Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata,

“Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhûr.

Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang.

Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.”

[Madârijus Sâlikîn (II/270)]

***
Intermezzo :
Tapi kalau mau melamar harus berani ya, jangan banyakan alasan malu

Advertisements