Penjelasan bahwa fatwa suatu negeri diserahkan kepada ulama di negeri itu, tidak sepenuhnya benar.

Kenapa?

Karena Rasulullah ketika mengutus Muadz bin Jabal, Rasulullah menasehati muadz akan tahapan berdakwah kepada Ahlul Kitab disana.

Padahal Rasulullah hanya sekali saja pernah ke Yaman, waktu muda dulu. Itupun sebelum bi’tsah (sebelum Rasulullah diangkat menjadi Rasul)

Yang kedua, sepulang dari Yaman Muadz langsung sujud di hadapan Rasulullah, karena mengikuti kebiasaan penghormatan Ahlul Kitab di Yaman terhadap para pendetanya.

Dan ini langsung disalahkan oleh Rasulullah.

Padahal kalau qaidah itu benar, maka seharusnya Muadz jauh lebih faqih masalah Yaman dibandingkan Rasulullah. Apalagi Muadz sendiri, telah ditazkiyah Rasulullah sebagai sahabat yang paling faqih masalah halal haram.

Dan demikian juga ulama di kalangan Sahabat, yang lebih mendalam ilmunya, menerima pertanyaan dari sahabat sahabat yang lain mengenai keadaan di daerahnya.

Atau saya berikan permisalan lain, apakah fatwa fatwa masalah haji dan umroh di masjidil harom hanya diserahkan urusannya kepada Ulama Mekkah saja?

Faktanya tidak. Para ulama Madzhab yang empat itu domisili nya bukan di Mekkah. Tapi mereka tetap berfatwa masalah Haji dan Umroh.

Jadi wahai para pendukung fiqhul waqi yang terlalu berlebihan. Yang paling penting itu adalah ilmu, bukan hanya sekedar domisili.

***
Apa gara gara ketika jawaban para Ulama itu tidak sesuai keinginan antum, maka antum coba bikin manuver “ulama di negeri itu lebih faham mengenai permasalahan di negerinya”?

Kita tanya masalah demo kepada ulama manapun, timbangan nya tetap harus dengan ilmu. Bukan hanya sekedar masalah domisili saja.

Advertisements