Menunggu atau Mempersiapkan Kematian?

Leave a comment

Kalau kita hidup hanya untuk “menunggu” kematian, maka apa bedanya dengan orang kafir?

Tapi kalau kita hidup untuk “mempersiapkan” kematian, maka ini baru muslim yang kuat Aqidah nya.

Advertisements

Seberapa jauh sih kita merindukan nya?

Leave a comment

Sekarang masih bulan jumadil ula. Habis itu jumadil akhir, rajab, sya’ban, dan baru kita bertemu bulan Ramadhan kembali.

Jadi total kira kira 3-4 bulan lagi insya Allah kita akan bertemu Ramadhan kembali.

Saya sebenarnya mempunyai tulisan Free ebook berkaitan dengan hadiah dan bekal untuk menyambut bulan Ramadhan.

Baik itu dari persiapan menyambut bulan ramadhan, hikmah dan fiqh nya, keutamaan nya, hingga masalah akhir bulan Ramadhan beserta amalan di bulan Syawal nya.

Bagi yang berminat, bisa mengunduh nya disini :

https://kautsaramru.files.wordpress.com/…/ebook-hadiah-dan-…

Status ini akan saya usahakan saya share lagi tiap bulan baru, agar kita aware akan kedatangan bulan Ramadhan.

Karena jika kita mencintai nya, maka kita akan mempersiapkan nya dan menyambutnya walau masih jauh jauh hari.

Apakah itu betul?

Lesson Learn dari Menghadapi Mukholif

Leave a comment

Sesuai perkataan saya sebelumnya, demi menjaga kenyamanan para tetangga yang telah banyak memberikan complain dan masukan kepada diri saya.

Maka batas waktu 3 x 24 jam yang saya berikan telah habis.

Dan akun akun yang saya pandang telah meresahkan itu,
Yang menghilangkan kenyamanan bertetangga dengan saya untuk saling berbagi faedah ilmu, Yang kurang memiliki itikad baik untuk menjadi tetangga yang baik,

Telah saya unfriend.

Semoga ini bisa mengembalikan kenyamanan para ikhwah semua ketika berteman dengan akun FB saya ini.

***
Namun dari semua peristiwa ini, ada baiknya saya sebutkan lesson learn yang bisa kita ambil ilmu darinya.

Banyak sebenarnya ilmu dan praktek nyata yang bisa kita ambil dari hal ini, walau bukan dengan konotasi yang baik.

1. Kita telah belajar masalah sikap dzul wajhain (memiliki dua muka) dan Ghooibul Haya’ (hilangnya rasa malu).

2. Kita telah belajar masalah teknik penyesatan berpikir (logical fallacy) dan praktik langsung dari strawman, playing victim, appeal to force, dan Argumentum ad hominem.

3. Khusus mengenai appeal to force, kita telah belajar bahwa bertemu itu baiknya di kepolisian atau di pengadilan. Kita belajar juga dari appeal to force agar tidak memberikan KTP, foto, dan no HP secara sembarangan.

Karena teror telepon itu bisa menimpa tidak hanya kita, tapi juga berefek pada keluarga kita.

Kita juga bisa didatangi baik di rumah kita atau tempat kita mencari nafkah untuk menyelesaikan masalah secara appeal to force. Sebagaimana hal ini pernah terjadi.

Keluarga kita juga tidak terlepas dari bahaya appeal to force ini. Maka dari itu jangan tertipu dengan bahasa silaturahim, koordinasi, dan yang semisal.

4. Kita telah belajar bahwa melaporkan ke kepolisian guna diproses secara pidana ke pengadilan itu tidak memerlukan No HP, KTP, atau yang semisal dari yang dilaporkan.

Cukup ada bukti awal dan pihak yang melaporkan ke kepolisian, maka polisi akan langsung bisa mengusut dan menyidik.

5. Kita juga telah belajar perincian buruknya suka bersumpah atas nama Allah dan suka menantang mubahalah.

Dikit dikit sumpah, dikit dikit nantang mubahalah. Padahal hal ini ada tahapan tahapannya dan juga hikmahnya, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.

Bukan malah ini digunakan secara semena mena demi kepentingan appeal to force.

6. Perlu dicatat juga bahwa kombinasi Playing victim dan appeal to force itu hal yang sering terjadi.

Hingga pada prakteknya terjadi tipuan merasa terdzolimi (playing victim) yang kemudian orang tersebut bisa semena mena mendoakan keburukan kepada orang yang dianggap mendzolimi nya.

Dan ini terjadi berulang ulang. Sehingga tampak bahwa ini adalah adab yang buruk kepada Allah, demi membenarkan logical fallacy appeal to force nya.

7. Lebih lanjut mengenai playing victim, kita juga telah belajar boleh berkata buruk mengenai hakikat seseorang ketika orang tersebut dzolim kepada kita, agar umat mengetahui keburukan orang itu.

Maka playing victim bahwa orang yang mengungkapkan keburukannya, sebagai orang yang dituduh balik buruk adab dan buruk akhlaknya itu tidak berlaku disini.

Bahkan justru perkataan yang buruk untuk mengungkapkan keburukan seseorang, agar orang lain waspada kepadanya itulah yang sebenarnya merupakan akhlak yang baik.

8. Kita juga belajar masalah Strawman atas nama “Baper”.

Yang mana si Juki hanya berkata A, namun si Mukidi karena baper bisa berkata B hingga Z untuk menuduh Juki.

Padahal Juki tidak pernah ngomong atau membicarakan kecuali A, namun atas nama “baper” semua dianggap bisa dihubung hubungkan oleh Mukidi guna menuduh Juki.

Demikianlah manhaj wanita Strawman dan baper ini.

***
Bagaimana?

Banyak bukan yang sebenarnya telah kita pelajari, walau melalui proses yang tidak nyaman?

Ini ilmu yang mahal sebenarnya, dan kita beruntung bisa mendapatkan langsung dari praktik nyata yang ada walaupun itu menimbulkan keresahan.

Itulah tantangan tantangan manhaj dan dakwah yang kadang harus kita hadapi.

Akan tetapi itu insya Allah sudah berlalu.

Kita akan fokus lagi untuk saling berbagi faedah ilmu dan manhaj ke depannya Insya Allah.

Semoga ini bisa mengembalikan kenyamanan yang ada lagi dalam “bertetangga” dengan akun saya ini.

***
Sekarang jika misal ada yang membuat tidak nyaman lagi langsung beritahu saya saja. Sekarang sudah tidak pakai batas waktu 3 x 24 jam lagi.

Saya insya Allah akan bisa langsung bertindak jika ada oknum oknum yang meresahkan tetangga saya.

Kalau bisa dibina ya kita bina. Kalau tidak bisa, maka terpaksa kita unfriend.

Namun tentu saja unfriend itu bukan hanya karena masalah ini saja. Jadi jangan difahami bahwa jika di unfriend itu pasti karena masalah ini.

Sekedar intermezzo :
Kalau misal antum punya hutang sama temen, maka ya jangan di unfriend temen antum donk gara gara dia nagih utang. Itu hak dia hehee… 🙂

***
Terakhir, status ini bersifat umum sama seperti status status saya lainnya.

Ini hanya sekedar perkataan umum untuk pelajaran kita bersama.

Jadi tidak perlu sebut nama, cukup kita introspeksi diri kita sendiri saja.

Jika misal masih ada lesson learn yang terlewat, maka silakan saja tulis di comment agar bisa kita ambil faedah nya bersama sama.

Manhaj dan Dakwah

Leave a comment

Kita ini manhaj dan dakwah. Bukan baper dan dakwah. Bukan konspirasi dan dakwah. Apalagi nada dan dakwah.

Logical Fallacy Strawman

Leave a comment

Akan saya ajarkan logical fallacy Strawman (orang orangan sawah)

Strawman fallacy adalah sebuah penyesatan cara berpikir yang terjadi ketika seseorang dengan sengaja atau baper salah merepresentasikan posisi atau argumen lawan diskusi, lalu menyerangnya seakan-akan itulah pandangan/posisi/argumen lawan diskusi.

***
Seperti misal si Juki berkata mengenai masalah A, tapi si Mukidi karena baper kemudian menuduh Juki berkata masalah B. Karena menurut anggapan Mukidi, masalah B itu adalah pandangan dari si Juki.

Padahal Juki tidak pernah ngomong apa apa mengenai B. Dan B itu sebenarnya tidak ada hubungan nya dengan masalah A yang sedang dibicarakan.

Tapi karena “baper” maka apapun jadi, dan bisa dihubung hubungkan.

Ini mirip seperti contoh apa apa mesti dihubungkan dengan konspirasi mamarika, wahyudi, dan laminating.

***
Kenapa dikatakan strawman (orang orangan sawah)? Karena ini digunakan untuk mengecoh para burung agar orang orangan sawah itu dikira sang petani.

Sehingga alih alih berhati-hati dari sang petani, para burung itu akan berhati-hati dan lebih menanggapi orang orangan sawah yang dituduhkan Mukidi karena baper.

Jadinya gimana kalo terjadi seperti itu?

Bagusnya Mukidi disuruh mandi dulu aja biar seger, dan suruh makan biar nggak lapar. Biasanya itu kalo laper dan belum mandi itu orang nya ngomongnya ngaco, mana ngeyel lagi.

Orang itu kadang rese kalo belum mandi dan lapar.

Lho kok pake belum mandi segala?? Bukannya rese itu kalo lapar aja?

Iya benar. Ini cuma agar nggak dibilang niru niru iklan saja Hehe.

***
Kalau di pengadilan ketika terjadi seperti ini, maka akan langsung dikatakan,

“Objection your majesty, that’s irrelevant ”

Atau

“Objection your majesty, that’s not what we said”

Makanya memang sebaiknya ke pengadilan saja, agar orang orang yang nggak faham tipu tipu model ini tidak dikadalin dan mengikuti alur Strawman.

Orang yang paling jahat adalah orang yang bermuka dua dengan tanpa udzur yang dibolehkan syariat

Leave a comment

Hukum Bermuka Dua

Pertanyaan :

Apakah hukumnya bermuka dua yang menghadapi manusia dengan penampilan yang berbeda-beda. Kami mengharapkan dalil atas hal tersebut ? Semoga Alloh Subhanahu Wata`ala membalas kebaikan atas kalian.

Jawaban :

Orang yang bermuka dua, yang menghadapi sesuatu dengan wajah/penampilan seperti ini dan menghadapi yang lain dengan wajah/penampilan yang lain, adalah sejahat-jahat manusia.

Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi Shallallahu` Alahi Wasallam, dan ia adalah salah satu jenis nifaq.

Apabila hal ini sudah mewabah di suatu masyarakat, berarti masyarakat ini adalah tidak lurus. Setiap orang dari komunitas ini tidak percaya terhadap yang lain, selanjutnya tercerai berailah masyarakat itu. Banyak terjadi penipuan dan perbuatan khianat.

Manusia paling jahat pada hakikatnya adalah yang bermuka dua.Sebagaimana terdapat dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam.

“Yang mendatangi mereka dengan satu wajah dan mendatangi yang lain dengan wajah yang berbeda.”(HR.Al-Bukhori dalam al-manaqib (3494);muslim dalam al-Birr(2536).

Seorang muslim harus waspada terhadap perkara ini dan memperingatkan darinya sehingga tidak terjadi berbagai kerusakan yang telah kami jelaskan sebagian di antaranya.

Fatwa syaikh Utsaimin yang beliau tanda tangani

Sumber : Fatwa-Fatwa Terkini jilid 3, hal. 397 cet, Darul Haq, Jakarta.

***

Tanya :

Udzur yg dibenarkan syariat contohnya apa Ustadz?

Jawab :

Yang dimaksud adalah sebagaimana contoh hadits Rasulullah berikut ini,

Seorang lelaki meminta untuk bertemu dengan Rosululloh. Beliaupun berkata: “Izinkan dia. Sungguh dia anak keluarga yang jelek – atau sungguh dia saudara keluarga yang jelek –“ namun ketika dia masuk, beliau berkata lemah lembut padanya.

Aisyah berkata: “Akupun berkata kepada beliau: “Wahai Rosululloh, tadi Anda berkata begini dan begitu namun Anda berkata lemah lembut padanya.”

Beliaupun bersabda:

أَيْ عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ مَنْ تَرَكَهُ – أَوْ وَدَعَهُ – النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah yang dihindari oleh manusia karena khawatir akan kejahatannya.” [Hr. Bukhari]

 

Tanya :

Muka dua dan muka tebal (tidak tahu malu).. kira’kira bahaya mana bang Kautsar Amru?

Jawab :

Dua hal itu biasanya satu paket.

Ada lagi paket tambahan yang bisa disertakan seperti paket Strawman, paket Playing Victim, paket Argumentum ad Hominem, dan paket Appeal to force.

Biasanya itu dijual terpisah. Tapi kalau ada paket Promo, dan semua itu ada jadi satu. Maka itu yang saya sebut paling berbahaya.

Buruknya Adab dan Akhlak orang yang suka bersumpah atas nama Allah dan suka menantang mubahalah

Leave a comment

Orang yang gemar bersumpah atas nama Allah dan suka menantang mubahalah itu adalah orang yang berakhlak buruk.

Karena banyak bersumpah itu tercela, dan mubahalah itu pada dasarnya adalah doa saling laknat.

Orang yang banyak bersumpah itu seakan hanya menganggap nama Allah itu adalah perkara yang mudah dilontarkan.

Mari kita simak sedikit kutipan dari fatwa Syaikh Ibn Baaz berikut :

***
HUKUM BANYAK BERSUMPAH, BENAR ATAUPUN DUSTA

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya :
Saya memiliki kerabat yang banyak sekali bersumpah atas nama Allah, baik dia ucapkan secara benar ataupun dusta ; apa hukumnya?

Jawaban.
Dia harus dinasehati dan dikatakan kepadanya, “Seharusnya kamu tidak memperbanyak bersumpah sekalipun kamu benar” dan hal ini berdasarkan firmanNya.

واحفظوا أيمانكم

“Dan jagalah sumpah-sumpah kamu”(QS. Al Maidah : 89)

Juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Tiga orang yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat dan tidak Dia sucikan mereka bahkan mereka mendapatkan adzab yang pedih (yaitu) :

– Seorang yang sudah bercampur rambut hitam dan putihnya (orang yang sudah tua) lagi pezina,
– Seorang fakir lagi sombong,
– dan seorang laki-laki yang Allah jadikan dia tidak membeli barangnya kecuali dengan bersumpah atas namaNya dan tidak menjual kecuali dengan bersumpah dengan bersumpah atas namaNya”

[Lihat Al-Mu’jam Al-Kabir karya Ath-Thabrani (6111), Al-Mu’jam Al-Awsath senada dengan itu (5577), Al-Haitsami berkata di dalam kitabnya Majma Az-Zawa’id ; para periwayatnya adalah para periwayat pada kitab Shahih.]

Untuk fatwa selengkapnya, lihat : https://almanhaj.or.id/1459-hukum-banyak-bersumpah-benar-at…

***
Rasulullah pernah diminta untuk melaknat kaum musyrikin yang mendzolimi nya, maka beliau menolak dan berkata bahwa beliau itu diutus bukan untuk menjadi pelaknat.

قيل : يا رسول الله ! ادع على المشركين . قال ” إني لم أبعث لعانا . وإنما بعثت رحمة “. رواه مسلم

”Dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:” Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam! Doakanlah keburukan (laknatlah) atas kaum musyrikin.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:” Sesungguhnya aku diutus bukan sebagai pelaknat, namun aku diutus sebagai rahmat (pembawa kasih sayang) (HR. Muslim)

Doa laknat disyariatkan dalam perkara tuduhan zina antara suami Istri, dan ini semisal dengan perkara mubahalah (doa saling laknat) yang sedang kita bahas, sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an mengenai Li’an.

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُن لَّهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِن كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَن تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِن كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu adalah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika ia termasuk orang-orang yang berdusta. Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas Nama Allah se-sungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima bahwa laknat Allah atas-nya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.” [An-Nuur: 6-9]

Namun opsi ini diberikan jika misal sudah tidak bisa ke pengadilan karena bukti tidak cukup, ini tampak jelas sebagaimana yang disebutkan dalam QS An Nuur ayat 6 itu sendiri.

Nah kalau selama masih ada bukti, ya maju dulu ke pengadilan.

Kalau setelah ketemu di pengadilan mau ngajak mubahalah di sana setelah jalur hukum kurang bisa menyelesaikan, maka ya monggo

***
Ini adalah perincian tahapan doa saling laknat dalam masalah pidana. Sebagaimana tahapan hukum yang kita ambil dari permasalahan tuduhan zina antar suami Istri.

Adapun jika berkaitan dengan masalah Aqidah, maka boleh mubahalah jika semisalnya dakwah dan iqomatul hujjah sudah tidak bisa dan kemadhorotan semakin besar.

Ini sebagaimana mana yang disebut dalam QS Ali Imron : 59 – 61

إنَّ مَثَلَ عِيسَى عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ . الْـحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلا تَكُن مِّنَ الْـمُمْتَرِينَ . فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنفُسَنَا وأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.

(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran: 59 – 61)

Jika ditanyakan apakah mubahalah dalam masalah Aqidah ini ada tahapan dan adab adabnya juga?

Ya, jelas ada. Yakni ketika dakwah dan iqomatul hujjah sudah tidak bisa, dan kemadhorotan semakin besar. Jadi tidak langsung ujug ujug main nantang mubahalah.

Ini namanya tidak tahu adab dan berakhlak buruk.

Sebab jika dakwah dan mubahalah dalam masalah Aqidah ini tidak ada tahapannya, maka QS Ali Imron : 59-61 itu akan bertentangan dengan cara dakwah yang khusus Allah perintahkan kepada Ahlul kitab dalam QS Al Ankabut : 46.

وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (٤٦) وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ فَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمِنْ هَؤُلاءِ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا الْكَافِرُونَ (٤٧

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri (taat) [QS Al Ankabut : 46]

Jadi QS Ali Imron : 59-61 dan QS Al Ankabut : 46 itu “Apple to apple” karena membahas masalah Ahlul Kitab, dan dari sinilah kita memahami tahapan tahapan dakwah dan mubahalah dalam masalah Aqidah.

***
Maka mubahalah itu ada adab adabnya, tahapan tahapannya juga.

Termasuk orang yang memiliki adab dan akhlak yang buruk orang yang suka bersumpah atas nama Allah, dan suka menantang bermubahalah tanpa memandang tahapan tahapannya sebagaimana yang diajarkan dalam syariat.

Jika itu adalah masalah duniawi atau yang berhubungan dengan personal, maka silakan maju ke pengadilan terlebih dahulu.

Jika itu adalah masalah Aqidah, maka silakan berdakwah dan iqomatul hujjah dengan cara yang hikmah.

Older Entries