Kalau komentar saya :

Misal kita menulis mengenai kewajiban dan seharusnya seorang muslim itu harusnya bagaimana, maka tentu kita tulis seideal idealnya dan harusnya bagaimana seseorang muslim itu bersikap.

Misal : hadits Al muslimu man salimal muslimuuna min lisaanihi wa yadihi.

Namun kalau prakteknya ada seorang muslim yang suka bikin fitnah dan kotor mulutnya. Suka ringan tangan dan berbuat kerusakan.

Maka apa berarti karena dia tidak menjalankan tuntunan bagaimana seharusnya seorang muslim itu, dia terus otomatis batal keislaman nya dan bukan muslim?

Hal yang serupa juga dengan ulil Amri.

Maka dari itu hadits Rasulullah masalah ulil Amri itu Masya Allah komplit banget. Beliau juga menyebutkan bagaimana jika ulil Amri “mbalelo” dan tidak melakukan kewajibannya sebagaimana seharusnya.

Dan apakah jika ulil Amri tidak melakukan kewajibannya sebagaimana mestinya, lalu otomatis hilang status nya sebagai ulil Amri?

Dikemanakan hadits hadits Rasulullah “kalian akan melihat perkara perkara yang kalian ingkari”, “mengambil pedoman petunjuk bukan petunjukku, memakai sunnah bukan sunnah ku. Seperti Syaitan berada di jasad seorang laki-laki”, “Pemimpin yang Atsaroh” dan seterusnya itu?

Dikemanakan juga definisi Salaf mengenai ulil Amri “mbalelo” dari Umar bin Khoththob yang bersumber dari Suwaid bin Ghafalah yang berkata “merendahkan atau mengecilkan akan agama kalian”. Atau dari Ali yang berkata “Ulil Amri yang sholeh ataupun yg jaa-ir (bengkok. Alias semena mena, dzolim).”

Advertisements