Dulu pernah ada orang yang membanding bandingkan antara Kholifah Umar bin Abdul Aziz dengan Kholifah Muawiyah.

Maka para ulama salaf dengan kedalaman ilmu mereka berkata, bahwa Muawiyah jauh lebih mulia dibandingkan Umar bin Abdul Aziz. Tidak bisa dibandingkan, disamakan, ataupun dimisalkan.

Adapun Khulafaur Rasyidin jauh lebih mulia dibandingkan Muawiyah, dan tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Tidak bisa dibandingkan, tidak bisa dimisalkan, dan tidak bisa disamakan.

Namun ada juga orang Indonesia yang sepertinya karena kultus kepada beberapa orang Da’i, maka mereka mempersamakan Da’i itu seperti khulafaur rasyidin.

Dikatakan fulan sesejuk Abu Bakar, sang Habib setegas Umar, sang motivator sedekah sekaya Utsman, dan sang fulan secerdik Ali.

***
Ini hal yang tidak benar, dan ini adalah ketidak fahaman mengenai kedudukan para Sahabat, terutama khulafaur rasyidin.

Tidaklah dikatakan bahwa tongkat itu setajam pedang, melainkan itu menurunkan martabat sang pedang.

Berikut akan saya sampaikan Qoul (perkataan) ulama Salaf, ketika mereka dengan kedalaman ilmu mereka “tidak terima” jika Umar bin Abdul Aziz dibandingkan dengan Muawiyah. Walaupun Umar bin Abdul Aziz itu memiliki keutamaan sendiri.

*
Abdullah bin Mubarak rahimahullah pernah ditanya tentang siapakah yang lebih utama, Mu’awiyah bin Abu Sufyan ataukah Umar bin Abdulaziz?

Beliau menjawab,
‘Demi Allah, debu yang masuk di hidung Mu’awiyah saat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lebih utama seribu kali dibanding Umar (bin Abdulaziz).

Mu’awiyah shalat di belakang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu tatkala beliau membaca ‘Sami’allahu liman hamidah’ Mu’awiyah menjawab, ‘Rabbanaa wa lakal hamdu’ Apalagi kemuliaan sesudah itu?

(Lihat ‘Wafayatul A’yan, Ibnu Khalikan, 3/33)

*
Dari Jarah Al-Maushily, dia berkata, “Aku mendengar seseorang bertanya Al-Mu’afa bin Imran, dia berkata, ‘Wahai Abu Mas’ud, lebih utama mana Umar bin Abdulaziz dengan Mu’awiyah bin Abu Sufyan?’

Aku melihat beliau (Mu’afa) sangat marah dan berkata,
‘Para shahabat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak boleh dibandingkan dengan seorang pun (dengan yang bukan shahabat).

Mu’awiyah radhiallahu anhu adalah penulis Alquran, shahabatnya, mertuanya dan orang kepercayaan Nabi atas wahyu Allah Azza wa Jalla.” (Asy-Syari’ah Lil Aajiri, 5/2466-2467)

*
Dari A’masy, dia mendengar orang-orang menyebutkan keadilan Umar bin Abdulaziz. Maka dia berkata, ‘Apalagi kalau kalian mengetahui Mu’awiyah?’

Mereka berkata, ‘Wahai Abu Muhammad, maksud engkau dalam hal kecerdikannya?’

Dia menjawab, ‘Tidak, justru dalam hal keadilannya.”

(As-Sunnah, Al-Khallal, 1/437)

Advertisements