Guna menciptakan status yang “mencerdaskan kehidupan bangsa”,

maka tampaknya saya lebih cenderung bahwa gerakan “bank run” yang mempunyai branding baru “rush money” ini, tidak akan memberikan dampak yang cukup signifikan bagi stabilitas bangunan ekonomi dan moneter Indonesia.

Di sini kita tidak berbicara boleh atau tidak boleh ya, karena toh itu hakikat nya uang anda sendiri. Tapi kita berbincang masalah “ngefek atau tidak ngefek”.

***
Kok bisa? Bagaimana hitung hitungan nya?

Gini, mari kita coba berdiskusi secara logis.

1. Hasil uang tebusan tax amnesty yang sudah terkumpul itu sekitar 90 an Triliun.

Katakanlah target rush money itu 2 juta per orang, sebagaimana Broadcast atau ajakan di medsos yang beredar.

Untuk mencapai 90 T itu, maka dibutuhkan 45 juta orang untuk withdrawal uang 2 juta rupiah dari bank. Ini baru untuk nutup dana segar yang didapat dari tebusan tax amnesty.

2. Katakanlah untuk menciptakan efek domino “bank run” yang mempengaruhi stabilitas ekonomi dan moneter Indonesia, dibutuhkan withdrawal sekitar 500 T yang merupakan 25% APBN Indonesia yang kita bulatkan saja menjadi 2000 T.

Asumsi ini saya turunkan dari 40% atau 800 T dari status saya sebelumnya. Agar “lebih ringan” dan lebih mudah dicapai saja.

Untuk mencapai 500 T itu, maka dibutuhkan 250 juta orang untuk withdrawal uang 2 juta rupiah dari bank.

Padahal jumlah penduduk Indonesia itu sekitar 260 juta.

3. Dari 260 juta penduduk itu, tidak semuanya punya rekening bank atau menjadi nasabah bank. Data menunjukkan hanya sekitar 60 juta orang yang punya rekening bank.

Jadi banyak penduduk yang tinggal bisa ikut rush money.

Hmm, gimana. Masih mau dilanjutkan analisa nya?

Masih mau lanjut? Ok.. Mari kita lanjutkan ya.

4. Dari 60 juta nasabah, sebagian besar uang dikuasai oleh “The have” yang paling hanya berjumlah 3% – 10% saja dari jumlah nasabah itu.

Jadi kalau yang 3% – 10% yang pengusaha jumbo itu tidak menarik uangnya, ya bank akan tetap stabil.

5. Ini belum termasuk dihitung investasi luar negeri yang masuk ke Indonesia. Kalau mereka tidak mencabut investasi nya dari Indonesia, maka ekonomi kita masih tetap punya dana segar.

…….. Hmmm sudah dulu ya analisa saya.. Jangan ditambah dulu

****
Tapi jangan khawatir, analisa saya mungkin salah. Namanya juga analisis abal abal. Karena ibu Sri Mulyani dan bapak Darmin Nasution berharap rush money ini tidak terjadi.

Mungkin beliau beliau punya hitungan yang lebih mantap. Hanya saja analisa hitungan dan logika nya masih belum bisa saya fahami.

Silakan jika ada yg ingin memberikan hitungan analisa lain yang lebih argumentatif. Siapa tau saya salah…..

Advertisements