العلامة صالح الفوزان

Al ‘Allamah Syaikh Sholih Al Fauzan hafidzahullah

يقول :
Ditanyakan kepada beliau :

أحسن الله إليكم
هل من منهج السلف أنه إذا أخطأ أحد الدُعاة وخالف نهج السلف أن يُنشر خطأؤه عبر وسائل الإعلام والرسائل ؟

Semoga Allah membaguskan dirimu Syaikh (Ahsanallah),
Apakah termasuk manhaj salaf jika ada seorang da’i yang terjatuh dalam kesalahan dan menyelisihi manhaj salaf, untuk dijelaskan kesalahannya melalui media media informasi dan risalah risalah tulisan?

الجواب:
Jawab :

إذا كان نشر قوله على الناس فلابد من نشر الرد عليه لبيان الحق أما إذا كان ماأنتشر قوله فإنه يُناصح ويكفي هذا .نعم

“Apabila ia menyebarkan perkataannya kepada khalayak manusia umum, maka wajib diberikan bantahan yang ditujukan atasnya, yang juga disebarkan, dalam rangka menjelaskan kebenaran.

Namun jikalau perkataannya yang keliru tidak disebarluaskan ke khalayak umum (atau tidak tersebar), maka orang tersebut cukup dinasehati saja (dan tidak perlu disebar luaskan kesalahannya), na’am”.

Sumber : http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=134630

***
Di sisi lain Syaikh Sholeh Al Fauzan Hafidzahullah juga berkata,

قول فضيلة الشيخ العلاَّمة / صالح بن فوزان الفوزان حفظه الله:
قال فضيلة الشيخ صالح الفوزان في كتابه ” الأجوبة المفيدة على أسئلة المناهج الجديدة ” ص ( 13 ) إجابة على سؤال: هل يلزمنا ذكر محاسن من نحذر منهم ؟

Berkata Fadhilatusy Syaikh Shaleh al-Fauzan di dalam kitabnya “al-Ajwibah al-Mufidah ‘ala as ilatil manahijil jadidah” hal 13, ketika menjawab pertanyaan:

“Apakah menjadi sebuah keharusan menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang kita memperingatkan umat darinya (dari kesalahannya dalam masalah manhaj)?”

فأجاب الشيخ: إذا ذكرت محاسنهم فمعناه أنك دعوت لهم، لا.. لا, لا تذكر محاسنهم اذكر الخطأ الذي هم عليه فقط؛ لأنه ليس موكولاً إليك أن تدرس وضعهم و تقوم، أنت موكول إليك بيان الخطأ الذي عندهم من أجل أن يتوبوا منه، ومن أجل أن يحذره غيرهم، أما إذا ذكرت محاسنهم، قالوا: الله يجزاك خير, نحن هذا الذي نبغيه….. اهـ.

Syaikh Sholeh Al Fauzan hafidzahulloh menjawab :

Apabila engkau menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka maka ini artinya (seperti) engkau menyeru agar mengikuti mereka.

Jangan…., Jangan, jangan engkau sebutkan kebaikan-kebaikan mereka. Sebutkan kesalahan-kesalahan (manhaj) yang ada pada mereka saja!

Karena engkau tidak diberi tanggung jawab untuk mempelajari keadaan mereka dan menilai mereka.

Akan tetapi engkau hanya diberikan tanggung jawab untuk menjelaskan kesalahan (manhaj) yang ada pada diri mereka, supaya mereka bertaubat dari kesalahan tersebut (dengan cara menasehatinya), dan supaya orang-orang lain berhati-hati darinya.

Adapun bila engkau menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, maka mereka akan mengatakan: “Semoga Allah membalas kebaikan anda, inilah yang kami harapkan”…… selesai penukilan dari beliau.

Sumber : http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=120146

***
Sedikit catatan dari saya,
Hendaklah itu dilakukan secara proporsional dan melihat mashlahat-madhorot. Lihat-lihat sikon juga.

لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ

Di tiap-tiap tempat (atau kedudukan) itu ada perkataannya sendiri yang sesuai.

Dan di tiap-tiap perkataan itu ada tempat (atau kedudukan) nya sendiri yang sesuai

Bukan hal yang bijak engkau menasehati pemabuk ketika mereka sedang mabuk. Tapi jangan mudah tertipu juga dengan orang yang suka main playing victim, dan ngeles mulu kayak belut dikasih oli.

Bedakan juga antara “tergelincir” dan “terjatuh”, karena tingkat kesalahan orang dalam masalah manhaj itu berbeda-beda. Orang yang nggak mudeng apa-apa dan hanya sedekar ikut-ikutan itu, harus disikapi berbeda dengan orang yang pada tingkatan yang lebih tinggi dari mereka.

Jangan “darah muda” terus…. Pake “ilmu tuwo” juga kalau kata orang Jawa

Advertisements