Sebagian orang ada yang suka memberikan syubhat masalah manhaj, dengan metode autobiography critic.

Metode ini dari kacamata ilmiah sejauh yang saya tahu, terlalu bias dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Variabel yang ada di dalam metode ini sangat subyektif, dan tidak bisa dijadikan standar secara general.

Sekedar sebagai analisa pendukung, maka itu tidak masalah menurut saya. Akan tetapi kalau itu dijadikan sebagai sumber analisa utama, maka itu “sangat rapuh” argumentasi ilmiah nya dan tidak valid result nya.

Namun sayangnya, hal ini sering sekali dilakukan oleh “anggota pramuka” dan “pemerhati komunitas”

***
Selain itu, metode ini tampaknya tidak sesuai dengan contoh yang diberikan oleh para ulama, dan “dicela” di dalam Al Qur’an.

Bagaimana itu maksudnya?

*
Pertama,
Tidak disangkal bahwa ada imam besar yang mendapatkan hidayah dari Allah, bertaubat dari kesesatan dan kebid’ahannya, dan kemudian berpegang teguh terhadap sunnah.

Imam Abu Hasan Al Asy’ary rohimahulloh contohnya.

Setelah beliau bertaubat dari kesesatan dan kebid’ahan yang sebelumnya beliau peluk, terutama dari firqoh Mu’tazilah.

Maka untuk memperbaiki kesalahan yang beliau lakukan dulu sebagai syarat taubat beliau, terutama untuk memenuhi syarat taubat yang terdapat dalam QS Al Baqarah : 160, Al Maidah : 39, Al An’am : 54, dan An Nahl : 119.

Beliau tulislah buku buku rudud (bantahan bantahan) secara ilmiah dengan berdasarkan dalil dalil, terhadap kesesatan dan kebid’ahan yang dulu beliau peluk.

Imam Abu Hasan Al Asy’ary tidak berpedoman dengan menggunakan metode autobiography critic, bahwa dulu beliau pernah di mu’tazilah dan di mu’tazilah itu begini dan begitu menurut subyektivitas beliau.

Tidak.
Akan tetapi beliau kumpulkan dalil dan argumentasi yang difahami salah oleh mu’tazilah, dan kemudian beliau buat kitab untuk membantah dengan berdasarkan dalil dan argumentasi yang Shohih.

*
Kedua,
Metode autobiography critics itu sebenarnya pernah dilakukan oleh Ahlul Kitab dengan pura-pura beriman, lalu kufur lagi.

Dengan metode ini mereka mengira mereka bisa mempunyai otoritas untuk mencela cela semau mereka, karena mereka “meng klaim” diri mereka itu bekas orang dalam. Bekas pengikut. Bekas anggota komunitas.

Allah berfirman mencela metode ini dalam QS Ali Imron : 72-74.

Bahkan Allah dalam ayat itu, justru menguatkan hati kaum mukminin agar jangan terkecoh dengan metode mereka itu, dan jangan terpengaruh bahwa mereka akan mengalahkan hujjah mu di sisi Allah.

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ وَلَا تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَىٰ هُدَى اللَّهِ أَنْ يُؤْتَىٰ أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۗ قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu.”

Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu”.

Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”; Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai karunia yang besar. [QS Ali Imran : 72-74]

***
Sebenarnya bagi saya, ketika melihat metode autobiography critic yang suka dilakukan oleh para Pluralis Manhaj, maka saya sudah tidak tertarik membacanya.

Apalagi jika disitu miskin dalil, dan hanya sekedar cerita yang sangat bias dan tendensius. Maka saya hanya cukup tersenyum saja.

Akan tetapi saya melihat bahwa mungkin bagi orang yang kurang dalam belajar manhaj, hanya suka ikut kajian tematik saja, terlalu bergantung kepada sosok tokoh, dan kurang memiliki kafaah ilmiah (terutama saya juga termasuk maksudnya); mungkin bisa goyah atau bingung menghadapi metode autobiography critics tersebut.

Maka sebagai bentuk nasehat dan sharing ilmu, saya tulis kritik terhadap metode autobiography critic yang “pseudoscience” itu agar kita bisa sama sama mengambil pelajaran dan tidak mudah terkecoh.

Sembari itu mari kita kuatkan lagi bersama sama “kuda-kuda” manhaj kita, belajar kitab, tidak terlena dengan model ikut kajian tematik saja, dan berdoa kepada Allah agar kita teguh serta istiqomah di dalam manhaj yang Shohih ini.

***
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Advertisements