Dari al-Bara’ bin Azib radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menutup wajahnya dengan topi baja lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku berperang atau aku masuk Islam?”

Beliau menjawab, “Masuk Islamlah kemudian berperang.”

Dia pun masuk Islam lalu berperang hingga terbunuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia beramal sedikit dan diberi pahala yang banyak.”

(HR. al-Bukhari, Kitabul Jihad, 6/2808)

***
Hadits ini memberikan pelajaran bagi kita, bahwa mengumpulkan Ummat untuk bersatu dan berjuang itu harus di atas Aqidah dan manhaj yang benar. Oleh karena itu Rasulullah bersabda menyuruh untuk masuk Islam dulu, baru ikut berperang.

Tentu saja Islam dan pemahaman nya pada zaman Rasulullah masih murni dan jernih. Tidak terkontaminasi seperti sekarang ini. Aqidah masih Shohih dan tidak ada kebid’ahan. Tidak seperti zaman kita sekarang ini.

Maka dari itu, sekedar mengumpulkan ummat saja dengan tanpa mendidik Aqidah dan manhaj yang Shohih, itu sepertinya bukan metode yang benar.

Apalagi mengumpulkan dan mempersatukan kaum muslimin yang memiliki Aqidah dan manhaj yang saling berbeda-beda, dengan tanpa ada keinginan untuk mengkoreksi, mendidik, dan membimbing ke arah memahami Aqidah dan manhaj yang haq.

Ini hanyalah suatu persatuan semu atas nama Pluralisme Manhaj, yang dibungkus dengan slogan Ukhuwah Islamiyyah.

Sekedar mengumpulkan Ummat saja maka itu bukanlah suatu manhaj yang haq, kecuali kalo dipersatukan di atas Aqidah dan manhaj yang Shohih.

Advertisements