Maqoshidusy Syariah (tujuan dari adanya aturan syariat) itu, secara istiqro’ ulama (hasil pengamatan secara menyeluruh) dari berbagai macam dalil yang ada dibagi menjadi 5 :

1. Hifdzud diin (Menjaga Agama)

Misal :
Syariat masalah sholat, puasa, zakat, dan haji. Syariat berkaitan dengan masalah Aqidah dan manhaj memahami Islam dengan benar.

Ancaman, peringatan, dan hukuman terhadap orang yang berbuat kebid’ahan yang merusak pemahaman beragama yang benar, dan juga terhadap orang yang melakukan pelecehan terhadap agama (blasphemy).

Dan lain lain.

2. Hifdzun Nafs (Menjaga jiwa)

Misal :
Syariat hukum Qishosh terhadap pembunuh. Syariat masalah makanan yang halalan dan thoyyiban. Larangan untuk melakukan pembunuhan atau bunuh diri. Larangan untuk mencelakakan diri sendiri ataupun orang lain.

Dan lain lain.

3. Hifdzul ‘Aql (Memelihara Akal)

Misal :
Larangan untuk minum khomr yang dapat menghilangkan akal. Senada dengan itu termasuk juga narkoba. Perintah untuk membaca, belajar, dan mencari ilmu.

Dan lain lain

4. Hifdzun Nasb (Menjaga keturunan)

Misal :
Perintah untuk menikah, larangan untuk berzina, aturan syariat dalam masalah rumah tangga dan cara pengasuhan anak.

Dan lain lain

5. Hifdzul Maal (Menjaga harta)

Misal :
Larangan mencuri dan hukum potong tangan bagi pencuri. Perintah untuk mencari nafkah yang halal dan barokah. Hukum waris dan pembagiannya. Hukum masalah aqod perjanjian dan jual beli.

Dan lain lain.

****
Masing masing aturan syariat itu secara umum ada dalilnya, ada fiqh nya, dan ada perinciannya.

Namun jika ditarik secara global, maka maksud atau tujuan syariah itu (maqoshidusy syariah) kembali kepada 5 hal tersebut.

Adapun cara praktis bagi kita, yang mungkin belum terlalu faham masalah pendetailan hukum syariat sesuai dengan masing-masing topiknya.

Maka cara yang mudah dan praktis bagi kita, adalah mengembalikan pemahaman kita akan suatu hal yang kita hadapi ke 5 maqoshidusy syariah tersebut.

Namun jika kita sudah bertemu dengan dalil syariat yang memang relevan dengan topik yang kita hadapi, maka hal tersebut harus kita kembalikan kepada perincian dalil tersebut.

Tidak boleh bagi kita untuk tetap selalu di “zona nyaman” atas nama maqoshidusy syariah, untuk kemudian bikin bikin aturan sendiri padahal dalilnya sudah ada dan jelas cara istinbath nya.

Ntar jadi Liberal lho kamu hehee…

Advertisements