ فِى الْمَسْجِدِ قَوْماً حِلَقاً جُلُوساً يَنْتَظِرُونَ الصَّلاَةَ ، فِى كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ ، وَفِى أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ : كَبِّرُوا مِائَةً ، فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً ، فَيَقُولُ : هَلِّلُوا مِائَةً ، فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً ، وَيَقُولُ : سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً. قَالَ : فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟ قَالَ : مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئاً انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ. قَالَ : أَفَلاَ أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ. ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ : مَا هَذَا الَّذِى أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟ قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ. قَالَ : فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحوا بَابِ ضَلاَلَةٍ. قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْماً يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ ، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِى لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ. ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ ، فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلِمَةَ : رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ

Berkata Imam Ad-Darimi dalam sunannya, “Telah mengabarkan kepada kami Al-Hakam bin Al-Mubarok, ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Yahya”, ia berkata, “Aku mendengar ayahku menyampaikan hadits dari ayahnya”, ia berkata,
“Kami duduk di depan pintu rumah Abdullah bin Mas’ud sebelum sholat subuh, jika ia keluar dari rumahnya maka kamipun berjalan bersamanya menuju mesjid. Lalu datang Abu Musa Al-As’ari dan berkata,
“Apakah Abu Abdirrohman (yaitu Abdullah bin Mas’ud) telah keluar menemui kalian?”

Kami katakan, “Belum”, maka iapun duduk bersama kami hingga keluar Abdullah bin Mas’ud.

Tatkala Abdullah bin Mas’ud keluar dari pintunya kamipun semua berdiri menuju kepadanya, lalu Abu Musa berkata kepada Abdullah bin Mas’ud, “Ya Abu Abdirrahman, aku baru saja melihat suatu perkara yang aku ingkari di mesjid, namun menurutku –alhamdulillah- adalah perkara yang baik”.

Abdullah berkata, “Perkara apakah itu?”

Abu Musa berkata, “Jika engkau panjang umur maka engkau akan melihatnya, aku telah melihat di mesjid sekelompok manusia yang duduk berhalaqoh-halaqoh menunggu sholat. Di setiap halaqoh ada seorang (yang memimpin mereka) dan ditangan mereka ada kerikil-kerikil. Maka orang ini berkata, “Bertakbirlah seratus kali!” maka merekapun bertakbir seratus kali. Ia berkata, “Bertahlillah seratus kali!” maka merekapun bertahlil seratus kali. Ia berkata, “Bertasbihlah seratus kali!” maka merekapun bertasbih seratus kali.”.

Abdullah berkata, “Apa yang kau katakan kepada mereka?”

Abu Musa berkata, “Aku tidak mengatakan sesuatupun karena menanti pendapatmu atau perintahmu”.

Berkata Abdullah, “Kenapa engkau tidak memerintahkan mereka untuk menghitung-hitung kesalahan-kesalahan mereka dan engkau menjamin bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan hilang!”.

Kemudian berjalanlah Abdullah bin Mas’ud dan kamipun berjalan bersamanya hingga ia mendatangi salah satu dari halaqoh-halaqoh tersebut dan iapun berdiri di hadapan mereka dan berkata, “Apa ini yang sedang kalian lakukan?”

Mereka berkata, “Ini adalah kerikil-kerikil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih”.

Abdullah pun berkata, “Hitung saja kesalahan-kesalahan (dosa-dosa) kalian maka aku akan menjamin bahwa tidak ada sedikitpun kebaikan kalian yang hilang. Wahai umat Muhammad sungguh cepat kebinasaan kalian. Para sahabat Nabi kalian masih banyak tersebar, pakaian Nabi kalian masih belum usang dan tempayan-tempayan beliau masih belum pecah. Demi Dzat Yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya kalian sedang berada pada suatu agama yang lebih baik daripada agamanya Muhammad atau kalian adalah pembuka pintu kesesatan”.

Mereka berkata, “Ya Abu Abdirrahman, sesungguhnya yang kami inginkan adalah kebaikan”.

Abdullah berkata, “Dan betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun ia tidak meraihnya. Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan kepada kami bahwa akan ada suatu kaum yang mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka (yaitu hanya di mulut dan tidak sampai ke hati-pen), demi Allah aku khawatir kabanyakan mereka adalah kalian”, kemudian Abdullahpun berpaling dari mereka.

Berkata ‘Amr bin Salamah, “Saya melihat bahwa kebanyakan mereka yang mengadakan halaqoh-halaqoh tersebut telah membela khowarij melawan kami tatkala perang An-Nahrowan”

[HR Ad-Darimi 1/69, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 5/11]

5. Sikap Umar bin Khoththob selaku Khulafaur Rasyidin yang merupakan Salaf yang paling utama, terhadap Hajar Aswad yang berada di Ka’bah. Yang mana Umar melakukan hal ini untuk mengajarkan ummat akan I’tiqod yang benar.

عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270).

6. Ghuluw terhadap benda-benda peninggalan orang sholeh, atau bekas napak tilas kehidupan orang-orang sholeh, atau benda yang bekas dipakai atau pernah dipakai oleh orang Sholeh selain Rasulullah.

Umar bin Khoththob memerintahkan untuk menebang pohon Bai’atur Ridwan, pohon dimana para Sahabat berbai’at berjanji sumpah setia kepada Rasulullah. Yang mana pohon itu ditebang karena mulai bermunculan orang-orang yang ghuluw terhadap pohon itu, hingga beribadah di bawah pohon itu. Yang mana ini akan menjadi penyebab kesyirikan.

Ibnu Waddhah berkata,

سمعت عيسى بن يونس يقول : أمر عمر بن الخطاب ـ رضي الله عنه بقطع الشجرة التي بويع تحتها النبي صلى الله عليه وسلم فقطعها لأن الناس كانوا يذهبون فيصلون تحتها ، فخاف عليهم الفتنة .

“Aku mendengar Isa bin Yunus mengatakan ,

“Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu memerintahkan agar menebang pohon yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menerima baiat (Bai’atur ridhwan) kesetiaan di bawahnya (dikenal dengan pohon Syajaratur ridhwan). Ia menebangnya karena banyak manusia yang pergi ke sana dan shalat di bawahnya, lalu hal itu membuatnya khawatir akan terjadi fitnah (kesyirikan) terhadap mereka.”

[ Al-Bida’u wan-Nahyu ‘Anha, 42. Al-I’tsihâm, 1/346]

Padahal kisah bai’atur Ridwan dibawah pohon itu diabadikan Allah di dalam Al Qur’an. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguh Allah telah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, lalu Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) [Al-Fath/48:18]

7. Kholifah Umar bin Khoththob hanya bertawasul berdoa meminta hujan ketika terjadi musim paceklik kepada Abbas bin Abdul Muntholib. Paman Rasulullah yang masih hidup pada waktu kekholifahan beliau, dan tidak bertawassul kepada kuburan Rasulullah, atau kepada kuburan Abu Bakar (selaku Sahabat yang lebih utama dibandingkan Umar), atau juga ke kuburan Syuhada’ perang Badar. Dan ini diikuti oleh seluruh Sahabat.

Umar bin Khoththob rodhiyalloohu ‘anhu berkata,

اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا

“Ya Allah, sesungguhnya kami bertawassul kepada-Mu lewat perantaraan Nabi-Mu, maka turunkanlah hujan pada kami. Dan sekarang kami bertawassul kepada-Mu lewat perantaraan paman Nabi kami, maka turunkanlah pula hujan pada kami.” (HR. Bukhari no. 1010).

***
Akan tetapi, sikap ghuluw dalam masalah ibadah dan ghuluw kepada orang sholeh (wali, syaikh, Nabi, dan yang semisal) kembali berulang pasca masa Shahabat selaku Salaf yang paling utama berlalu.

Yakni sebagaimana yang paling utama ghuluw yang dilakukan oleh firqoh Tasawuf dalam masalah zuhud, tazkiyatun Nufus (pensucian jiwa), ibadah, dan penghormatannya kepada Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Berikut juga ghuluw penghormatan terhadap syaikh-syaikh Thoriqot atau orang-orang yang dianggap sebagai wali, berikut juga barang-barang bekas peninggalannya. Para pengikut Tasawuf bertawassul dan bertabaruk kepada para wali itu, berikut juga mengkeramatkan kuburan serta barang-barang peninggalannya.

Bahkan tidak jarang kuburan para wali itu dikuburkan di halaman masjid, atau bahkan di dalam masjid itu sendiri, dengan melanggar larangan Rasulullah. Mereka umumnya membuat syubhat dengan berkata bahwa Rasulullah saja dikuburkan di dalam masjid Nabawi, padahal sebenarnya Rasulullah dikuburkan di dalam rumah Aisyah yang berada di samping masjid Nabawi pada waktu itu.

Perluasan masjid Nabawi oleh Kholifah lah yang kemudian sampai memasukkan rumah ‘Aisyah ke dalam halaman masjid Nabawi, padahal sebelumnya telah ditentang oleh Ulama Tabi’in seperti Sa’id bin Musayyab rohimahulloh.

Demikian juga sikap ghuluw mereka terhadap benda-benda peninggalan orang sholeh, atau bekas napak tilas kehidupan orang-orang sholeh, atau benda yang bekas dipakai atau pernah dipakai oleh orang Sholeh selain Rasulullah.

Bahkan dzurriyat (anak keturunan) Rasulullah pada zaman Salaf, sebagaimana Hasan dan Husain beserta keturunannya bukan orang yang diambil bekas minumannya atau dianggap badannya berbarokah sebagaimana Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Apalagi hanya sekedar para Habaib ataupun para syaikh thoriqot sufiyah itu.

***
Sikap-sikap dan ajaran Ghuluw yang menodai I’tiqod Tauhid Uluhiyyah dan yang juga bertentangan dengan manhaj Salaf Ahlus Sunnah Wal Jama’ah inipun juga ditentang oleh para Ulama pada masa ke masa. Para ulama bangkit untuk menerangkan ke-ghuluw-an dan kesesatan mereka. Ini seperti :

1. Ibnul Jauzi dengan menulis kitab Talbis Iblis nya yang membantah keghuluw-an yang dilakukan oleh para pengikut Tasawuf beserta firqoh-firqoh lainnya. Berikut juga kitab Minhajul Qoshidin tulisan beliau untuk merevisi dan menggantikan kitab Ihya Ulumuddin yang bernuansa Tasawuf, yang dipenuhi dengan hadits-hadits lemah dan palsu, dalam masalah Ibadah dan tazkiyatun Nufus.

2. Ibnu Taimiyah dengan kitab beliau Al Farqu baina Auliyaur Rahmaan wa auliyausy Syaithoon, yang ditulis untuk meluruskan keghuluw-an pengikut Sufi kepada orang-orang yang diklaim sebagai wali dan mempunyai banyak karomah yang luar biasa itu.

3. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan kitabut Tauhid beserta kitab-kitab beliau lainnya yang bertujuan untuk memurnikan peribadahan agar murni ditujukan kepada Allah saja, dan untuk membantah syubhat-syubhat seputar itu.

Dan lain-lain dari para ulama yang semisal.

***
Bahkan I’tiqod akan masalah uluhiyyah dan ubudiyyah yang diserahkan kepada selain Allah dengan alasan untuk Tawasul dan Tabaruk ini, sebenarnya juga dilandasi oleh I’tiqod ghuluw Tasawuf terhadap para Syaikh dan wali mereka. Sehingga mereka sampai menempatkan para Syaikh dan wali mereka berada di derajat rububiyah Allah.

Ini seperti I’tiqod mereka bahwa Tasawuf itu memiliki wali Quthub yang ghoib, yang juga ikut mengatur alam semesta ini. Wali dan tokoh mereka memiliki wewenang dan hak prerogratif untuk mengatur siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka. Para wali-wali itu bisa mengatur ataupun mempermainkan Malaikat ketika sedang menjalankan tugasnya. Dan lain-lain yang semisal dari keghuluw-an mereka.

Ghuluw ini juga sampai kepada I’tiqod bahwa para wali atau orang yang menapaki jalan dan tahapan Tasawuf ini bisa menyibak alam ghoib (kasyaf). Mendapatkan ilmu berupa Ilham langsung dari Allah yang diberikan kepada hatinya ataupun lewat mimpi (ilmu Laduni). Ilmu syariat dianggap tidak berlaku bagi mereka, karena mereka dianggap berada di tahapan yang lebih tinggi dari tahapan syari’at. Dan seterusnya.

Dari ini muncul juga anggapan mereka memiliki ilmu dan kemampuan yang luar biasa (khowariqul ‘Adah). Dapat menguasai dan berkoalisi dengan Jin sebagai khodam. Bisa memberikan rekomendasi amalan-amalan tertentu yang dibuat-buat dengan tujuan tertentu (biasa untuk tujuan kesaktian, barokah, mendapatkan khodam jin, dan bahkan praktek sihir yang disamarkan dengan bahasa ruqyah atau ilmu putih). Dapat memberikan jimat-jimat yang diklaim bertuliskan huruf Arab, nomer, sandi-sandi, kode-kode, atau lain-lain yang kadang dicampur dengan Al Qur’an yang dapat memberikan khasiat bagi yang memakai atau membawanya. Mampu meramal dan melihat apa yang akan terjadi pada seseorang. Dapat membantu menemukan benda-benda yang hilang. Dan lain-lain dari praktek perdukunan.

***
Maka dari itu, ghuluw benar-benar merusak agama. Ghuluw dan firqoh Tasawuf membuat seseorang memiliki I’tiqod kepada Allah yang melenceng dari manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Baik itu itiqod dalam masalah Rububiyah Allah, atau bahkan I’tiqod dalam masalah ubudiyah Allah dalam praktek pengamalan mereka.

Advertisements