3. Dalam posisi pemerintahan yang sedang vakum, yang membolehkan untuk membaiat pemerintah baru karena tidak ada kejelasan suksesor penggantinya.

Sebagaimana yang terjadi kepada sahabat Abdullah bin Zubair

***
Sebelumnya harus kita terangkan bahwa sikap tidak berbai’at, dalam artian tidak mengangkat sumpah setia dalam hal yang ma’ruf kepada suatu pemerintahan Islam, secara kacamata sunnah adalah sikap yang tercela.

Ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang mati dan dilehernya tidak ada bai’at maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim No. 1851, Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 769, dari Muawiyah, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 14810, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 16389)

Maka dari itu sikap sebagian sahabat yang menolak, atau tidak mau untuk berbai’at, umumnya adalah sikap minoritas sahabat. Yang mana kita berhuznudzon mereka mempunyai suatu Ijtihad tersendiri, atau ada suatu udzur tersendiri.

Khusus pada topik kita, ada dua orang sahabat yang enggan untuk berbai’at kepada Yazid bin Muawiyah.

Yang pertama adalah Husain bin Ali bin Abi Tholib yang telah kita bahas sebelumnya. Dan yang kedua adalah Abdullah bin Zubair yang hendak kita bahas sekarang ini.

***
Abdullah bin Zubair memang tidak berbai’at kepada Yazid bin Muawiyah, dengan berdasarkan Ijtihad beliau sendiri, dan melarikan diri dari Madinah untuk berlindung ke Makkah.

Kekuasaan Kholifah tampaknya tidak bisa begitu represif di Makkah. Selain karena ada Ka’bah di situ, Allah subhaanahu wa ta’aala juga berfirman bahwa Makkah adalah Al balad Al Amiin (negeri yang aman).

وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ

“dan demi kota (Mekah) ini yang aman” (QS At Tiin : 3)

Demikianlah pandangan dan argumentasi kami mengenai kenapa Abdullah bin Zubair melarikan diri dari Madinah ke Mekkah, sehingga Kholifah dan utusannya tidak bisa memaksa beliau untuk bersedia membai’at Yazid bin Muawiyah.

Sedangkan di Madinah sendiri, polemik sejarah menyebutkan bahwa pada zaman Ali hendak dibaiat terdapat sebagian sahabat yang dipaksa untuk mau membaiat Ali. Ini telah kami terangkan pada tulisan yang kedua mengenai Ali bin Abi Tholib.

Buku buku sejarah memang tidak menyebutkan, sejauh yang kami tahu, argumentasi kenapa Abdullah bin Zubair lebih memilih Makkah sebagai tempat melarikan diri dan berlindung dari paksaan bai’at.

Dan sikap Abdullah bin Zubair ini juga diikuti oleh Husain bin Ali bin Abi Tholib, sebagaimana yang telah kami sebutkan pada tulisan kami yang ketiga.

Walloohu A’lam

***
Sepanjang masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah, Abdullah bin Zubair berlindung di Mekkah.

Adapun Husain, beliau tidak begitu lama berlindung di Makkah.

Selang beberapa waktu, Husain meninggalkan Makkah menuju Kufah di Iraq. Hingga terjadilah peristiwa di padang Karbala, sebagaimana yang telah kami sebutkan di tulisan ketiga.

***
Sekarang kita akan sedikit me-refresh kisah mengenai Husain, karena kisah beliau memiliki rangkaian dengan apa yang akan terjadi pada Abdullah bin Zubair.

Husain bin Ali mulai melakukan perjalanan dari Mekkah ke Kufah di Iraq, pada tahun 60 H.

Dan setelah menempuh perjalanan hampir setahun menuju Kufah di Iraq, pada 10 Muharom tahun 61 H bertepatan dengan hari ashuro, beliau akhirnya terbunuh secara dzolim sebagai syuhada .

Adapun Yazid bin Muawiyah memerintah pada tahun 60 H hingga tahun 64 H. Dan terbunuhnya Husain oleh gubernur Kufah Ubaidullah pada tahun 61 H, merupakan goncangan yang cukup keras bagi kekholifahan nya.

Goncangan ini terjadi karena Yazid adalah pimpinan tertinggi sebagai Kholifah. Walaupun bukan Yazid yang membunuh Husain, dan bukan pula yang menyuruh Ubaidullah untuk membunuhnya, namun dialah yang menunjuk Ubaidullah sebagai gubernur Kufah dan memerintahkan Ubaidullah untuk menghadang Husain agar tidak masuk Kufah.

Perlu diketahui, bahwa Yazid sebenarnya hanya menyuruh Ubaidullah bin Ziyad untuk menghalangi masuknya Husain ke Kufah. Dia tidak memerintahkan untuk membunuh Husain.

Maka dari itu Husain dihadang di padang Karbala, yang terletak di sebelah barat laut dari Kufah. Yang masih jauh dari Kufah, agar tidak bisa masuk Kufah.

Husain sendiri sebenarnya berbaik sangka terhadap Yazid, atas penghadangan yang dilakukan oleh Ubaidullah bin Ziyad. Terutama setelah mengetahui bahwa penduduk Kufah ternyata mengkhianatinya dan tidak mau membelanya.

Ini seperti yang terlihat dari perkataan Husain, “Biarkan aku pergi ke tempat Yazid (di Syam), kemudian aku taruh tanganku di atas tangannya (berbai’at).”

Ibnu Taimiyyah berkata dalam minhajus Sunnah, sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Utsman Al Khomis dalam Hiqbah minat Taarikh,

“Yazid bin Muawiyah tidak pernah memerintahkan pembunuhan terhadap Al Husain. Demikian menurut kesepakatan ulama ahli hadits. Akan tetapi, dia hanya memerintahkan Ibnu Ziyad supaya melarang Al Husain memasuki wilayah Iraq.

Saat berita terbunuhnya Al Husain terdengar oleh Yazid, dia menampakkan kesedihan yang mendalam atas peristiwa ini. Dia juga tidak pernah menawan satu pun perempuan dari keluarga Al Husain, tetapi sebaliknya dia menghormati keluarga Al Husain, membebaskan mereka sampai dia mengembalikan mereka ke negeri negeri mereka. ”

****
Peristiwa terbunuhnya Husain bin Ali secara dzolim oleh Gubernur Kufah Ubaidullah dan pengkhianatan penduduk Kufah, menimbulkan gejolak luar biasa di berbagai wilayah Islam. Terutama di Makkah dan Madinah.

Imam As Suyuthi dalam Tarikh Khulafa’ menyebutkan bahwa setelah mendengar terbunuhnya Husain dan kabar bahwa Yazid banyak melakukan kemaksiatan, penduduk Madinah dan Makkah ingin melepaskan diri dari kekuasaan Kholifah Yazid bin Muawiyah. Mereka ingin membatalkan bai’at mereka kepada Yazid.

Menanggapi kencang nya keinginan untuk memisahkan diri itu, Yazid akhirnya mengirim pasukan dari Syam untuk memerangi penduduk Madinah pada tahun 63 H. Dan untuk memerangi penduduk Makkah pada tahun 64 H.

Sekarang mari kita fokus dulu mengenai penduduk Madinah.

Yazid sendiri sebenarnya telah mendapatkan laporan mengenai gejala itu dari Gubernurnya yang berada di Madinah, yakni ‘Utsman bin Muhammad bin Abu Sufyan.

Dari hal itu, maka ‘Utsman bin Muhammad bin Abu Sufyan mencoba melakukan “pendekatan” ke penduduk Madinah dengan cara mengirimkan perwakilan penduduk Madinah yang terdiri dari kalangan yang terpandang, untuk bertemu dengan Kholifah Yazid yang berada di Syam.

Hal ini dilakukan dalam rangka untuk melunakkan hati penduduk para penduduk Madinah, dan untuk menumbuhkan rasa cinta antara mereka dengan khalifahnya.

Ketika telah sampai di Damaskus – Syam, Yazid menjamu dan memuliakan mereka dengan sangat. Akan tetapi -amat disayangkan- utusan perwakilan penduduk Madinah itu tetap menaruh kedengkian terhadap Yazid.

Setelah kembali ke Madinah, yang mereka tampakkan adalah celaan dan ejekan. Setelah itu mereka menampakkan sikap mereka berupa pengguguran baiat. Apa yang mereka lakukan itu diikuti oleh sebagian besar penduduk Madinah, dan ‘Abdullah bin Hanzhalah Al-Anshari ditunjuk sebagai pimpinannya.

Ketika Yazid mengetahui sikap mereka, maka dia mengutus An-Nu’man bin Basyir Al-Anshari ke Madinah dalam rangka untuk memberikan nasehat kepada mereka. Sesampai An Nu’man bin Basyir di Madinah, beliau memerintahkan agar tetap taat kepada sang penguasa, dan beliau berkatan kepada mereka: “Kalian tidak akan mampu menghadapi kekuatan pasukan Syam.”

Akan tetapi nasehat yang beliau sampaikan tidak mendapatkan sambutan yang baik. Lalu An-Nu’man meninggalkan mereka.

`Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu juga memberikan nasehat kepada penduduk Madinah dan mengingkari pembatalan baiat yang mereka lakukan. Beliau juga mengingkari pemberontakan yang dilakukan terhadap khalifah dalam perkara yang sebenarnya tidak demikian adanya. Dan bahwasanya apa yang mereka lakukan menyelisihi aturan-aturan Islam. Kemudian Abdullah bin ‘Umar meninggalkan mereka dengan membawa keluarganya (menuju Makkah).

Dari hal ini, maka kita lihat bahwa Abdullah bin Umar selaku salah seorang Ulama dari kalangan sahabat mengingkari apa yang dilakukan oleh penduduk Madinah. Sehingga harus jujur kita katakan, bahwa apa yang mereka lakukan itu sebenarnya bertentangan dengan Syariat.

Bahkan terdapat juga riwayat bahwa sebagian penduduk Madinah yang membatalkan baiat itu, sampai melakukan pengepungan di rumah Marwan, terhadap orang-orang dari bani Ummayah (yang satu bani dengan Yazid) yang berada di Madinah. Oleh karena itu orang-orang bani Ummayah itu mengirimkan surat kepada Yazid untuk meminta bantuan.

Lihat Tarikh Daulah Umawiyyah, yang ditulis oleh Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, Riyadh Saudi Arabia.

***
Mengetahui perkembangan situasi di Madinah, maka yang pertama kali didatangkan pasukan dan diserang adalah kota Madinah. Yazid memerintahkan Muslim bin Uqbah, untuk menghalalkan kota suci Madinah itu diserang selama 3 hari.

Perang dan penghalalan yang terjadi di tanah suci Madinah itu berlokasi di Harrah (suatu tempat yang terletak di sebelah timur Madinah).

Maka terkenal lah apa yang disebut peristiwa Harrah atau perang Harrah di Madinah.

***
Akibat perang Harrah ini sejumlah sahabat Nabi terbunuh, dan kota Madinah dihancurkan.

Imam Suyuthi berkata dalam Tarikh Khulafa, bahwa orang yang meninggal karena peristiwa perang Harrah itu sebanyak 306 laki-laki dari kalangan Quraisy dan Anshor.

Selesai “menaklukkan” Madinah pada tahun 63 H, maka pasukan Syam yang diutus Yazid itu beralih menyerang Makkah pada tahun 64 H.

Muslim bin Uqbah yang ikut memimpin menyerang Madinah dalam perang Harrah, ternyata meninggal pada waktu perjalanan ke Makkah. Dan kemudian dia digantikan oleh Al Husain bin Numyr As Sakuni untuk menyerang Makkah.

***
Di Makkah pasukan Syam berhadapan dengan Abdullah bin Zubair dan pasukannya.

Pasukan Syam dalam penyerangan Makkah itu menggunakan manjaniq (alat pelempar bola api), sehingga lemparannya mengenai Ka’bah dan menyebabkan sebagian kiswah (kain penutup Ka’bah) terbakar. Atap Ka’bah juga ikut terbakar, demikian juga tanduk domba kurban Nabi Ibrahim yang zaman dulu masih ada dan diletakkan di atap Ka’bah.

Demikian perkataan Imam Suyuthi dalam Tarikh Khulafa.

Akan tetapi kitab lain menganalisa bahwa peristiwa terbakarnya Ka’bah itu terlalu dibesar-besarkan, dan banyak isu yang tidak benar.

Isu-isu yang disebarkan oleh Syi’ah Rafidhah berupa berita bahwa pasukan Yazid membakar Ka’bah dengan api adalah tidak benar. Akan tetapi yang benar adalah berasal dari api kecil yang menjalar ke Ka’bah hingga menyala tanpa disengaja.

Lihat Tarikh Daulah Umawiyyah, yang ditulis oleh Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, Riyadh Saudi Arabia.

***
Penyerangan Makkah itu dimulai pada bulan Safar tahun 64 H, dan peperangan itu bertahan sekitar 1 bulan lamanya hingga sampai bulan robiul awal.

Peperangan berhenti karena pasukan Syam mendapatkan kabar dari bahwa Yazid bin Muawiyah meninggal secara tiba-tiba. Dan kabar kematian Yazid terdengar pada waktu perang berlangsung.

Tidak jelas apa penyebab meninggalnya Yazid, Imam As Suyuthi dalam Tarikh Khulafa’ hanya berkata “Allah membinasakan Yazid pada bulan Robiul Awal tahun itu juga.”

Setelah itu maka pasukan Syam pun kembali ke Syam dengan kehinaan.

***
Yazid ikut menyertai dalam perang di Madinah dan Makkah ini, sebagaimana yang kita lihat dari deskripsi Imam Adz Dzahabi yang dikutip oleh As Suyuthi, yakni ketika Yazid melakukan kekejian terhadap penduduk Madinah dalam perang penaklukan Madinah selama 3 hari itu. Sehingga posisi Yazid berada jauh dari pusat ibukota Syam pada waktu itu.

Penaklukan Madinah hanya selama 3 hari itu juga membuktikan bahwa penduduk Madinah sebenarnya tidak bersiap untuk menghadapi perang, dan hanya berniat untuk tafarruq saja (memisahkan diri) bukan untuk memberontak dan melawan.

Kondisi ini berbeda dengan Mekkah yang sudah benar-benar bersiap diri untuk menghadapi peperangan, setelah mengetahui apa yang terjadi di Madinah.

Peristiwa meninggalnya Yazid ini otomatis membuat posisi pemerintahan dan kekholifahan vakum. Yang mana ini membolehkan untuk membaiat Kholifah baru bagi kaum muslimin untuk menggantikannya.

Adapun sampainya kabar meninggalnya Yazid ini sampainya lebih lambat ke Syam, karena harus mengirimkan kabar dari medan perang ke Syam yang jauh disana. Namun ini berbeda dengan Abdullah bin Zubair dan penduduk Makkah yang berhadapan langsung dengan Yazid dan pasukannya.

Zaman itu masih belum ada internet, telepon, dan sarana komunikasi canggih lainnya yang bisa mengabarkan meninggalnya Yazid ke Syam dengan seketika, agar mereka bisa langsung membaiat Kholifah penggantinya.

Singkat kata, ada jeda waktu yang membuat posisi kekholifahan vakum selama beberapa waktu. Dan hal ini dimanfaatkan oleh Abdullah bin Zubair dan penduduk Makkah beserta para ulama nya, untuk mengangkat dan membaiat Abdullah bin Zubair sebagai Kholifah yang baru.

Dan akhirnya terangkat lah Abdullah bin Zubair sebagai Kholifah baru yang sah secara syariat, menggantikan Yazid bin Muawiyah yang meninggal.

Imam As Suyuthi berkata dalam Tarikh Khulafa’,
“Setelah kematian Yazid, Abdullah bin Zubair mengangkat dirinya sebagai Khalifah. Sedangkan penduduk Syam membai’at Muawiyah anak Yazid. Dia (Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan) memerintah dalam tempo yang sangat singkat.”

***
Yazid meninggal di Mekkah dan sekitarnya.

Karena pada waktu pasukan Syam pimpinan Muslim bin Uqbah melakukan perjalanan dari Madinah menuju Makkah, Muslim bin Uqbah meninggal di perjalanan tersebut.

Kemudian dia digantikan oleh Al Husain bin Numyr As Sakuni untuk menyerang Makkah.

Proses penggantian ini tentu saja memerlukan otorisasi Yazid bin Muawiyah sebagai kholifah. Dan penggantian yang cepat ini membuktikan bahwa Yazid juga menyertai dalam penyerangan Makkah ini, sebagaimana dia juga menyertai pada waktu penyerangan di Madinah.

Mungkin tidak ikut terjun langsung, akan tetapi mengawasi dari kejauhan, sementara panglima dan pasukannya yang menyerang.

Di sisi lain kehadiran Kholifah khusus pada waktu penyerangan Madinah dan Makkah ini juga di rasa penting. Karena yang diserang ini adalah dua buah kota suci.

Pasukan Syam tentu juga merasa enggan menyerang kota suci, karena mereka juga Muslim, kecuali kalau tidak atas perintah Kholifah sembari sang Kholifah juga menyertai mereka dalam penyerangan itu.

Hal ini penting agar menghilangkan “beban” dosa dan merasa bersalah karena melanggar kehormatan dua buah kota suci itu dalam penyerangannnya.

Point yang terakhir, yang ikut meneriakkan bahwa Yazid meninggal di medan perang itu adalah Abdullah bin Zubair juga. Sebagaimana yang tercatat dalam Tarikh Khulafa’ oleh Imam As Suyuthi.

Sehingga ini membuktikan, bahwa kejadian meninggalnya Yazid itu mudah untuk diakses informasinya baik dari fihak tentara Syam ataupun pasukan Abdullah bin Zubair. Ini tidak lain karena Yazid sendiri juga menyertai pasukannya di dalam penyerangan Makkah itu.

***
Melihat dari itu, maka jelas bahwa Abdullah bin Zubair adalah kholifah yang legitimate dan syar’i. Masa-masa vakumnya pemerintahan berhasil dimanfaatkan dengan baik dan tidak melanggar syari’at.

Adapun mengenai Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan yang dibaiat oleh penduduk Syam paska wafatnya Yazid. Maka bisa difahami bahwa dia dibaiat, setelah Abdullah bin Zubair dibaiat oleh penduduk Makkah dan sekitarnya sebagai Kholifah.

Sehingga boleh dikatakan Abdullah bin Zubair lebih sah sebagai kholifah, karena dia lebih dahulu dibai’at. Atau bisa juga dikatakan terdapat dua kholifah dalam waktu yang sementara.

Kenapa dikatakan sementara?

Karena Muawiyah bin Yazid sendiri sebenarnya hanya memerintah dan menjadi Kholifah dalam waktu yang sangat pendek, yakni sekitar 40 hari dan ada pula yang mengatakan selama 2 bulan.

Muawiyah bin Yazid sebenarnya adalah seorang yang sholih, akan tetapi ketika dia diangkat menjadi Kholifah dia sebenarnya sudah menderita sakit. Dan sakitnya pun semakin bertambah-tambah hingga meninggal dunia.

Saat menjelang akan meninggal dunia, Muawiyah bin Yazid ditanya :
“Tidakkah kau akan menentukan siapa yang akan menjadi penggantimu?”

Muawiyah bin yazid menjawab :
“Saya belum pernah mencicipi kelezatan dan manisnya, lalu mengapa saya haru menanggung kegetirannya.”

Demikian yang tercatat dalam Tarikh Khulafa’ yang ditulis oleh Imam As Suyuthi.

Sehingga singkat kata Muawiyah bin Yazid sepertinya ingin menyerahkan kekholifahan kepada Abdullah bin Zubair seluruhnya, dan tidak ingin memberikan wasiat menunjuk siapa penggantinya.

***
Abdullah bin Zubair sendiri setelah dibaiat menjadi Kholifah di Makkah dan Yazid telah meninggal, maka hampir seluruh wilayah kekuasaan Islam tunduk dan taat menyerahkan bai’at kepada Abdullah bin Zubair. Yakni wilayah Hijaz, Yaman, Iraq, dan Khurosan semuanya berada di bawah kekuasaan Abdullah bin Zubair.

Semua berada di bawah kekuasaan Kholifah Abdullah bin Zubair, kecuali Syam dan Mesir yang tunduk kepada baiat yang diberikan kepada Muawiyah bin Yazid.

Dan setelah Muawiyah bin Yazid meninggal dunia dengan tanpa menunjuk siapa penggantinya, maka Syam dan Mesir pun akhirnya tunduk kepada Kholifah Abdullah bin Zubair.

Namun setelah itu, tidak beberapa lama, Marwan bin Hakam dari bani Ummayah pun ternyata memberontak dan berhasil menguasai Syam. Setelah menguasai Syam, lalu dia menguasai Mesir. Setelah berhasil memberontak kepada Abdullah bin Zubair dan menguasai Syam serta Mesir, maka tidak berapa lama Marwan bin Hakam pun kemudian meninggal. Dia pun kemudian digantikan oleh anaknya Abdul Malik bin Marwan.

Pada masa Abdul Malik bin Marwan ini, kekuasaannya semakin bertambah luas dan berhasil merebut wilayah-wilayah yang dikuasai Kholifah Abdullah bin Zubair. Hingga Abdullah bin Zubair sampai mundur ke Mekkah, dan hanya tinggal Makkah sajalah wilayah kekuasaan terakhirnya.

Abdullah bin Zubair pun akhirnya terbunuh di Makkah oleh Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi, yang diutus oleh Abdul Malik bin Marwan untuk memeranginya dengan membawa 40 ribu pasiukan.

Hajjaj mengepung Abdullah bin Zubair di Makkah selama beberapa bulan, dan melemparinya dengan manjaniq. Hingga akhirnya Hajjaj pun berhasil mengalahkan Abdullah bin Zubair, dan membunuhnya dengan cara disalib.

Setelah itu, maka sah lah Abdul Malik bin Marwan sebagai kholifah yang menguasai seluruh wilayah kekuasaan Islam menggantikan Abdullah bin Zubair. Dan atas sebab itu juga, maka garis kekholifahan kembali lagi ke bani Ummayah setelah sebelumnya sempat berpindah ke Abdullah bin Zubair selama 9 tahun, dari tahun 64 H hingga 73 H.

Lihat riwayat-riwayat yang ada dalam Tarikh Khulafa’ tulisan Imam As Suyuthi

***
Menilik dari seluruh kisah di atas, maka tokoh yang kontroversial sebenarnya bukanlah Abdullah bin Zubair sebagaimana yang disangka orang. Akan tetapi yang kontroversial sebenarnya adalah Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan sendiri.

Dari 4 tahun masa kekuasaannya, yakni dari tahun 60 H hingga 64 H, cukup banyak peristiwa kontroversi yang terjadi. Seperti :
1. Terbunuhnya Husain di Padang Karbala pada tahun 61 H
2. Perang Harrah di kota suci Madinah pada tahun 63 H
3. Penyerangan kota suci Makkah pada tahun 64 H

Ibnu Taimiyah berkata bahwa ada tiga kelompok yang mempunyai perbedaan dalam memandang dan mensikapi Yazid bin Muawiyah tersebut. Dua kelompok ghuluw berlebihan, sedangkan yang satu moderat.

Dua kelompok yang ghuluw ini, yang satu sangat fanatik dan sangat mencintai Yazid. Bahkan mereka mengatakan bahwa Yazid adalah Nabi dan dia ma’shum. Sedangkan yang satunya lagi sangat anti kepada Yazid dan membencinya. Bahkan mengkafirkannya. Kelompok ini mengatakan bahwa Yazid adalah orang munafik yang pura-pura menampakkan keislaman, tapi menyembunyikan kemunafikan serta benci kepada Nabi Shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Sedangkan mengenai kelompok yang moderat, Ibnu Taimiyah berkata :
“Pendapat dua kelompok ini tidak benar. Yazid adalah salah seorang penguasa kaum Muslimin, serta salah seorang khalifah mereka. Jadi, sekali lagi ditegaskan, pendapat dua kelompok ini tidaklah benar.”

Lihat perkataan Ibnu Taimiyah yang dikutip oleh Dr. Utsman Al Khamis dalam Hiqbah minat Taarikh.

Sikap terbaik mengenai Yazid bin Muawiyah sebenarnya adalah sebagaimana yang dikatakan Adz Dzahabi,

“Kita tidak mencaci makinya dan tidak pula mencintai nya ”

Lihat perkataan Adz Dzahabi yang dikutip oleh Dr. Utsman Al Khamis dalam Hiqbah minat Taarikh.

***
Dari segala uraian kita di atas, maka point penting yang harus kita ketahui bahwa Abdullah bin Zubair itu berada di dalam posisi pemerintahan yang sedang vakum. Yang mana jeda waktu ini secara syariat membolehkan untuk membaiat pemerintah baru, karena belum adanya penggantinya yang definitif.

Maka dari itu sungguh orang orang yang menisbatkan “Perlawanan” dan Pemberontakan terhadap pemerintahan Islam yang dzolim, kepada kejadian fitnah, kesalahan Ijtihad, atau posisi kevakuman pemerintahan yang terjadi pada sebagian Salaf, untuk meninggalkan sunnah Rasulullah yang jelas dan tegas dalam masalah ini.

Maka mereka sesungguhnya hanyalah pengikut hawa nafsu dan Ahlul fitnah. Mereka menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka menipu umat atas nama Salaf untuk berpaling dari manhaj Salaf itu sendiri

***

Tanya :

Kenapa cara pemerintahan ala kerajaan itu memberikan dampak seperti itu?

Jawab :

Cara memimpin turun temurun itu hanyalah cabang dari suksesi pemerintahan dengan cara wasiat menunjuk siapa penggantinya.

Adapun karena sistem pemerintahannya berbentuk kerajaan Islam, maka secara otomatis siapa yang ditunjuk sebagai pengganti itu hanya terbatas kepada siapa yang berada di dalam lingkup keluarga kerajaan tersebut.

Baik atau buruk, maka itu tergantung dari siapa yang ditunjuk dan situasi politik yang mendominasi. Bukan semata-mata karena sistemnya.

Abu Bakar menunjuk Umar sebagai penggantinya dengan metode wasiat. Dan pemerintahannya bagus serta sejahtera. Memang contoh ini tidak sama persis dengan sistem kerajaan, karena Umar bukanlah orang yang memiliki kekerabatan dekat dengan Abu Bakar.

Akan tetapi jika ditilik jauh ke belakang, Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam juga ditunjuk oleh Nabi Daud ‘alaihis salaam sebagai penggantinya dalam sistem kerajaan yang dimiliki oleh Nabi Daud. Dan kerajaannya semakin bagus, makmur, dan luas kekuasaannya

Umar bin Abdul Aziz rohimahulloh dari kekholifahan dinasti bani Umayyah, juga terpilih dengan metode wasiat ala sistem kerajaan ini. Dan pemerintahan beliau sangat bagus.

Maka dari itu yang menjadi masalah itu sebenarnya siapa yang ditunjuk sebagai penggantinya, bukan masalah sistem wasiat penggantiannya. Sistem wasiat turun temurun diperbolehkan dalam syariat Islam, dan hal itu tidak masalah.

Kita merasa agak alergi dengan sistem kerajaan, mungkin karena kita terlalu terpengaruh dengan sistem demokrasi yang masyhur pada zaman ini.

 

Advertisements