2. Dalam posisi terfitnah yang sebenarnya tidak bertujuan untuk memberontak, namun terpaksa berperang untuk mempertahankan diri

Sebagaimana yang terjadi kepada sahabat Husain bin Ali bin Abi Tholib, hingga kemudian dia harus bertempur melawan pasukan Kholifah untuk mempertahankan diri

***
Paska meninggalnya Kholifah Muawiyah bin Abi Sufyan, beliau berwasiat bahwa penggantinya sebagai Kholifah adalah Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan.

Wasiat pergantian Kholifah yang hanya berdasarkan keturunan ini termasuk hal yang baru, yang dihindari oleh para khulafaur rasyidin sebelumnya.

Benar bahwa Umar dipilih sebagai pengganti Kholifah berdasarkan wasiat Abu Bakar. Namun Umar sendiri ketika membuat sistem Ahlul Halli wal Aqdi, sebagai alternatif sistem wasiat untuk menunjuk penggantinya, memberikan instruksi agar jangan sampai ada dari keluarganya yang ditunjuk sebagai Kholifah penggantinya.

Maka dari itu sebagian sahabat enggan membaiat Yazid sebagai Kholifah. Sahabat yang enggan membaiat Yazid itu adalah dari kalangan sahabat Junior (shoghirush shohabah), yakni Abdullah bin Zubair dan Husain bin Ali bin Abi Tholib.

Adapun Yazid sendiri benar adalah anak dari Kholifah Muawiyah, namun dia hanyalah tabiin. Bukan Sahabat. Dia tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dia baru lahir pada masa Kholifah Utsman bin Affan pada tahun 25 atau 26 Hijriah.

Lihat Tarikh Khulafa tulisan Imam As Suyuthi, dan Hiqbah minat Taarikh tulisan Dr. Utsman bin Muhammad Al Khamis pada pembahasan Yazid bin Muawiyah.

***
Singkat cerita datang utusan dari pusat pemerintahan Syam ke Madinah, yang meminta agar Abdullah bin Zubair dan Husain bin Ali bin Abi Tholib untuk membaiat Yazid bin Muawiyah, sebagai Kholifah yang baru menggantikan Muawiyah bin Abi Sufyan yang telah meninggal.

Abdullah bin Zubair dan Husain bin Ali enggan untuk membaiat Yazid, dan kemudian bersiasat kabur keluar dari Madinah ke Mekkah untuk bersembunyi dan mencari perlindungan di sana.

***
Penduduk kufah di Iraq yang mengetahui bahwa Husain bin Ali bin Abi Tholib tidak mau berbai’at kepada Yazid, maka mereka mulai menyusun muslihat dengan menulis surat korespondensi kepada Husain bahwa mereka mendukungnya dan ingin membaiatnya.

Surat surat dukungan dari Kufah yang datang kepada Husain ingin memberikan Baiat, berjumlah sekitar 300 pucuk surat. Dan di dalamnya tertulis sekitar 100 ribu nama yang ingin memberikan dukungan Baiat kepada Husain.

Lihat Hiqbah minat Taarikh tulisan Dr. Al Khamis, dan mausuah Al Hasan wal Husain tulisan Syaikh Hasan Al Husaini

***
Singkat cerita Husain pun terperangkap dengan muslihat penduduk Kufah itu, dan berijtihad ingin ke Kufah guna membuktikan kebenaran dukungan mereka secara langsung.

Para sahabat yang lain yang mengetahui muslihat penduduk Kufah itu menyatakan ketidak setujuan terhadap Ijtihad Husain, dan mendesak menasehati nya agar tetap di Makkah, dan tidak pergi ke Kufah.

Para sahabat yang mendesak dan menasehati agar Husain tidak meninggalkan Mekkah menuju Kufah adalah :
a. Abdullah bin Zubair sendiri, selaku sesama sahabat yang menolak membaiat Yazid dan kabur ke Mekkah

Beliau berkata, “Engkau mau pergi kemana? Apakah engkau ingin pergi ke tempat kaum yang telah membunuh ayahmu (Ali bin Abi Tholib) dan saudaramu (Hasan bin Ali)? Janganlah engkau pergi.”

b. Abdullah bin Abbas, yang mana beliau sampai berkata “Seandainya bukan karena khawatir orang orang tidak menghinaku dan menghinamu, niscaya aku akan pegang kepala mu erat erat supaya engkau tidak bisa pergi”

c. Abdullah bin Umar, yang mana setelah tidak mempan menasehati Husain, dia memeluk Husain dan menangis sambil berkata “Semoga Allah melindungimu dari pembunuhan”

d. Abu Sa’id Al Khudri, yang mana sebagai sahabat senior yang sepantaran dengan ayahnya Husain, yakni Ali bin Abi Tholib. Maka dia berusaha mengingatkan perkataan Ali mengenai penduduk Kufah yang berkata :

“Demi Allah, aku telah bosan dan marah kepada mereka. Mereka pun telah bosan dan marah kepada ku. Mereka sama sekali tidak pernah menepati janji. Siapa saja yang mendapatkan dukungan mereka, maka dia telah mendapatkan anak panah yang tumpul. Demi Allah, mereka sama sekali tidak mempunyai niat dan tekad untuk membela suatu urusan. Mereka sama sekali tidak mempunyai kesabaran dalam peperangan. ”

Namun nasehat Abu Said Al Khudri tidak diindahkan oleh Husain, dan dia tetap bertekad akan pergi ke Kufah

e. Abdullah bin Ja’far bin Abu Tholib

f. Muhammad bin Ali atau yang lebih dikenal Muhammad bin Al Hanafiyah, saudara Husain juga yang merupakan anak Ali bin Abi Tholib dari lain Ibu (bukan dari Fathimah)

Lihat Hiqbah minat Taarikh tulisan Dr. Al Khamis, dan mausuah Al Hasan wal Husain tulisan Syaikh Hasan Al Husaini

***
Sebelumnya Husain mengutus sepupunya Muslim bin Aqil bin Abi Tholib, untuk pergi dulu ke Kufah dan memastikan kebenaran dukungan penduduk Kufah kepadanya.

Dari hasil investigasi Muslim bin Aqil, penduduk Kufah memang menolak Yazid dan ingin membaiat Husain. Namun gubernur Kufah waktu itu adalah An Nu’man bin Basyir yang cenderung pura-pura tidak tahu dan tidak peduli akan masalah ini.

Kekurang tanggapan An Nu’man ini akhirnya dilaporkan oleh bawahannya ke Yazid yang ada di Syam. Hingga akhirnya Yazid mencopotnya dan menggantikannya dengan Ubaidullah bin Ziyad sebagai gubernur Kufah yang baru.

Ubaidullah sebelumnya adalah gubernur Bashrah. Dengan adanya hal ini maka dia menjadi gubernur untuk dua wilayah besar di Iraq, Bashrah dan Kufah.

Sementara itu Husain pun akhirnya berangkat melalui perjalanan yang sangat panjang dari Makkah menuju Kufah, dengan disertai oleh 72 penunggang kuda.

Singkat cerita karena gubernur yang memiliki sikap yang berbeda ini, penduduk kufah enggan untuk membela Husain yang sedang menuju Kufah.

Husain dan rombongannya sendiri ketika sampai di padang Karbala, yang terletak di sebelah barat laut dari Kufah. Yang masih jauh dari Kufah. Akhirnya dihadang oleh Ubaidullah bin Ziyad dan pasukannya.

Sedangkan penduduk Kufah tidak ada satupun yang datang untuk membela Husain.

Lihat Hiqbah minat Taarikh tulisan Dr. Al Khamis, dan mausuah Al Hasan wal Husain tulisan Syaikh Hasan Al Husaini

***
Ketika dua pasukan yang tidak sepadan itu bertemu, yakni antara 72 penunggang kuda dari rombongan Husain dan 5000 orang pasukan Kufah, maka terjadilah negosiasi.

Husain mengetahui pengkhianatan penduduk Kufah pun akhirnya memberikan tawaran :

1. Berdamai dan membiarkan Husain beserta rombongan nya kembali ke Mekkah atau Madinah.

2. Berdamai dan membiarkan Husain pergi ke Syam membaiat Yazid, agar Yazid yakin bahwa Husain telah mendukung nya.

3. atau mengantarnya ke salah satu perbatasan negeri kaum Muslimin dengan orang kafir, agar dia menjadi penduduk di situ dan mendapatkan hak serta kewajiban sebagai penduduk.

Mengetahui hal itu sebenarnya Ubaidullah cukup gembira dengan melunaknya Husain. Tawaran ini juga membuktikan bahwa Husain tidak berniat memberontak.

Akan tetapi takdir Allah berkata lain, Ubaidullah kemudian terkena hasutan seorang pembisik jahat bernama Asy Syamr bin Dzul Jausyan bahwa Husain sebenarnya telah bersekongkol dengan Umar bin Sa’ad sang negotiator yang diutus Ubaidullah itu sendiri.

Maka dari itu janganlah terima tawaran Husain itu, akan tetapi perintahkan Husain agar tunduk kepada keputusanmu sampai menjabat tanganmu, atau jika tidak mau maka Husain harus diperangi hingga terbunuh.

Ubaidullah pun akhirnya terhasut, menolak tawaran Husain, dan memberikan keputusan bahwa Husain harus tunduk kepada nya.

Di sisi lain, ketika hal itu sampai kepada Husain maka Husain bersumpah tidak akan tunduk kepada keputusan Ubaidullah yang mana ini melecehkan harga dirinya. Dan lebih memilih untuk berperang.

Akhirnya syahid lah Husain di padang Karbala itu bersama rombongannya.

Lihat Hiqbah minat Taarikh tulisan Dr. Al Khamis, dan mausuah Al Hasan wal Husain tulisan Syaikh Hasan Al Husaini

***
Point penting yang harus kita ketahui bahwa selain karena Ijtihad yang salah, dan tertipu muslihat penduduk Kufah. Husain sebenarnya dalam posisi terfitnah.

Yang mana beliau tidak bertujuan untuk memberontak, sebagaimana yang kita lihat dari negosiasi yang beliau lakukan. Namun beliau akhirnya terpaksa berperang untuk mempertahankan diri, hingga akhirnya syahid

Dan apa yang terjadi terhadap beliau juga sama sekali tidak bisa dijadikan dalil, karena telah kita lihat sendiri berapa banyak sahabat lain yang menentang Ijtihad yang salah dari beliau.

Maka dari itu orang orang yang menisbatkan “Perlawanan” dan Pemberontakan terhadap pemerintahan Islam yang dzolim, kepada kejadian fitnah dan kesalahan Ijtihad yang terjadi pada sebagian Salaf untuk meninggalkan sunnah Rasulullah yang jelas dan tegas dalam masalah ini.

Maka mereka sesungguhnya hanyalah pengikut hawa nafsu dan Ahlul fitnah. Mereka menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka menipu umat atas nama Salaf untuk berpaling dari manhaj Salaf itu sendiri

***

Tanya :

ada sebagian yg berdalil bahwa bentuk penggantian penguasa dapat dilakukan dengan keturunan sebagaimana disini dicontohkn oleh Muawiyah radhiallahanhu dan putra beliau,Yazid

namun disini disampaikan bahwa Sahabat senior sndiri tidak mngenal penggantian penguasa dengan keturunan hingga mnjadi sebab enggan berbaiat

mohon penjelasannya bagaimanakah yg benar diantara keduanya

jazakkallahu khairan

Jawab :

Di situ saya hanya mengatakan sebagian shoghirush shohabah (sahabat Junior), yakni Abdullah bin Zubair dan Husain.

Saya tidak berkata sahabat senior ataupun semua sahabat enggan berbai’at.

***
Yang benar adalah sistem wasiat walau hanya berdasarkan keturunan itu boleh dilakukan. Dan ini adalah sistem kerajaan, bukan sistem khulafaur rasyidin yang murni.

Maka dari itu Muawiyah itu disebut sebagai raja Islam yang pertama, setelah berlalunya sistem khulafaur rasyidin.

Sedangkan keengganan Abdullah bin Zubair dan Husain untuk berbai’at itu adalah Ijtihad mereka sendiri. Dan Ijtihad mereka itu tidak berarti wasiat atas jalur keturunan itu tidak sah.

Perhatikan benar-benar bahwa antara tidak mau baiat, dengan menganggap sistem wasiat keturunan tidak sah, itu adalah dua hal yang berbeda.

Buktinya para sahabat lain mau berbai’at kepada Yazid yang dipilih berdasarkan sistem wasiat keturunan itu. Dan Abdullah bin Zubair serta Husain yang enggan berbai’at, juga tidak menganggap baiat para sahabat itu tidak sah.

Terlebih lagi, jika menilik sistem kerajaan yg terdahulu. Maka Nabi Sulaiman itu mewarisi kerajaan Nabi Daud selaku ayahnya dengan berdasarkan sistem keturunan, dan hal itu tidak masalah.

Advertisements