Orang yang gemar bersumpah atas nama Allah dan suka menantang mubahalah itu adalah orang yang berakhlak buruk.

Karena banyak bersumpah itu tercela, dan mubahalah itu pada dasarnya adalah doa saling laknat.

Orang yang banyak bersumpah itu seakan hanya menganggap nama Allah itu adalah perkara yang mudah dilontarkan.

Mari kita simak sedikit kutipan dari fatwa Syaikh Ibn Baaz berikut :

***
HUKUM BANYAK BERSUMPAH, BENAR ATAUPUN DUSTA

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya :
Saya memiliki kerabat yang banyak sekali bersumpah atas nama Allah, baik dia ucapkan secara benar ataupun dusta ; apa hukumnya?

Jawaban.
Dia harus dinasehati dan dikatakan kepadanya, “Seharusnya kamu tidak memperbanyak bersumpah sekalipun kamu benar” dan hal ini berdasarkan firmanNya.

واحفظوا أيمانكم

“Dan jagalah sumpah-sumpah kamu”(QS. Al Maidah : 89)

Juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Tiga orang yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat dan tidak Dia sucikan mereka bahkan mereka mendapatkan adzab yang pedih (yaitu) :

– Seorang yang sudah bercampur rambut hitam dan putihnya (orang yang sudah tua) lagi pezina,
– Seorang fakir lagi sombong,
– dan seorang laki-laki yang Allah jadikan dia tidak membeli barangnya kecuali dengan bersumpah atas namaNya dan tidak menjual kecuali dengan bersumpah dengan bersumpah atas namaNya”

[Lihat Al-Mu’jam Al-Kabir karya Ath-Thabrani (6111), Al-Mu’jam Al-Awsath senada dengan itu (5577), Al-Haitsami berkata di dalam kitabnya Majma Az-Zawa’id ; para periwayatnya adalah para periwayat pada kitab Shahih.]

Untuk fatwa selengkapnya, lihat : https://almanhaj.or.id/1459-hukum-banyak-bersumpah-benar-at…

***
Rasulullah pernah diminta untuk melaknat kaum musyrikin yang mendzolimi nya, maka beliau menolak dan berkata bahwa beliau itu diutus bukan untuk menjadi pelaknat.

قيل : يا رسول الله ! ادع على المشركين . قال ” إني لم أبعث لعانا . وإنما بعثت رحمة “. رواه مسلم

”Dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:” Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam! Doakanlah keburukan (laknatlah) atas kaum musyrikin.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:” Sesungguhnya aku diutus bukan sebagai pelaknat, namun aku diutus sebagai rahmat (pembawa kasih sayang) (HR. Muslim)

Doa laknat disyariatkan dalam perkara tuduhan zina antara suami Istri, dan ini semisal dengan perkara mubahalah (doa saling laknat) yang sedang kita bahas, sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an mengenai Li’an.

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُن لَّهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِن كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَن تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِن كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu adalah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika ia termasuk orang-orang yang berdusta. Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas Nama Allah se-sungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima bahwa laknat Allah atas-nya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.” [An-Nuur: 6-9]

Namun opsi ini diberikan jika misal sudah tidak bisa ke pengadilan karena bukti tidak cukup, ini tampak jelas sebagaimana yang disebutkan dalam QS An Nuur ayat 6 itu sendiri.

Nah kalau selama masih ada bukti, ya maju dulu ke pengadilan.

Kalau setelah ketemu di pengadilan mau ngajak mubahalah di sana setelah jalur hukum kurang bisa menyelesaikan, maka ya monggo

***
Ini adalah perincian tahapan doa saling laknat dalam masalah pidana. Sebagaimana tahapan hukum yang kita ambil dari permasalahan tuduhan zina antar suami Istri.

Adapun jika berkaitan dengan masalah Aqidah, maka boleh mubahalah jika semisalnya dakwah dan iqomatul hujjah sudah tidak bisa dan kemadhorotan semakin besar.

Ini sebagaimana mana yang disebut dalam QS Ali Imron : 59 – 61

إنَّ مَثَلَ عِيسَى عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ . الْـحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلا تَكُن مِّنَ الْـمُمْتَرِينَ . فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنفُسَنَا وأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.

(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran: 59 – 61)

Jika ditanyakan apakah mubahalah dalam masalah Aqidah ini ada tahapan dan adab adabnya juga?

Ya, jelas ada. Yakni ketika dakwah dan iqomatul hujjah sudah tidak bisa, dan kemadhorotan semakin besar. Jadi tidak langsung ujug ujug main nantang mubahalah.

Ini namanya tidak tahu adab dan berakhlak buruk.

Sebab jika dakwah dan mubahalah dalam masalah Aqidah ini tidak ada tahapannya, maka QS Ali Imron : 59-61 itu akan bertentangan dengan cara dakwah yang khusus Allah perintahkan kepada Ahlul kitab dalam QS Al Ankabut : 46.

وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (٤٦) وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ فَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمِنْ هَؤُلاءِ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا الْكَافِرُونَ (٤٧

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri (taat) [QS Al Ankabut : 46]

Jadi QS Ali Imron : 59-61 dan QS Al Ankabut : 46 itu “Apple to apple” karena membahas masalah Ahlul Kitab, dan dari sinilah kita memahami tahapan tahapan dakwah dan mubahalah dalam masalah Aqidah.

***
Maka mubahalah itu ada adab adabnya, tahapan tahapannya juga.

Termasuk orang yang memiliki adab dan akhlak yang buruk orang yang suka bersumpah atas nama Allah, dan suka menantang bermubahalah tanpa memandang tahapan tahapannya sebagaimana yang diajarkan dalam syariat.

Jika itu adalah masalah duniawi atau yang berhubungan dengan personal, maka silakan maju ke pengadilan terlebih dahulu.

Jika itu adalah masalah Aqidah, maka silakan berdakwah dan iqomatul hujjah dengan cara yang hikmah.

Advertisements