Saya baru tahu dan faham, bahwa Pluralisme adalah ajaran baru yang baru muncul pada abad modern ini di dalam dalam Islam.

Yang mana ini berbeda dengan klaim dan apa yang saya fahami sebelumnya, bahwa ajaran Pluralisme ini mempunyai akar sejarah dari ajaran sufi Ibnu Arobi yang sudah dikafirkan oleh para ulama zaman dulu.

Atau dengan kata lain, Pluralisme ala orang liberal pada zaman ini, berbeda dengan Pluralisme ala Sufi Ibnu Arabi pada zaman dulu.

****
Apa bedanya?

Ibnu Arobi menyebut bahwa semua benar “versi dia”. Maka jika Islam mengaku benar sendiri, Kristen mengaku benar sendiri, dan Yahudi paling benar sendiri; maka semua itu salah.

Maka dari itu Ibnu Arobi menyalah nyalahkan semuanya. Islam salah, Kristen salah, dan Yahudi salah. Semua baru bisa benar jika mau lebur atau menapaki jejak seperti Ibnu Arobi.

Dengan kata lain, lepaskanlah semua ikatan ikatan agama yang membuatmu salah itu. Baru setelah kamu bebas, maka kamu akan menemukan kebenaran.

Oleh karena itu Ibnu Arobi mengatakan bahwa Fir’aun la’natullooh alaih yang berkata “ana robbukumul A’la” (aku adalah Tuhan mu yang maha tinggi) itu, adalah orang yang paling beriman.

Istilah mudahnya, faham Ibnu Arobi itu adalah faham “playing God”. Everybody can be God, following Ibnu Arobi path.

***
Sedangkan Pluralisme pada zaman modern ini mengatakan, bahwa semua agama itu benar menurut versi mereka sendiri sendiri.

Islam benar, Kristen benar, Yahudi benar, pokoknya semua benar yang penting jangan saling menyalah nyalahkan.

Karena Pluralisme abad modern ini tidak memberikan pemahaman “playing God” seperti Ibnu Arobi. Akan tetapi Pluralisme modern ini beranggapan bahwa Tuhan semua agama itu sama, hanya “jalan agamanya” yang berbeda beda.

Semua agama menuju ke Tuhan yang sama, hanya beda nama agama dan beda cara ajarannya saja.

Jadi instead of “Playing God” seperti Ibnu Arobi, Pluralisme modern lebih memilih jalan “Manipulating by the name of God”.

Jadi jelas bahwa Pluralisme ala Ibnu Arobi itu, jauh berbeda dibandingkan Pluralisme modern.

Jika Ibnu Arobi berani mengatakan bahwa Fir’aun adalah orang yang paling beriman, karena dia playing God. Maka faham Pluralisme modern tidak berkata seperti itu, karena dia mengakui ajaran semua agama itu benar.

Jika ajaran agama itu mengatakan bahwa Fir’aun itu adalah orang yang terlaknat dan sangat kafir, maka konsekuensi Pluralisme modern harusnya juga membenarkan hal itu.

Maka dari itu, Pluralisme modern ini adalah ajaran baru yang baru keluar pada abad modern ini. Yang berbeda dengan ajaran Ibnu Arobi yang telah dikafirkan oleh para ulama itu.

***
Pembahasan dan pemahaman ini saya dapatkan ketika saya mendengarkan uraian rekaman Ustadz Dr. Firanda hafidzahulloh, ketika bedah buku dengan para mahasiswa universitas Madinah dari Indonesia, di Madinah.

Dengar rekaman audio ini pada menit ke 10 dan 43 detik, hingga menit ke 13 dan 9 detik.

Buka : https://ia601505.us.archive.org/…/Dr_Firanda_Andirja_-_Memb…

****
Adapun uraian Ustadz Dr. Firanda tersebut saya perluas dan saya berikan tambahan di sana sini melalui tulisan saya ini, agar lebih memudahkan bagi kita untuk memahaminya.

Advertisements