Al Hasan bin Ali itu dipilih sebagai Kholifah menggantikan Ali bin Abi Tholib, dengan cara Aklamasi kesepakatan bai’at tokoh tokoh rakyat pendukung Ali.

Hampir sama seperti metode terpilihnya Abu Bakar.

Beliau dipilih bukan karena wasiat atau petunjuk dari Ali. Karena Ali sendiri, waktu hendak meninggal, enggan untuk menunjuk penggantinya ketika diminta.

Maka dari itu Al Hasan bin Ali menjadi Kholifah bukan semata mata karena dia anak dari Kholifah Ali. Akan tetapi karena kemampuannya memimpin dan pengaruhnya.

Beliau sendiri termasuk Khulafaur Rasyidin kelima, sesuai dengan perkataan ulama, sebelum corak kekuasaan Islam berubah menjadi kerajaan.

Ini sesuai dengan sabda Rasulullah bahwa masa khulafaur Rasyidin itu hanya 30 tahun, dan kemudian berubah menjadi kerajaan.

Al Hasan bin Ali sendiri hanya memerintah selama 6 bulan, meliputi Iraq sebagai pusat pemerintahan, Hijaz, Yaman, kecuali Syam. Karena Syam adalah wilayah kekuasaan Muawiyah.

Al Hasan memerintah hanya sepanjang 6 bulan karena beliau adalah orang yang cenderung kepada perdamaian dan menyatukan Ummat. Setelah beliau menyerahkan kekuasaan nya dengan syarat syarat perdamaian yang harus ditepati oleh Muawiyah.

Maka beliau pun pulang kembali ke Madinah setelah dia melepaskan jabatan nya dan Muawiyah menjadi Kholifah. Dan pusat pemerintahan kekholifahan pun berpindah dari Iraq ke Syam

Advertisements