Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

Mereka tidak akan memerangi kamu dalam Keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok.

Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti. ( Al Hasyr : 14 )

Ayat ini turun berkenaan dengan persatuan antara Ahlul kitab dan orang orang munafiq dalam memerangi Rasulullah. Lihat tafsir Ibnu Katsir dan tafsir Ath Thobary.

***
Adapun dalam konteks kita sekarang, karena pada waktu itu semua sahabat adalah Ahlus Sunnah yang mengikuti Rasulullah. Sedangkan yang menyelisihi mereka dari orang yang mengaku muslim, hanya orang orang munafik.

Maka ketika muncul firqoh firqoh dan manhaj manhaj yang menyimpang dari manhaj Salaf, sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah. Dan terutama munculnya “Da’i-da’i penyeru kepada pintu pintu neraka jahannam” menurut bahasa yang digunakan rasulullah.

Maka persatuan di antara mereka yang memiliki manhaj yang menyimpang itu, akan seperti yang disebutkan dalam ayat itu. Persatuan di antara Pluralis Manhaj akan mengikuti ayat itu.

Demikianlah keadaan setelah Rasulullah meninggal, dan umat mulai menyelisihi Sunnah dan manhaj Salaf.

***
Ayat itu difahami dengan qoidah tafsir, “Al ibrotu bi umuumil lafdz, laisa bi khusuusis sabab” (Ibroh itu diambil dari keumuman lafadz, bukan semata mata karena kekhususan sebab)

Oleh karena itu jangan kagum terhadap persatuan di atas manhaj yang menyelisihi manhaj Salaf. Jangan kagum terhadap gerakan pluralisme manhaj

Advertisements