1. Ijtihad yang salah

Sebagaimana yang terjadi kepada para sahabat seperti Aisyah, Tholhah, Zubair, dan Muawiyah terhadap Kholifah Ali bin Abi Tholib

***
Secara ringkas kita harus kembali sejenak ke masa akhir kekholifahan Utsman bin Affan rodhiyalloohu anhu.

Pada 6 tahun terakhir dari total 12 tahun pemerintahan Utsman, muncul gelombang ketidak puasan terhadap pemerintahan Kholifah Utsman.

Gelombang ketidak puasan ini bukan karena Kholifah Utsman dzolim ataupun karena kesejahteraan rakyatnya menurun. Akan tetapi karena gelombang hasutan dari Abdullah bin Saba orang Yahudi yang pura-pura masuk Islam pada zaman kekholifahan Utsman itu.

Utsman memang mengangkat pejabat pejabat yang sebagian berasal dari bani Ummayah, yang satu bani dengan Utsman. Namun bukan karena hanya semata karena kedekatan kerabat. Akan tetapi karena Utsman lebih mengetahui kapasitas mereka, dan sebagian dari mereka sebenarnya juga telah diangkat pada masa Umar.

Singkat kata melalui hasutan dan gerakan makar yang terorganisir oleh Abdullah bin Saba, maka terfitnahlah sebagian orang orang yang baru masuk Islam (baca : bukan golongan sahabat). Yang mana orang orang yang terfitnah itu, memiliki pengaruh yang besar terhadap kabilah kabilah Arab di negeri mereka.

Orang orang yang terhasut itu akhirnya memberontak kepada Kholifah Utsman, menguasai Madinah, dan memboikot Kholifah Utsman di dalam rumahnya hingga tidak bisa mengimami sholat jamaah dan bahkan keluar mengambil air untuk minum.

Utsman sendiri adalah orang yang sangat penyayang terhadap Ummat Islam yang dipimpinnya. Mengetahui kejadian di Madinah itu, maka bukan berarti tidak ada sahabat yang berkeinginan untuk membela Utsman.

Akan tetapi tawaran itu selalu ditolak Utsman, dengan alasan dia tidak ingin menjadi Kholifah pertama yang menumpahkan darah di kalangan umat Islam sendiri.

Utsman faham kabilah kabilah besar yang berada di belakang para Pemberontak yang terhasut itu. Dan dia tidak ingin terjadi pertumpahan darah atau perang saudara di antara umat Islam. Maka dari itu tawaran itu ditolak, dan sahabat sahabat muda yang dikirim diperintahkan untuk pulang oleh Utsman.

***
Utsman diangkat menjadi Kholifah memang pada usia yang sangat tua, yakni ketika berumur 70 tahun.

Dan Utsman memang memiliki karakter sangat penyantun dan sangat sopan, hingga malaikat pun malu kepada Utsman. (Lihat hadits masalah keutamaan Utsman dalam Shohih Bukhori dan Shohih Muslim)

Ketika muncul gelombang ketidak puasan terhadap Kholifah Utsman pada 6 tahun terakhir, bukan berarti Utsman tidak mencoba berdialog dengan mereka.

Tapi alih alih dari menghormati Kholifah Utsman sebagai pemimpin, mereka malah berani kurang ajar terhadap Kholifah Utsman dengan menarik jenggot nya.

Sesuatu yang tidak berani mereka lakukan ketika zaman Kholifah Umar, dan berani mereka lakukan kepada Kholifah Utsman.

Dan Utsman berkata, “kalian tidak akan berani melakukan hal ini jika bukan karena kesantunan ku”.

Orang-orang itu pun juga pernah dikirim ke Syam di bawah Gubernur Muawiyah, dan hal kurang ajar yang sama juga dilakukan kepada Muawiyah dengan menarik jenggot nya ketika berdiskusi di sebuah ruangan.

Namun karena Muawiyah lebih muda dibandingkan Utsman, maka beliau pun bisa melakukan siasat untuk mengatasi kekurang ajaran mereka dengan elegan.

Mungkin seandainya bukan karena kematangan politik, pertimbangan yang lebih besar, dan surat nasehat Utsman sebelum mengirim mereka. Maka mudah saja bagi Muawiyah untuk menyuruh pasukan untuk “membereskan” mereka.

Lihat kumpulan riwayat riwayat mengenai ini dalam buku mengenai Muawiyah yang ditulis oleh Syaikh Prof. Ali Muhammad Asy Sya’labi

***
Hingga kemudian setelah dikuasai nya Madinah dan diboikotnya Kholifah Utsman di dalam rumahnya selama beberapa hari. Para pemberontak yang terfitnah itu menjadi semakin kurang ajar dan semakin berani, hingga menerobos ke rumah Utsman melalui atap dan membunuh Kholifah Utsman.

Setelah terbunuhnya Utsman, maka para pemberontak yang terfitnah dan hanya bermodalkan semangat itu kebingungan.

Mereka tidak tahu harus berbuat apa, dan mereka tidak ada kemampuan untuk menggulingkan pemerintahan serta tidak berniat merebut kekuasaan.

Di tengah situasi genting itu, maka setelah mereka berdiskusi dengan penduduk Madinah yang bisa mereka bujuk untuk memberikan masukan siapakah pengganti Kholifah yang mereka ridhoi.

Mereka mencari para sahabat senior di sekitar Madinah, untuk mereka tawarkan untuk dibaiat agar menjadi Kholifah pengganti Utsman yang mereka bunuh.

Para sahabat senior umumnya menolak tawaran itu, kecuali Ali bin Abi Tholib yang akhirnya mau menerima nya dengan sangat terpaksa setelah menolak nya, karena pertimbangan mashlahat dan madhorot.

Pemerintahan Ummat Islam tidak boleh vakum walau sebentar, karena ini akan mempengaruhi kepada runtuhnya kekuasaan dan dakwah Islam.

Atas hal itu, maka Ali mau untuk dibaiat sebagai Kholifah dengan syarat baiat harus dilakukan terang terangan di masjid.

Para pembunuh Utsman pun setuju, Ali pun dibaiat terang terangan di masjid. Dan sebagian sahabat senior ada yang dihadirkan dengan paksa oleh para Pemberontak, agar berbai’at kepada Ali.

Singkat kata Ali pun akhirnya menjadi Kholifah yang sah sebagai pengganti Utsman yang terbunuh.

Dan Ali lebih bisa bersikap tegas dan menguasai para pembunuh Utsman itu, sehingga mereka tidak berani macam macam dan kurang ajar kepada Ali seperti yang pernah mereka lakukan kepada Utsman.

****
Sekedar catatan kecil,

imam Abu Ya’la Al Farra dalam muqoddimah kitab beliau yg berjudul “tanzihu kholil mukminiin Muawiyah bin Abi Sufyan minal dzulmi wal fisq fii mutholabatihi bi daam Aamiril Mukminiin Utsman bin Affan”, dan juga Imam As Suyuthi dalam kitab beliau “Tarikh Khulafa'”.

Beliau berdua memang menuliskan ada sebagian sahabat senior yang sangat terpaksa membaiat Ali, yakni sahabat Tholhah dan Zubair.

Abu Ya’la Al Farra berkata :
“hampir seluruh riwayat yang Shohih maupun Dhoif menyebutkan bahwa Thalhah dan Az Zubair -semoga Allah meridhoi keduanya- membaiat Ali dengan terpaksa. Para pemberontak menghadirkan mereka berdua dengan paksa.”

As Suyuthi berkata dengan menisbatkan kepada Ibnu Sa’ad :
“Ali dibaiat sebagai Kholifah sehari setelah terbunuhnya Utsman di Madinah. Semua sahabat membaiatnya sebagai khalifah. Disebutkan bahwa Thalhah dan Zubair membaiatnya dengan sangat terpaksa dan bukan dengan suka rela. ”

Sedangkan Imam Abu Bakar Ibnul Arabi dalam kitab beliau” Al ‘Awashim minal qowashim” menolak bahwa ada sahabat yang dipaksa untuk berbai’at kepada Ali. Dalam hal ini adalah Thalhah dan Az Zubair.

Beliau berkata,
“Apabila ada yang berkata “keduanya membaiat (Ali) dalam keadaan terpaksa”, kami katakan,

Demi Allah, sama sekali tidak mungkin mereka berdua dipaksa, tidak bagi mereka berdua dan tidak bagi siapa yang mereka bai’at. Seandainya pun keduanya terpaksa, maka hal tersebut tidak berpengaruh, karena bai’at tetap sempurna dan dah dengan (tidak diikuti) satu atau dua orang, dan siapa yang membai’at setelah itu, maka itulah yang lazim baginya dan ia terpaksa di atas itu sesuai syar’i.

Seandainya keduanya tidak membaiat, maka hal itu tidak berpengaruh pada keduanya dan tidak pula pada (keabsahan) bai’at imam. ”

Sementara itu, memang ada riwayat yang menyebutkan bahwa terdapat sebagian sahabat yang tidak membaiat Ali.

Imam Ath Thabari menceritakan, bahwa Ali Radhiallah ‘Anhu berkata pada Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘Anhu: “Berbai’atlah Engkau!”

Sa’ad menjawab: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at. Tapi demi Allah tidak ada persoalan apa-apa bagiku.”

Mendengar itu Ali berkata: “Biarkanlah dia.”

Lalu Ali menemui Ibnu Umar dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma: “Aku tidak akan berbai’at sebelum orang-orang semua berbai’at.” Jawab Ali: “Berilah aku jaminan.” Jawab Ibnu Umar : “Aku tidak punya orang yang mampu memberi jaminan.”

Lalu Al Asytar berkata: “Biar kupenggal lehernya!” Jawab Ali : “Akulah jaminannya, biarkan dia.” (Imam Ibnu Hazm, Al Fashl fil Milal wal Ahwa’ An Nihal, 4/103)

Imam Al Waqidi mencatat ada 7 orang kibarus shahabah yang tidak memberikan bai’at pada Khalifah Ali Radhiallahu ‘Anhu yaitu: Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabbit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa’ dan Usamah bin Zaid Radhiallahu ‘Anhum. (Tarikh Ar Rusul, 4/429)

*
Maksud kami menuliskan hal ini, bahwa walaupun ada sahabat yang terpaksa membaiat Ali ataupun menolak dan tidak membaiat Ali, namun Ali tetap sah sebagai Kholifah dan Amirul Mukminiin.

Bahkan beliau termasuk Khulafaur Rasyidin sesuai dengan manhaj Salaf dan kesepakatan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Sehingga ini memberikan faedah bagi kita, bahwa keengganan sebagian tokoh untuk berbai’at itu tidak berarti membatalkan keabsahan seseorang untuk menjadi Imam atau Kholifah.

Apalagi hanya ketidak ridhoan sebagian orang yang bukan tokoh dan hanya rakyat biasa, yang bai’at nya mengikuti bai’at para tokoh yang mewakili nya. Dan juga secara de facto rakyat itu berada dan “numpang urip” di wilayah kekuasaan sang pemerintah.

Maka wajib baginya untuk taat dalam hal yang ma’ruf, bersabar terhadap kedzoliman pemerintah, dan tidak menghasung membuat makar guna melakukan perlawanan atau pemberontakan.

Seorang Imam atau pemerintah itu sah kekuasaan dan pemerintahan nya, baik semua tokoh membaiat nya atau ada sebagian yang enggan.

Bahkan jika semua orang sudah tidak melakukan model bai’at , dan digantikan dengan mekanisme lain yang secara de facto dan de jure dia sang imam adalah orang yang mempunyai kekuasaan.

Termasuk juga dalam hal ini adalah orang yang menguasai dengan cara kekuatan militer, walaupun para tokoh dan rakyat tidak ridho.

****
Sikap dari terbunuhnya Utsman ini menimbulkan Ijtihad dan sikap yang berbeda di antara para pembesar sahabat, para tokoh ahli Ijtihad.

Muawiyah berijtihad selaku wali kabilah dari terbunuhnya Utsman. Beliau berpendapat jika para pembunuh Utsman diserahkan terlebih dahulu dan di qishsosh, maka semua akan beres.

Ijtihad kubu Muawiyah ini sama seperti Ijtihad kubu Aisyah, Tholhah, dan Zubair.

Akan tetapi sayangnya Ijtihad mereka semua salah, dan mereka berhak untuk mendapatkan satu pahala atas Ijtihad nya yang salah.

Yang benar adalah Ijtihad nya Ali yang menunda qishosh para pembunuh Utsman, yang mana di belakang mereka ada para kabilah Arab yang besar.

Sehingga jika mereka diserahkan, akan terjadi chaos dan perang saudara yang jauh lebih besar. Yang secara logika dapat meruntuhkan kekuasaan pemerintahan Islam itu sendiri.

Imam Ali pro stabilitas dan memilih madhorot yang lebih kecil. Dan Ijtihad beliau lah yang benar, sebagaimana diikuti oleh Ibnu Abbas, dan pembesar Sahabat lainnya seperti Abu Ubaidah Ibnul Jarroh dan Ammar bin Yasir.

***
Aisyah sendiri setelah perang Jamal juga mengakui bahwa Ijtihad beliau salah.

Ammar bin Yasir berkata di hadapan orang-orang di Kufah, sebelum terjadi perang Jamal dan Aisyah datang karena Ijtihad nya yang salah itu :

إنّ عائشة قد سارت إلى البصرة، والله إنّها لزوجة نبيّكم في الدنيا والآخرة، ولكنّ الله تبارك وتعالى ابتلاكم ليعلمَ إيّاه تطيعون أم هي؟

“Sesungguhnya ‘Aisyah telah sampai di Bashrah. Demi Allah, beliau adalah istri dari Nabi kalian di dunia dan di akhirat. Akan tetapi Allah Tabaraka wa Ta’ala tengah menguji kalian, apakah kalian mentaati-Nya ataukah mentaati ‘Aisyah?” [HR. Bukhori]

Az-Zaila’i berkata :

وقد أظهرت عائشة الندم، كما أخرجه ابن عبد البر في ((كتاب الاستعاب)) عن ابن أبي عتيق – وهو عبد الله بن محمد بن عبد الرحمن بن أبي بكر الصديق – قال : قالت عائشة لابن عمر : يا أبا عبد الرحمن، ما منعك أن تنهاني عن مسيري ؟. قال : رأيت رجلا غلبت عليك – يعني : ابن الزبير -. فقالت : أما والله، لو نهيتني ما خرجت

“Telah nampak rasa penyesalan pada diri ‘Aisyah, sebagaimana sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr dalam kitab Al-Isti’ab dari Ibnu Abi ‘Atiq – ia adalah ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Abi Bakr Ash-Shiddiq – ia berkata : ‘Aisyah pernah berkata kepada Ibnu ‘Umar :

“Wahai Abu ‘Abdirrahman, apa yang mencegahmu untuk melarangku pergi dalam perjalananku (menuju Bashrah) ?”.

Ibnu ‘Umar berkata : “Aku melihat seorang laki-laki yang telah menguasai dirimu – yaitu Ibnuz-Zubair”. ‘

Aisyah berkata : “Jika saja – demi Allah – engkau melarangku, niscaya aku tidak akan pergi” [Nashbur-Rayah 4/69-70]

Adz-Dzahabi berkata :

وكانت تحدث نفسها أن تدفن في بيتها فقالت إني أحدثت بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثا ادفنوني مع أزواجه فدفنت بالبقيع رضي الله عنهاقلت تعني بالحدث مسيرها يوم الجمل فإنها ندمت ندامة كلية وتابت من ذلك على أنها ما فعلت ذلك إلا متأولة قاصدة للخير كما اجتهد طلحة بن عبيد الله والزبير بن العوام وجماعة من الكبار رضي الله عن الجميع …….قالت عائشة إذا مر ابن عمر فأرونيه فلما مر بها قيل لها هذا ابن عمر فقالت يا أبا عبد الرحمن ما منعك أن تنهاني عن مسيري قال رأيت رجلا قد غلب عليك يعني ابن الزبير

”Dahulu ‘Aisyah berkeinginan untuk dikuburkan di dalam rumahnya, kemudian beliau berkata : ‘Sesungguhnya aku telah berbuat kesalahan sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kuburkanlah aku bersama istri-istri beliau lainnya di kuburan Baqi’’.

Aku (yaitu Adz-Dzahabi) berkata :

“Yang beliau maksud dengan kesalahan ialah kepergiannya pada tragedi perang Jamal, karena sesungguhnya beliau amat menyesali kepergiannya itu, dan beliau bertaubat darinya. Padahal beliau melakukannya atas dasar ijtihad dan bertujuan baik, sebagaimana Thalhah dan Az-Zubair bersama beberapa pembesar sahabat juga telah berijtihad, semoga Allah senantiasa meridhai mereka semua.”

(Kemudian Imam Adz-Dzahabi menukilkan dari sebuah kisah, yaitu) pada suatu saat ‘Aisyah berpesan : ”Bila Ibnu Umar lewat, hendaknya kalian tunjukkanlah dia kepada aku”.

Dan ketika Ibnu Umar telah melintas, maka dikatakan kepada ’Aisyah : ”Inilah Ibnu Umar” ; maka ia pun berkata kepadanya: “Wahai Abu Abdirrahman, apa yang menghalangimu untuk mencegahku dari kepergianku (pada tragedi perang Jamal)?”

Beliau menjawab : “Aku melihat bersamamu seorang lelaki yang telah menguasai dirimu, yaitu Ibnu Zubair.” [Siyaru A’alamin- Nubalaa’ 2/324 no. 193; Maktabah Al-Misykah]

Ibnu Taimiyyah berkata :

إن عائشة لم تخرج للقتال، وإنما خرجت بقصد الإصلاح بين المسلمين، وظنت أن في خروجها مصلحة للمسلمين، ثم تبين لها فيما بعد أن ترك الخروج كان أولى، فكانت إذا ذكرت خروجها، تبكي حتى تبل خمارها، وهكذا عامة السابقين ندموا على ما دخلوا فيه من القتال، فندم طلحة والزبير وعلي رضي الله عنهم أجمعين.
ولم يكن يوم الجمال لهؤلاء قصد في القتال، ولكن وقع الاقتتال بغير اختيارهم، فإنه لما تراسل عليا وطلحة والزبير، وقصدوا الاتفاق على المصلحة، وأنهم إذا تمكنوا، طلبوا قتلة عثمان أهل الفتنة، وكان علي غير راض بقتل عثمان، ولا معينا عليه، كما كان يحلف، فيقول : والله ما قتلت عثمان ولا مالأتُ على قتله. وهو الصادق البار في يمينه، فخشي القتلة أن يتفق علي معهم على إمساك القتلة، فحملوا على عسكر طلحة والزبير، فظن طلحة والزبير أن عليا حمل عليهم، فحملوا دفعا عن أنفسهم، فظن علي أنهم حملوا عليه، فحمل دفعا عن نفسه، فوقعت الفتنة بغير اختيارهم، وعائشة راكب، لا قاتلت، ولا أمرت بالقتال، وهكذا ذكره غير واحد من أهل المعرفة بالأخبار

”Sesungguhnya ’Aisyah tidak keluar untuk berperang, melainkan dengan tujuan untuk mendamaikan kaum muslimin. Dia mengira bahwa keluarnya itu akan membawa kemaslahatan bagi kaum muslimin. Namun yang tampak olehnya setelah itu bahwa seandainya ia tidak keluar maka hal itu lebih baik. Oleh karena itu, jika ia teringat keluarnya (menuju Bashrah) itu, ia menangis hingga membasahi kerudungnya. Demikian pula halnya dengan kaum muslimin terdahulu, mereka merasa menyesal karena terlibat peperangan itu. Thalhah, Az-Zubair, dan ’Ali radliyallaahu ’anhum; mereka semua juga merasa menyesal.

Dan peristiwa Jamal itu pada mulanya tidak meraka maksudkan untuk berperang, akan tetapi peperangan itu terjadi di luar kehendak mereka. Ketika ’Ali, Thalhah, dan Az-Zubair saling surat menyurat dan berkeinginan mencari kesepakatan untuk mencapai kemaslahatan, dan ketika mereka telah bertekad mencari pencetus fitnah pembunuh ’Utsman; ’Ali dalam keadaan tidak ridla dengan terbunuhnya ’Utsman dan tidak pula membantu membunuhnya sebagaimana diucapkan dalam sumpahnya : ”Demi Allah, aku tidak membunuh ’Utsman dan tidak pula berkomplot membunuhnya” – sedang ’Ali itu orang yang jujur dan benar sumpahnya. Maka, para pembunuh itu takut apabila ’Ali bersepakat dengan mereka untuk menangkap para pembunuh itu. Lalu, mereka menghasut laskar Thalhah dan Az-Zubair. Kemudian Thalhah dan Az-Zubair mengira bahwa ’Ali telah menyerang mereka, lalu keduanya membela diri. Begitu juga ’Ali mengira bahwa mereka berdua telah menyerangnya, lalu ia pun membela diri. Maka terjadilah fitnah (peperangan) tanpa diinginkan oleh mereka. Dan pada waktu itu, ’Aisyah sedang naik kendaraan (onta). Tidak ikut berperang, tidak pula memerintahkan berperang. Demikianlah yang dikemukakan oleh para ahli ma’rifah tentang sejarah”
[Minhajus-Sunnah 2/185]

****
Muawiyah sendiri paska perang Shiffin dan tahkim, juga mau menerima penyatuan Ummat Islam di bawah kekuasaan nya atas tawaran dari Hasan bin Ali bin Abi Tholib selaku Kholifah pengganti Ali. Dengan syarat tidak menuntut Qishosh atas terbunuhnya Utsman demi kemashlahatan persatuan ummat Islam, sebagaimana syarat yang dipersyaratkan oleh Hasan bin Ali.

Muawiyah sendiri memahami akan hal itu setelah melihat korban dan fitnah yang terjadi pada perang Shiffin, dan mau menerima syarat itu serta tidak menuntut Qishosh atas terbunuhnya Utsman.

Lihat kumpulan riwayat riwayat mengenai ini dalam buku mengenai Muawiyah yang ditulis oleh Syaikh Prof. Ali Muhammad Asy Sya’labi

***
Point penting yang harus kita ketahui bahwa Ali, Aisyah, dan Muawiyah berperang karena perbedaan Ijtihad masalah darah Utsman. Bukan karena masalah perebutan kekuasaan.

Dan sungguh orang orang yang menisbatkan “Perlawanan” dan Pemberontakan terhadap pemerintahan Islam yang dzolim, kepada kejadian fitnah dan kesalahan Ijtihad yang terjadi pada sebagian Salaf, untuk meninggalkan sunnah Rasulullah yang jelas dan tegas dalam masalah ini.

Maka mereka sesungguhnya hanyalah pengikut hawa nafsu dan Ahlul fitnah. Mereka menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka menipu umat atas nama Salaf untuk berpaling dari manhaj Salaf itu sendiri

Advertisements