Di masjid dekat kontrakan saya, saya pernah sholat satu shaff bersebelahan dengan seseorang tua. Umur umur yang umumnya sudah pensiunan.

Ketika salam dan selesai sholat dia menepukkan telapak tangannya ke pahanya tiga kali, sebagaimana ini adalah cara sholat model syi’ah. Saya agak terkejut melihat itu, tapi saya diam saja karena waktu itu saya pendatang baru dan saya berhuznudzon mungkin paha beliau pegel.

Biasanya orang syi’ah selesai sholat menepukkan telapak tangan ke paha tiga kali, sambil berkata “khoona jibriil” (telah berkhianat Jibril). Namun saya tidak mendengar beliau mengatakan itu.

Entah karena ngomong nya pelan pelan sehingga saya tidak dengar, atau mungkin ada hal lain.

Tapi yang jelas waktu itu saya coba hilangkan prasangka bahwa beliau syi’ah.

***
Hingga kemudian waktu berlalu, ada seorang bapak tua yang lain yang juga jamaah masjid, tiba tiba ngajak omong saya mengenai beliau tanpa saya minta.

Beliau tegas memberikan info kepada saya mengenai bapak fulan itu, bahwa dia adalah syi’ah. Disebutkan juga bahwa bapak itu adalah pensiunan suatu instansi.

Beliau juga berkata bahwa beliau pernah memberikan info kepada takmir masjid itu, agar jangan pernah menjadikan dia sebagai imam. Kalau tidak nanti sholat kita semua batal.

Dan memang masjid kompleks kontrakan saya itu alhamdulillah ada imam rowatib yang tetap, sehingga tidak bisa sembarang orang menjadi imam.

***
Sebelumnya saya agak sedikit “ngeyel” dan berkata tidak percaya bahwa bapak itu syi’ah. “Masak di lingkungan sini ada syi’ah?” demikian ujar saya. Karena setau saya kajian di sekitar sini kuat Ahlus Sunnah nya.

Beliau kemudian meyakinkan saya, dan masalah kajian itu memang benar sekitar sini itu yang kuat Ahlus Sunnah. Tapi kalau di BSD yang tidak seberapa jauh dari kompleks Bintaro coret, tempat kontrakan saya, banyak kajian yang berhaluan syi’ah di sana.

Saya pun manut saja mendengar info beliau.

****
Adapun sholat bersama Syi’ah seperti itu, maka sah sholatnya karena dia bukan imam dan hanya sama sama makmum.

Namun jika seorang syi’ah menjadi imam maka tidak sah sholat kita, dan harus kita ulang sholatnya.

Kenapa? Karena ajaran syi’ah secara umum adalah ajaran kesyirikan dan kekufuran yang mengatasnamakan Ali bin Abi Tholib dan Ahlul Bait.

***
Syi’ah sendiri terbagi menjadi dua, yakni yang hanya sekedar tasyayu’ (cenderung membela dan mengunggulkan Ali, namun tidak mengkafirkan shohabat lainnya) dan Syi’ah yang Rofidhoh (yang mengkultuskan Ali, menganggap tiga Kholifah sebelumnya tidak sah dan merampas Hak Ali, serta mengkafirkan para sahabat lainnya kecuali sedikit)

Sholat di belakang syi’ah yang hanya sekedar tasyayu’, seperti misal syi’ah aliran Zaidiyyah, maka ini bisa ditolerir. Dan sah sholatnya sepanjang mereka bukan orang musyrik yang suka beristighotsah dan meminta pertolongan dengan berdoa kepada Ali, Husain, atau Fathimah.

Adapun sholat di belakang syi’ah yang Rofidhoh, seperti misal syi’ah aliran Itsna Asy’ariyyah (12 imam) yang ada di negara Iran sekarang ini. Maka sholat semacam ini tidak sah dan tidak bisa ditolerir.

Syi’ah sendiri dalam perkembangannya, yang mayoritas adalah syi’ah yang berhaluan Rofidhoh. Demikian juga termasuk syi’ah yang berkembang di Indonesia, yang kebanyakan menginduk ke Iran yang merupakan syi’ah Itsna Asy’ariyyah itu.

Sehingga secara umum, pada kenyataannya, begitu ketika kita mendengar istilah syi’ah, maka tentu yang dimaksud adalah Syi’ah Rofidhoh.

Karena syi’ah yang hanya sekedar tasyayu’ itu minoritas sekali. Bahkan saya tidak tahu apakah mereka masih ada, atau hanya tertinggal dalam buku buku sejarah saja.

***
Semua syi’ah dengan segala aliran nya yang ada sekarang ini umumnya Rofidhoh.

Sehingga tidak boleh bagi kita untuk menyengaja sholat di belakang seorang syi’ah, baik itu dengan tujuan :

1. Niat sholatnya berbeda dengan niat sholat orang syi’ah itu. Ini sebenarnya hanya tipu tipu dan pelintiran fiqh saja.

Hal ini boleh jika antara sesama kaum Muslim. Misal ada orang sholat rowatib sehabis sholat wajib. Lalu kita sebagai orang yang telat memberikan Isyarat seperti menepuknya, agar kita ikut sholatnya dan dia menjadi imam kita.

Imam yang niat sholat sunnah sedangkan kita ikut bermakmum niat sholat wajib, maka ini diperbolehkan karena sama sama Muslim.

Adapun jika terhadap syi’ah, maka hal itu tidak boleh walau beralasan beda niat. Karena dasar Aqidah mereka adalah kekufuran dan kesyirikan.

2. Dengan tujuan hanya sekedar taqiyah (tipuan), dan nanti sholatnya akan diulang lagi ketika sendiri karena tadi itu tidak sah.

3. Karena alasan politik dan hubungan diplomatik.

Advertisements