Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

إِنَّ هَذِهِ اَلْفِتْنَةُ إِذَا أَقْبَلَتْ عَرَفَهَا كُلُّ عَالِمٍ وَإِذَا أَدْبَرَتْ عَرَفَهَا كُلُّ جَاهِلٍ

“Sesungguhnya fitnah ini, jika dia datang maka sudah diketahui oleh setiap alim dan jika dia sudah pergi maka baru diketahui oleh setiap yang jahil.”

***
Al Hasan Al Bashri adalah ulama dari kalangan Tabi’in yang kokoh dalam berpegang kepada sunnah ketika terjadi fitnah Al Hajjaj dan Ibnul Asy’ats, sebagaimana yang pernah saya tuliskan dalam serial syubhat atas nama Salaf bagian kelima.

Ketika saya mencoba menganalisa hadits hadits Rasulullah yang menasehati “on the spot” beberapa orang yang dalam kondisi susah menerima nasehat.

Dan orang yang menasehatkan agar melihat dan menunggu waktu yang tepat, jika hendak memberikan nasehat. Atau jangan “nyinyir” menurut bahasa mereka, sambil mencoba menarik hikmah dari hadits Rasulullah yang membiarkan orang Arab Badui kencing di masjid.

Maka saya melihat bahwa kata putus dari hadits hadits itu adalah pada perkataan Al Hasan Al Bashri tersebut.

Yakni baik yang menasehatkan “on the spot”, ataupun yang menasehati dengan cara menunggu waktu yang tepat, maka kedua duanya tergantung dari besar kecilnya fitnah yang dihadapi.

Melihat hadits hadits nasehat “on the spot”, maka tampaknya fitnah yang ada dalam konteks hadits hadits itu jauh lebih besar dibandingkan hadits masalah orang Arab Badui kencing di masjid.

***
Tentu saja hadits masalah nasehat on the spot Itu harus difahami dan diterapkan dengan cara :

1. Tidak boleh menyebabkan madhorot yang lebih besar dari fitnah yang dihadapi.

Kalau misal menyebabkan madhorot yang lebih besar, maka lebih baik diam dulu dan cari waktu yang lebih baik.

2. Tidak meninggalkan nasehat on the spot, sehingga berkesan hanya untuk pembiaran saja.

Adapun penggiringan opini yang terlihat, orang orang sengaja berkata “ini bukan waktu yang tepat untuk memberikan nasehat”, “jangan nyinyir “, dan “berilah udzur” hanya untuk tujuan pembiaran saja.

Hanya dengan tujuan agar seakan akan kita ridho terhadap fitnah itu, maka dari itu mereka menyuruh kita diam dengan kedok “ini bukan waktu yang tepat”. Dan membiarkan fitnah tersebar dengan lebih luas jika didiamkan.

Ini adalah penggiringan opini yang salah, dan harus kita ingkari.

Pada hakikatnya fitnah itu seperti nyala api. Yang mana kadang ada nyala api kalau didiamkan akan mati sendiri. Dan ada juga jika didiamkan justru akan malah semakin menyebar dan merembet kemana mana.

Belum lagi kita lihat faktanya, sebagian orang yang menyuruh diam dengan tujuan yang salah itu berkata dengan membawa kayu dan bahan bakar agar apinya makin besar….

****
Maka dari itu orang yang berkata “mencari waktu yang tepat” yang tulus, kita hargai dan kita rangkul.

Orang yang berkata hanya untuk sekedar kedok agar api makin besar, harus kita lawan.

Dan orang yang terkena syubhat serta hanya diperalat harus kita jelaskan.

****
Hadits hadits masalah nasehat Rasulullah “on the spot” walau faham bahwa kemungkinan besar akan ditolak, namun tetap berusaha untuk disampaikan itu adalah seperti :

1. Hadits Rasulullah berkata ketika melihat orang yang marah, menasehati agar dia ta’awudz supaya marah nya yang merupakan hasutan setan hilang. Maka orang itu menolak nasehat dengan marah sambil berkata “aku bukan orang gila”.

2. Hadits Rasulullah menasehati “on the spot” seorang wanita yang sangat sedih dan galau karena meninggalnya seseorang. Beliau berkata “bersabarlah, karena sabar itu pada pukulan pertama”. Maka wanita itu emosi dan menolak nasehat Rasulullah.

3. Hadits Rasulullah menasehati “on the spot” dan memberikan kata harapan “laa ba’sa Thohuurun insya Allah” waktu menengok orang Arab Badui tua yang sedang terkena penyakit demam.

Dan orang Arab Badui itu menolak perkataan, bahwa demam itu Thohuurun (mensucikan). Seraya berkata bahwa demam itu adalah hal yang menyusahkan nya dan akan membawanya mati ke kuburan

***

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ قَالَ: اِسْتَبَّ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيّ ص فَجَعَلَ اَحَدُهُمَا يَغْضَبُ وَ يَحْمَرُّ وَ جْهُهُ. فَنَظَرَ اِلَيْهِ النَّبِيُّ ص فَقَالَ: اِنّيْ َلاَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ ذَا عَنْهُ: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. فَقَامَ اِلَى الرَّجُلِ رَجُلٌ مِمَّنْ سَمِعَ النَّبِيَّ ص فَقَالَ: أَ تَدْرِى مَا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص آنِفًا؟ قَالَ اِنّيْ َلاَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ ذَا عَنْهُ. اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. فَقَالَ لَهُ الرَّجُلُ: اَمَجْنُوْنًا تَرَانِيْ؟ مسلم
Dari Sulaiman bin Shurad, ia berkata : Ada dua orang saling mencaci di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu salah seorang diantara keduanya menjadi marah, dan merah mukanya. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kepada orang itu dan bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat seandainya ia mau mengucapkannya pastilah hilang marah itu darinya, kalimat itu ialah : A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir rojiim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk)”. Maka berdirilah seorang laki-laki diantara orang yang mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut menghampiri orang yang marah itu dan berkata, “Tahukah kamu apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi ?”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat seandainya ia mau mengucapkannya pastilah hilang marah itu darinya. Kalimat itu ialah : A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir rojiim”. Lalu orang yang marah itu berkata, “Apakah engkau menganggap aku ini gila ?”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2015]

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ قَالَ: اِسْتَبَّ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيّ ص وَ نَحْنُ عِنْدَهُ جُلُوْسٌ وَ اَحَدُهُمَا يَسُبُّ صَاحِبَهُ مُغْضَبًا قَدِ احْمَرَّ وَجْهُهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: اِنّيْ َلاَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. فَقَالُوْا لِلرَّجُلِ: اَلاَ تَسْمَعُ مَا يَقُوْلُ النَّبِيُّ ص قَالَ: اِنّى لَسْتُ بِمَجْنُوْنٍ. البخارى
Dari Sulaiman bin Shurad, ia berkata : Ketika kami duduk di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua orang saling mencaci. Lalu salah seorang diantara keduanya menjadi marah, merah mukanya. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat seandainya ia mau mengucapkannya pastilah hilang marah itu darinya, seandainya ia mengucapkan : A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir rojiim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk)”. Kemudian orang-orang berkata kepada laki-laki tersebut, “Tahukah kamu apa yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi ?”. Orang yang marah itu menjawab, “Aku ini tidak gila !”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 99]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

“ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berjalan melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur. Maka Beliau berkata,: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Wanita itu berkata,: “Menjauhlah dari saya, karena kamu tidak mengalami musibah seperti yang aku alami “. Wanita itu tidak mengetahui beliau. Ketika hal itu diberitahu kepadanya, maka wanita tersebut mendatangi rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ternyata beliau tidak ada pengawalnya, dan dia berkata; “Maaf, tadi aku tidak mengetahui anda”. Maka Beliau bersabda: “Sesungguhnya sabar itu pada saat pertama datang musibah”. ( HR. Bukhari,1203 dan Muslim, 926)


أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَبِيٍّ يَعُوْدُهُ فَقَالَ: لَا بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ قَالَ: قُلْتُ: طَهُورٌ! كَلَّا، بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُوْرُ –أَوْ تَثُوْرُ- عَلَى شَيْخٍ كَبِيْرٍ تزيره القبور. فَقَالَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “فَنَعَمْ إِذًا “

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menjenguk seorang a’raby (arab badui), beliau bersabda, “Tidak mengapa, (sakitmu ini sebagai) pembersih dosa insya Allah.” Aku (Ibnu Abbas) berkata, “Pembersih dosa?! Sekali-sekali tidak, bahkan ini adalah demam yang mendidih -atau bergejolak- pada seorang yang sudah tua renta, yang akan mengantarkannya kepada kubur.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau demikian, benar (ia adalah penghapus dosa).” (H.R Bukhari, 6916 )

Advertisements