Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al Baqarah : 62)

Di dalam ayat ini ada dua kalimat alladziina yang diulang, yakni pada kalimat الَّذِينَ آمَنُوا dan kalimat الَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِين

Apa faedah dari gaya penyampaian ini? Kenapa tidak saja langsung dikatakan,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ?

Padahal jika benar bahwa faham pluralisme yang menyamakan antara orang yang beriman (yakni orang Islam), Yahudi, Nashoro, dan Shabi’in maka pengulangan kata الَّذِينَ itu “mengganggu” pemahaman pluralisme itu.

Seharusnya cukup diberikan wawu athof saja seperti dalam kalimat هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِين dan tidak perlu memakai الَّذِينَ.

Akan tetapi ternyata bukan itu yang dikehendaki Allah dalam firman Nya dalam QS 2 :62. Bukan seperti yang dikehendaki Pluralis Liberal.

Justru dengan adanya pengulangan الَّذِينَ Allah subhaanahu wa ta’aala menginginkan ada “pembedaan” dalam ayat itu.

Sehingga Allah membedakan antara golongan orang orang yang beriman dalam firman Nya الَّذِينَ آمَنُوا, dan golongan Yahudi, Nashoro, dan Shabi’in disisi lain dengan pengulangan kata alladziina pada firman Nya الَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِين

Orang orang yang beriman itu adalah satu golongan. Sedangkan golongan Yahudi, Nashoro, dan Shabi’in itu berada dalam satu golongan yang berbeda dengan orang orang yang beriman. Yakni golongan Ahlul kitab.

Hal ini jelas bagi orang yang memahami gaya bahasa penyampaian Al Qur’an (balaghoh nya Al Qur’an), dari golongan orang yang faham akan bahasa Arab dan qoidah nya.

Pemahaman menyamakan antara orang yang beriman, Yahudi, Nashoro, dan Shabi’in sebagai satu golongan yang sama itu tampaknya hanya bergantung kepada terjemahan bahasa Indonesia saja. Ini sebagaimana yang terjadi pada Pluralis Liberal.

Sehingga mereka berkata bahwa itu adalah ayat yang paling eksplisit mengenai pengakuan adanya faham pluralisme. Padahal nyatanya tidak.

***
Coba kita bandingkan pemahaman bahasa Indonesia pada terjemahan ayat itu,

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Dengan pemahaman Al Qur’an yang asli bahasa arab, dengan adanya pengulangan kata alladziina sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

***
OK, sekarang kita faham bahwa itu adalah dua golongan yang berbeda yakni golongan orang yang beriman dan golongan ahlul kitab (orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin).

Kita faham kenapa Ahlul kitab disuruh beriman, karena mereka asalnya adalah kafir Ahlul kitab.

Namun kalau begitu mengapa orang beriman disuruh untuk beriman lagi?

Jawab, karena inilah integritas dari gaya balaghoh (cara penyampaian) Al Qur’an.

Di dalam ayat lain, yakni QS Al Hujurot : 14 – 15 Allah menyebutkan bahwa jangan kamu sebut dirimu sebagai orang beriman “secara hakiki”, tapi katakanlah kamu hanya baru sebagai orang muslim dulu sebagai “syarat minimal” dikatakan sebagai orang beriman. Karena kamu belum membuktikan keimanan mu.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah Islam’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar

[QS Al Hujuroot : 14-15]

Bahkan Allah dengan tegas berfirman dalam QS Al Ankabut : 2 – 3, bahwa orang itu jangan disangka akan dibiarkan berkata “saya beriman” dengan begitu saja tanpa mengalami cobaan. Sehingga tampak jelas siapa orang yang jujur dengan perkataannya saya orang yang beriman, dan orang yang berdusta dengan pernyataannya itu.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
[QS Al Ankabuut : 2-3]

Apakah ada orang yang berdusta dengan pernyataannya sebagai orang beriman?

Jawab, ada. Allah berfirman dalam QS Al Baqarah : 8-10 bahwa ada orang yang berkata beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal mereka bukan orang yang beriman. Yakni mereka yang berkata seperti itu adalah orang munafik.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
[QS Al Baqarah : 8-10]

Bahkan bagi orang orang yang benar benar beriman, Allah tetap menyuruh untuk tetap selalu beriman dan jangan sampai kafir hingga akhir hayat karena besarnya fitnah kekafiran. Ini sebagaimana yang Allah perintahkan dalam QS An Nisaa : 136

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS An Nisaa : 136)

***
Dari penjelasan di atas sebenarnya ada faedah besar akan perintah Allah untuk beriman bagi orang yang beriman dan bagi Ahlul kitab :

1. Bagi orang yang beriman

Maka buktikanlah keimanan mu. Buktikan bahwa kamu bukan orang munafik yang berdusta akan pernyataan mu.

Dan tetap teguhlah dalam keimanan mu wahai orang yang benar akan pernyataan keimanan mu. Istiqomah lah hingga akhir hayat, karena besarnya fitnah kekafiran pada zaman ini.

Jangan sampai kamu berbalik menjadi kafir setelah sebelumnya kamu beriman.

Dan sadarilah, bahwa statusmu sebagai orang Islam itu adalah tingkatan terendah sebagai orang yang beriman. Hingga kamu membuktikan keimanan mu, bukan munafik, dan teguh dengan keimanan mu hingga akhir hayat.

2. Bagi Ahlul Kitab

Maka masuklah Islam wahai ahlul kitab. Karena itu adalah status terendah dari orang orang yang beriman. Sedangkan statusmu sekarang adalah kafir Ahlul kitab.

Dan kemudian setelah kamu masuk Islam, maka buktikanlah keimanan mu. Buktikan kamu bukan orang munafik.

Dan tetap teguhlah dengan keimanan mu hingga akhir hayat. Janganlah kamu berbalik menjadi kafir lagi setelah kamu beriman.

***
Penjelasan mengenai QS Al Baqarah : 62 ini sebenarnya bisa kita perluas lagi dengan Asbabun Nuzul ayat ini mengenai Salman yang bercerita memuji pendeta waktu beliau masih Kristen dulu.

Berikut juga penjelasan rasulullah mengenai ayat ini setelah turun berkenaan dengan Salman, yang rasulullah menyatakan bahwa Ahlul kitab yang setelah mendengar rasulullah diutus tidak beriman dan masuk Islam, maka mereka akan masuk neraka.

Akan tetapi saya rasa ini cukup, dan tidak perlu diperpanjang lagi.

***
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Advertisements