Ketika liberalisme dan pluralisme berkembang, tahdzir dan pengingkaran hanya dilakukan oleh beberapa orang di kelompok itu.

Sedangkan yang lainnya selalu mencoba mentolerir nya. Bahkan sebagian pimpinan nya ada yang menjadi tokoh Pluralis Liberal juga.

Adapun ketika tokoh pimpinan utama nya dicela, maka baru semua orang di kelompok itu kompak mengingkari dan mencelanya. Bahkan sebagian dari yang liberal Pluralis juga ikut mencelanya.

Demikianlah jika suatu kelompok itu manhaj nya berbasiskan Sufi dan Filsafat. Dan metode dakkwahnya hanya semata mengumpulkan orang untuk mendidiknya atas dasar taqlid dan ta’ashub.

Ketokohan dalam memahami agama dan panutan untuk menjalankan agama itu dianggap nomor satu.

Sedangkan Al Qur’an dan As Sunnah dimarginalkan, dianggap bisa ditolerir pelecehan atasnya dengan mengatasnamakan tafsir dan khilafiyah

Advertisements