Manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang paling awal mengenai i’tiqod yang benar kepada Allah subhaanahu wa ta’aala, juga berkaitan dengan masalah pemahaman dan definisi “iman” itu sendiri.

Ketika Al Qur’an diturunkan pada zaman Rasulullah, tidak ada perselisihan dan kebid’ahan dalam memahami iman. Demikian juga pada masa Sahabat radhiallahu’anhu anhum.

***
Iman difahami dengan benar, yakni ketika turun ayat perintah dan larangan Allah maka orang orang yang beriman akan berkata “Sami’naa wa Atho’naa” (kami dengar dan taat). Mereka langsung menjalankan nya semampunya, karena mereka memahami bahwa amal itu bagian dari iman. Demikian lah sikap dan pemahaman para sahabat selaku Salaf yang paling utama.

Begitu juga ketika turun ayat ayat ataupun hadits yang berkaitan dengan khobariyyah, terutama hal-hal yang ghoib dan ghoiru ma’qul seperti surga, neraka, malaikat, hari Akhir, dan lain lain. Maka mereka para Sahabat selaku Salaf yang paling utama, langsung beriman dengan membenarkannya dan mempercayainya.

Mereka juga langsung mengatakan apa yang mereka benarkan dan imani itu langsung dengan lisan mereka secara jujur, sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. Mereka tidak menyembunyikan atau menutup nutupinya, karena perkataan lisan itu adalah bagian dari iman.

***
Maka dari itu iman difahami dan didefinisikan dengan 5 Point berikut ini :

1. Iman itu adalah yaqin dan membenarkan dalam hati, mengatakan dan membenarkan dengan lisan, dan mengamalkannya dengan perbuatan.

2. Iman itu naik dan turun kadarnya dalam diri seorang muslim. Iman itu dapat bertambah dan berkurang.

Naik dan bertambah karena amalan ketaatan nya (baik itu dengan amalan hati, amalan lisan, ataupun amalan anggota badan), dan turun serta berkurang karena kemaksiatan nya (baik itu kemaksiatan hati, kemaksiatan lisan, ataupun kemaksiatan perbuatan).

3. Iman itu bercabang cabang hingga 60 atau 70 cabang. Yang tertinggi dan paling utama adalah ucapan kalimat tauhid “laa ilaaha illallaah”, yang mana tentu saja dengan memenuhi syarat, rukun, dan konsekuensi dari kalimat “laa ilaaha illallaah” itu, dan tidak hanya sekedar mengucapkan nya saja. [lihat free Ebook kami Risalah Tauhid jilid 1 untuk memahami kalimat tauhid Laa ilaaha illallaah ini lebih jauh]

Sedangkan cabang keimanan yang paling rendah adalah sekedar menyingkirkan ranting pohon dari jalanan, agar tidak mengganggu orang yang lalu lalang.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan ‘Laailaahaillallah’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Iman itu bukanlah satu kesatuan yang utuh sebagaimana pemahaman Khowarij. Yang mana jika hilang satu cabang nya, maka otomatis hilang seluruh keimanan nya sehingga dia dikafirkan.

Maka dari itu Khowarij mengkafirkan pelaku dosa besar, sedangkan manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak otomatis mengkafirkan nya kecuali dengan perincian hingga terpenuhi sebabnya, syaratnya, dan hilangnya penghalang nya atau udzur nya.

Membenci dan mengingkari pelaku kemaksiatan dan dosa besar, iya. Dan itu wajib. Namun langsung otomatis mengkafirkan nya, maka tidak kecuali dengan perincian.

5. Manhaj Salaf Ahlus Sunnah juga tidak mengeluarkan “amal” dari pemahaman dan definisi iman sebagaimana halnya Murji’ah.

Sehingga Murji’ah beranggapan bahwa iman itu hanya sekedar tashdiq (membenarkan) di hati dan lisan saja. Dan amal perbuatan dianggap tidak mempengaruhi iman walaupun dia melakukan kemaksiatan, kedzoliman, dan kekufuran.

Iman menurut Murji’ah juga adalah satu kesatuan yang sempurna seperti halnya Khowarij. Hanya saja bedanya, murjiah menganggap satu kesatuan sempurna dengan cukup hanya sekedar tashdiq (membenarkan) di hati dan lisan saja. Dan amal perbuatan dianggap tidak mempengaruhi iman.

Sehingga sebagian Murji’ah mengatakan “saking pede nya” dengan kesempurnaan iman mereka, bahwa iman mereka itu seperti keimanan malaikat Jibril.

Iman menurut Murji’ah itu tetap dan konstan kesempurnaan nya. Amalan ketaatan ataupun kemaksiatan dianggap tidak mempengaruhi tetap dan konstan nya Iman.

Maka dari itu lah murjiah juga melakukan Pemberontakan kepada Ulil Amri seperti halnya Khowarij. Bedanya Khowarij melakukan hal itu karena menganggap Ulil Amri otomatis kafir karena tidak memenuhi definisi iman mereka, serta menganggap pemberontak nya itu adalah jihad dan amal sholeh untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sedangkan Murji’ah melakukan pemberontak karena mereka merasa tidak berdosa melakukan hal itu. Mereka merasa bahwa hal itu tidak akan mempengaruhi kesempurnaan iman mereka. Mereka melakukan Pemberontakan hanya karena mereka tidak suka melihat kedzoliman pemerintahan.

Advertisements