Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang memerintahkan kita untuk bersabar terhadap pemerintah Islam yang dzolim sebenarnya sangat banyak, sangat tegas, dan bahkan tidak berlebihan jika kita sebut mutawatir secara makna.

Yakni perintah untuk bersabar, dan tidak melakukan makar Pemberontakan, selama pimpinan pemerintah masih melakukan sholat, atau tidak dikafirkan.

Bahkan saking banyak nya sunnah Rasulullah dan atsar para Salaf dalam hal ini, tema muamalah terhadap pemerintah yang dzolim ini sampai dijadikan pokok pokok manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah oleh para Ulama dalam kitab kitab mereka.

***
Akan tetapi sayangnya karena fitnah, ada beberapa Salaf dalam sejarah yang menyelisihi Sunnah Rasulullah tersebut.

Baik itu karena :

1. Ijtihad yang salah
Sebagaimana yang terjadi kepada para sahabat seperti Aisyah, Tholhah, Zubair, dan Muawiyah terhadap Kholifah Ali bin Abi Tholib

2. Dalam posisi terfitnah yang sebenarnya tidak bertujuan untuk memberontak, namun terpaksa berperang untuk mempertahankan diri

Sebagaimana yang terjadi kepada sahabat Husain bin Ali bin Abi Tholib, hingga kemudian dia harus bertempur dengan pasukan Kholifah untuk mempertahankan diri

3. Dalam posisi pemerintahan yang sedang vakum, yang membolehkan untuk membaiat pemerintah baru karena tidak ada kejelasan suksesor penggantinya.

Sebagaimana yang terjadi kepada sahabat Abdullah bin Zubair

4. Dalam posisi pemerintahan yang benar-benar sangat dzolim, hingga hilang kesabaran, dan lupa akan sunnah sunnah Rasulullah akan hal ini. Yang mana kemudian hari ingat akan sunnah tersebut, dan bertaubat atas kesalahannya.

Sebagaimana yang terjadi kepada seseorang tabi’in (murid atau pengikut Sahabat) yang bernama Said bin Jubair dalam menghadapi gubernur Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi yang sangat dzolim, bengis, kejam, dan sangat suka membunuh.

***
Kurang lebih demikianlah sebenarnya 4 keadaan yang menimpa Salaf itu.

Sebenarnya dari kacamata ilmiah mudah bagi kita untuk mengatakan, bahwa secara ushul fiqh apa yang terjadi itu bukan dalil.

Karena selain bertentangan dengan sunnah Rasulullah, hal itu juga bukan ijmak Sahabat. Yakni karena ada sahabat yang tidak sepakat, ataupun menentang mereka.

Sedangkan yang dianggap dalil adalah ijmak sahabat, itupun dengan catatan jika tidak bertentangan dengan sunnah Rasulullah. Dan secara alami, ijmak sahabat memang tidak mungkin bertentangan dengan sunnah.

Yang mungkin bertentangan adalah pendapat atau ijtihad sebagian sahabat, yang entah karena sunnah tersebut belum sampai kepada mereka, atau karena ijtihad yang salah dan telah ditentang oleh sahabat lain, atau karena ada udzur, atau mungkin karena adanya fitnah yang menyebabkan segala sesuatu menjadi tidak jelas.

***
Bagi orang yang hatinya sehat dan memiliki manhaj yang lurus, maka mudah baginya untuk berpegang kepada dalil-dalil yang jelas dan tegas, dan meninggalkan syubhat syubhat yang diklaim sebagai dalil yang bertentangan dengan dalil dalil yang tegas serta jelas itu.

Mudah baginya berpegang kepada dalil dalil yang muhkamat, dan mengembalikan semua syubhat kepada dalil dalil yang jelas.

Akan tetapi sayangnya bagi orang yang hatinya sakit dan terfitnah. Bagi orang yang tidak memiliki manhaj dan pemahaman yang jelas mengenai Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan manhaj Salaf. Bagi orang orang yang tidak memiliki pondasi yang kuat atau karena bergaul atau berguru kepada orang yang salah.

Maka mengembalikan hal hal syubhat itu kepada dalil yang jelas dan tegas adalah hal yang berat dan sulit bagi mereka, kecuali jika mereka mendapatkan hidayah dari Allah untuk berpegang kepada Sunnah.

Alih alih justru syubhat syubhat, dan pendalilan yang sangat lemah yang sebenarnya bukan dalil karena bertentangan dengan sunnah Rasulullah itu yang dijadikan pondasi pemahaman dan perjuangan nya.

Apalagi jika kondisi memang kondisi fitnah, pemerintah memang dzolim, dan berpegang kepada sunnah dan manhaj Salaf adalah “hal yang asing”.

Maka mudahlah bagi mereka untuk meninggalkan sunnah yang jelas, dan berpegang kepada syubhat yang diada-adakan itu.

Orang sakit itu memang umumnya menganggap obat sebagai hal yang pahit dan tidak menyenangkan.

***
Tahapan atau efek dari penyimpangan terhadap manhaj Salaf kepada pemerintah yang dzolim ini ada dua :

1. Tidak mengkafirkan pemerintah, namun melegalkan “perlawanan” terhadap pemerintah.

Baik dengan cara menghasut rakyat, demonstrasi, membangun qiyadah atau tandzim sirriyyah (organisasi bawah tanah) yang hizbiyyah (sektarian), dan berbagai macam inovasi yang bisa dilakukan atas nama jamaah hizbiyyah itu.

Membentuk negara dalam negara, bisa. Membentuk organisasi jihad ketentaraan, bisa. Membangun pasukan pendukung partai politik, bisa. Dan lain lain.

2. Tahapan yang kedua ini sebenarnya sama dengan tahap yang pertama. Namun bedanya “perlawanan” kepada pemerintahan itu dilegalkan dengan cara mengkafirkan pemerintah.

Variasi bentuk perlawanan bisa bermacam macam, namun pondasi nya adalah karena pemerintah itu kafir. Jadi tidak sekedar hanya karena dzolim namun masih diakui sebagai orang Islam.

Dan umumnya perlawanan atas pondasi “pengkafiran” jauh lebih ganas dan jauh lebih berbahaya, dibandingkan hanya sekedar boleh melakukan perlawanan terhadap pemerintah yg masih dianggap sebagai orang Islam tapi dzolim.

Advertisements