Manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam i’tiqodnya kepada Allah Ta’ala dalam masalah sifat sifat Nya. Baik itu sifat Dzatiyyah ataupun sifat fi’liyyah Nya (sifat perbuatan). Yang umumnya populer ditentang oleh para Ahlul Bid’ah itu secara garis besar berkisar kepada 3 hal.

Tiga hal itu adalah :

1. Masalah ketetapan Allah dan Rasul-Nya bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah (perkataan Allah atau firman Allah), bukan makhluq ciptaan Allah.

Sehingga Al Qur’an adalah bagian dari sifat Allah Al Kalam (Berbicara), bukan makhluq ciptaan Allah yang tercipta sesuai dengan sifat Allah sebagai Al Kholiq (Sang Maha Pencipta).

Memang apa bedanya?

Bedanya adalah :
Al Qur’an itu wahyu perkataan Allah yang Allah turunkan sebagai petunjuk (Al Huda), sinar (An Nuur), dan Al Furqon (pemisah dan pembeda antara yang Haq dan yang Bathil) bagi manusia.

Jika Al Qur’an dianggap sebagai makhluq ciptaan Allah, maka tentu dia tidak ada bedanya dengan manusia yang sama sama sebagai makhluq ciptaan Allah.

Karena manusia disebut sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, sebagaimana yang Allah sebutkan sendiri di dalam Al Qur’an (Innaa kholaqnal insaana fii ahsanit taqwiim).

Maka manusia dengan akal dan logika nya sebagai makhluq ciptaan Allah jika dia mendapatkan ayat di dalam Al Qur’an yang bertentangan dengan akalnya yang terbatas, ataupun bertentangan dengan kecenderungan hawa nafsu yang dicenderunginya. Maka manusia merasa bahwa akal nya mempunyai otoritas untuk menghakimi ayat Al Qur’an tersebut sesuai dengan akalnya. Atau menolak nya. Atau mentakwil takwilkannya sekehendaknya.

Toh Al Qur’an hanya makhluq ciptaan Allah sama seperti dirinya. Terlebih lagi manusia jelas adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna.

Maka untuk apa tunduk terhadap ayat Al Qur’an, jika kebetulan ayat tersebut bertentangan dengan akalnya, atau tidak sesuai dengan kecenderungan hawa nafsunya.

Di sinilah “goal” yang sebenarnya, yang diinginkan oleh Mu’tazilah yang mendewa dewakan akal dan filsafat itu, sebagaimana yang saya fahami. Oleh karena itulah mereka getol mendakwahkan Aqidah Al Qur’an adalah Makhluq, bukan Kalamullah.

Bahkan hingga memaksakannya melalui tangan penguasa yang berhasil mereka pengaruhi. Sebagaimana yang terjadi pada zaman Imam Ahmad yang disiksa dan dipenjara penguasa karena teguh bahwa Al Qur’an itu adalah Kalamullah, dan bukan makhluq.

Hal inilah juga yang kita lihat dari orang orang Liberal dan pemuja ilmu Kalam (filsafat) yang ada pada zaman ini.

Walaupun mereka telah berkamuflase dan tidak mengatakan Al Qur’an adalah makhluq, seperti Mu’tazilah pendahulu mereka pada zaman dulu. Walaupun mereka memiliki wajah dan modus yang berbeda, namun tujuan mereka sebenarnya sama.

*
Lebih jauh lagi jika kita amati, Aqidah Al Qur’an adalah makhluq yang bathil ini sebenarnya menyerupai filsafat Logos (firman) yang berasal dari Platonisme (Plato dan para pengikutnya).

Sebelumnya sebagian Ahlul Kitab karena pengaruh filsafat, memang telah mengadopsi filsafat logos ke dalam Aqidah nya. Sehingga dengan berdasarkan kajian modern Barat sendiri, mereka terbukti telah menyisipkan ayat palsu yang penuh dengan muatan filsafat Logos ke dalam kitab suci mereka.

Sehingga sebagian Ahlul kitab itu sampai mengatakan bahwa Firman (logos) itu awal mulanya adalah bersama sama Allah dan dia adalah Allah. Hingga kemudian Firman (Logos) itu menjelma menjadi manusia yang kemudian hidup di antara mereka.

Dan itulah memang yang tersebut dalam kitab suci mereka, yang belakangan melalui kajian modern Barat sendiri diketahui bahwa itu hanyalah ayat ayat palsu yang disisipkan.

Filsafat Logos yang diadopsi sebagian Ahlul Kitab ini, menyerupai Aqidah Al Qur’an adalah Makhluq yang dikembangkan oleh Mu’tazilah dengan gaya pendekatan dan modus yang berbeda.

Walloohu A’lam

*
2. Masalah ru’yatulloh (melihat Allah) di akhirat kelak, bagi para hamba Nya yang beriman.

Sebagaimana ini yang dikabarkan oleh Rasulullah sendiri dalam hadits nya yang Shohih.

*
3. Masalah dimana kah Allah itu (ainalloh), yang mana hal ini bercabang kepada tiga hal :

a. Masalah khobariyyah sifat dzatiyyah ketinggian Allah, bahwa Allah tinggi di atas semua makhluq Nya.

Yang mana ketinggian Allah ini (Uluwwulloh) diperinci dengan khobariyyah wahyu lainnya, bahwa Allah bersemayam di atas Arsy (singasana) yang juga merupakan makhluk ciptaan Nya, yang berada di atas langit ke tujuh

b. Masalah khobariyyah dari Rasulullah yang Shohih, bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia setiap 1/3 malam terakhir sesuai dengan keagungan dan kesucian Nya, untuk mengampuni dan mengabulkan doa Hamba Nya yang berdoa dan beristighfar.

c. Masalah ma’iyyatulloh (kebersamaan Allah) dengan para hamba Nya, yang mana hal ini tidak menghalangi keberadaan Dzat Allah tinggi di atas Arsy Nya (singasana Nya), di atas langit yang ke 7.

***
Manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah menerima dan menetapkan semua hal itu apa adanya, sebagaimana yang dikabarkan dalam ayat Al Qur’an yang jelas dan Sunnah Rasulullah yang Shohih.

***
Adapun Para Ahlul Bid’ah pengikut hawa nafsu itu menentangnya, walaupun Al Qur’an dan As Sunnah yang Shohih telah mengabarkannya.

Mereka juga menentangnya walaupun para Sahabat selaku Salaf yang utama, bersama dengan Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in selaku Salaf yang mengikuti Sahabat, telah menetapkan sifat sifat Allah itu apa adanya dengan tanpa mentakwilkannya ataupun menyamakannya dengan makhluk ciptaan Nya. Dan juga tidak menanyakan bagaimana nya (takyif), karena hal itu di tafwidh (diserahkan) kepada Allah sesuai dengan kemuliaan dan kesucian Nya.

Para Salaf tidaklah mentafwidh arti dan makna dhohir yang ditunjukkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah dalam bahasa Arab yang jelas apa adanya. Bahkan mereka menetapkan nya dengan tanpa mentakwilkannya, ataupun menyamakannya dengan makhluk Nya walaupun kata yang digunakan sama.

Akan tetapi yang mereka tafwidh itu hanyalah masalah bagaimana nya saja (takyif). Mereka mengimaninya, membenarkan nya, dan tidak mempertanyakan bagaimana nya.

***
Para Ahlul Bid’ah pengikut hawa nafsu menentangnya, karena dianggap tidak sesuai dengan “apa yang mereka anggap baik”.

Dan para penerus Ahlul Bid’ah itu tetap bertahan sejak dari zaman Salaf hingga ke zaman kita sekarang ini, walau dengan bentuk dan gaya penyampaian yang berbeda dalam memahami sifat sifat Allah.

Advertisements