Disebutkan dalam Shohih Bukhori Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendapatkan kabar pengaduan mengenai Muadz bin Jabal, yang mengimami sholat dengan membaca surat Al Baqarah hingga memberatkan makmum nya.

Bahkan hingga sampai seorang makmum memutuskan sholat nya , dan sholat sendiri. Muadz sebagai imam mencela orang tersebut.

Setelah mendapatkan pengaduan dari orang yang dicela Muadz karena memutuskan sholat nya, Rasulullah bersabda kepada Muadz :

‏ يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ

Wahai Muadz apakah engkau ingin menjadi pembuat fitnah?

***
Dari hadits ini rasulullah tidak tabayun dulu kepada Muadz, karena perkara nya sudah jelas. Dan juga tidak “berilah 70 udzur kepada saudaramu”, karena ini adalah kesalahan yang disengaja.

Maka dari itu bagi orang orang yang suka berkata “tabayun dulu akhi”, “berilah 70 udzur kepada saudaramu “, bahkan hingga yang berkata “jangan engkau tajam kepada saudaramu sesama muslim, namun tumpul kepada orang kafir”.

Maka ini sebenarnya tidak diwajibkan secara mutlak jika perkara nya jelas, sesuai dengan contoh Rasulullah di atas.

Bahkan bagi orang orang yang suka baper (bawa perasaan), yang suka beretorika mewajibkan secara mutlak jika kebetulan itu tidak sesuai dengan kepentingan nya dan kecenderungan perasaan nya

Yang suka sok bijak berkata “tabayun dulu akhi”, “berilah 70 udzur kepada saudaramu “, “jangan engkau tajam kepada saudaramu sesama muslim, namun tumpul kepada orang kafir” dan yang semisal.

Maka ini hanya logical fallacy “apology” atau strategy “Playing victim scenario”, karena kebetulan tidak sesuai dengan kepentingan nya dan kecenderungan perasaan nya

Coba kalau misal nya yang melakukan kesalahan itu “musuh” atau orang yang dibencinya.

Maka tanpa perlu ba-bi-bu, langsung cela habis habisan, dan perkataan indah “tabayun dulu akhi”, “berilah 70 udzur kepada saudaramu ” tidak akan pernah dipraktekkan.

Wahai pengusung manhaj baper, a fattaanun anta? (apakah engkau ingin menjadi pembuat fitnah?)

Advertisements