Sabar terhadap kedzoliman penguasa menurut Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, dengan menyandarkan pemahaman beliau kepada hadits Rasulullah.

Zubair bin ‘Adi pernah mengatakan, “Kami mengeluh kepada Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu tentang apa yang kami dapati dari al-Hajjaj, maka beliau berkata,

اِصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوا رَبَّكُمْ، ‎‎سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ

‘Bersabarlah kalian. Sesungguhnya tidaklah datang suatu zaman kepada kalian, kecuali zaman yang sesudahnya lebih jelek daripada zaman tersebut, hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian. Aku mendengar hal itu dari Nabi kalian’.” (HR. al-Bukhari)

***
Beliau tidak memahami kesabaran terhadap penguasa itu, sebagai sabar dalam berdemo terhadap penguasa.

Apalagi memahami demo sebagai jihad, dan memahami sabar sebagai sabar dalam berjihad menghadapi penguasa dengan cara demo.

Sepanjang hayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, beliau tidak pernah demo kepada Hajjaj yang dzolim dan gemar membunuh itu. Apalagi sekedar membuka aib penguasa untuk menjatuhkan kedudukannya, di hadapan masyarakat umum.

Beliau menasehati penguasa sembunyi sembunyi, empat mata. Tidak menyebarkan aib pemerintah kepada masyarakat. Dan bersabar atas itu, walau sampai beliau dibunuh dengan cara diracun oleh penguasa menurut sebagian kisah.

Beliau sabar dengan artian sabar yang aktif sebagaimana sunnah Rasulullah dalam Nahi Munkar terhadap penguasa.

Beliau sabar sampai menemui Rasulullah di telaga nya di akhirat.

Dari Usaid bin Hudhair Radhiyallahu’anhu, Nabi ` bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَلْقَونَ بَعْدِي أَثَرَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى‎تَلْقَونِي عَلَى الْحَوْضِ

“Sesungguhnya kalian akan mendapati penguasa-penguasa yang mementingkan diri pribadi dan tidak menunaikan hak rakyat, maka bersabarlah sampai kalian bertemu denganku di al-Haudh (telaga).” (Muttafaq ‘alaih)

***
Semoga kita bisa bersabar di masa fitnah ini, dan terhindar dari Syubhat “dalam memahami sabar” ala harokiyyun.

Advertisements