Saya pernah menemui ikhwah yang agak berlebihan dan kultus terhadap ustadz tertentu ketika menyandarkan pendapat nya.

Namun saya cukup respek terhadap sikap akhir beliau, setelah beliau saya ajak berdiskusi dengan dialektika ilmiah pake dalil-dalil.

Dalam diskusi saya dudukkan cara memahami ayat Fas-aluu Ahladz Dzikri in kuntum laa ta’lamuun dengan ayat ayat yang lain. Saya dudukkan cara memahami taqlid antara yang boleh dan yang tercela. Dan seterusnya.

Yah kurang lebih penggiringan proses pemahaman nya, hampir sama lah dengan tulisan saya tentang taqlid yang saya buat.

Saya tidak bermain opini atau kisah kisah dalam memahamkan hal itu. Opini dan kisah itu bukan suatu dialektika ilmiah menurut saya.

Akhirnya dia berkata “Ya, saya memang Taqlid” sembari dia mengatakan udzur udzur nya.

***
Bagi saya sikap memandang tsiqoh terhadap seseorang hingga cenderung taqlid itu, jauh lebih baik daripada bersikap “Free thinker”, fiqh gantung, dan “genit” terhadap harokiyyun, asy’ariyyah, takfiri, dan yang semisal dari sikap para Pluralis Manhaj.

Walau begitu, bukan berarti sikap tsiqoh yang cenderung taqlid itu harus dibiarkan dan tidak diluruskan.

Sikap ini juga mengandung sifat destruktif dalam sikap beragama, walau tidak sedestruktif sikap free thinker dan pluralisme manhaj.

Dan uniknya, meluruskan sikap menganggap tsiqoh hingga cenderung taqlid itu sebenarnya juga harus extra hati hati agar tidak dimanfaatkan oleh para Free thinker dan Pluralis Manhaj.

Kenapa?
Karena free thinker Pluralis manhaj itu adalah “natural enemy” dari sikap menganggap tsiqoh hingga cenderung taqlid. Tentu mereka akan memanfaatkan nasehat ini untuk amunisi persenjataan mereka.

***
Agar adil,
Sebaiknya beliau selain membuat tulisan yang “menyerang” sikap taqlid yang cenderung mengkultuskan.

Beliau menulis juga tulisan yang “menyerang” sikap free thinker yang cenderung Pluralis Manhaj.

Sikap free thinker yang cenderung Pluralis Manhaj ini jangan dipandang remeh. Faksi Malang sudah tewas manhaj nya karena sikap ini, demikian juga diikuti oleh orang orang yang “genit” dalam memahami fiqh.

Semoga masukan ini bisa sampai dan didengar oleh al Ustadz, yang saya yakin maksud beliau sebenarnya baik

Advertisements