Bersatu melawan musuh itu ada 2 keadaan :

1. Jika dalam keadaan jihad dalam artian perang yang sesungguhnya, baik itu jihad difa ataupun jihad atas perintah Ulil Amri. Maka wajib bersatu, dan bersabar terhadap orang orang menyimpang yang ada di dalam nya.

Apa dalilnya? Dalilnya adalah Rasulullah dan para sahabat berjihad bersama sama dengan orang munafiq yang ada bergabung di dalam nya.

Walau bergabung dengan orang munafiq, maka apakah lidah harus kelu atau mulut harus bisu ketika melihat penyimpangan yang mereka lakukan, demi atas nama persatuan?

Al Jawab tidak. Mengingkari kemungkaran harus tetap jalan, namun pertimbangan prioritas serta mashlahat madhorot harus dikedepankan.

Apa dalilnya?
Karena banyak ayat-ayat Al Qur’an yang turun berkenaan dengan orang orang munafiq, dalam konteks ketika terjadi perang jihad. Maka dari itu mengingkari kemungkaran dan kebid’ahan harus tetap jalan, dengan pertimbangan yang “dewasa”.

2. Dalam keadaan tidak terjadi jihad dalam arti perang yang sesungguhnya, dan juga tidak ada perintah jihad dari ulil Amri.

Di kondisi ini, maka wajib bersatu di atas Aqidah dan manhaj yang haq. Tidak bersatu dengan orang orang yang menyimpang, yang memecah belah agama dengan kebid’ahan dan manhaj nya.

Serta melawan musuh musuh Islam, dengan ilmu dan persatuan di atas Aqidah dan Manhaj yang Haq itu.

Maka dari itu hadits hadits masalah buih itu lebih bersifat umum, tidak khusus dalam konteks perang, dan solusi yang Rasulullah berikan adalah kembali dengan benar benar kepada agama kita.

Yakni kembali kepada sunnah dengan sebenar benarnya, memerangi kebid’ahan dan penyimpangan. Serta menyerukan persatuan dan mengumpulkan umat di atas Islam yang murni, Aqidah yang Shohih, dan manhaj Salaf yang haq itu.

Advertisements