Akhir akhir ini bermunculan manhaj “fiqh gantung” atau “fiqh abal-abal”, yang menyelisihi manhaj para ulama dalam memahami khilaf atau perbedaan pendapat di kalangan para ulama itu sendiri.

Manhaj fiqh ini beranggapan bahwa semua pendapat ulama itu benar, silakan pilih yang mana. Yang penting jangan saling menyalahkan, yang memicu timbulnya konflik, dan merusak ukhuwah.

Sekilas manhaj fiqh ini tampak indah dan penuh toleransi. Akan tetapi konsekuensi manhaj fiqh ini sebenarnya sangat merusak pemahaman agama.

Sebelum saya terangkan mengenai bagaimana rusaknya, dan juga bagaimana pemahaman yang benar dalam memahami khilaf di antara ulama dengan tanpa merusak ukhuwah. Maka mari kita coba perhatikan ilustrasi fiqh di bawah ini.

***
Misal ada ulama yang berpendapat bahwa Khomr yang harom itu hanya khomr yang dibuat dari fermentasi anggur saja.

Sedangkan khomr yang dibuat dari fermentasi buah buahan yang lain, atau yang lazim disebut nabiz, maka khomr nabiz ini halal untuk diminum walau memabukkan. Karena bukan khomr yang dibuat dari fermentasi anggur.

Sebagaimana ini adalah pendapat yang salah dari Imam Abu Hanifah rohimahulloh.

Maka konsekuensi dari manhaj fiqh gantung itu adalah :
1. Kita tidak boleh menyalahkan pendapat Imam Abu Hanifah.

2. Orang mabuk karena khomr Nabiz itu tidak berdosa, dan tidak boleh diingkari karena dia berpegang kepada pendapat ulama juga.

Contoh contoh yang semisal dengan khomr nabiz ini sebenarnya banyak. Namun saya rasa ini sudah cukup menjelaskan.

***
Dari contoh ini sebenarnya telah tampak kerusakan manhaj fiqh gantung, karena dia menganggap semua pendapat ulama itu benar.

Adapun konsekuensi umum dari mauqif (sikap) dari manhaj fiqh gantung ini adalah :

1. Kita tidak boleh “bersikap kritis ilmiah” terhadap perbedaan pendapat para ulama, guna mentarjih mana pendapat yang kuat atau benar, dan mana pendapat yang lemah atau salah.

Manhaj Tarjih dianggap “harom” dalam tanda kutip, menurut manhaj gantung ini. Dan kita dibiarkan “bodoh” dan cukup taqlid saja dengan semua pendapat ulama.

2. Manhaj ini berusaha me-ma’shum-kan para ulama, karena semua pendapat ulama itu dianggap benar dan tidak boleh kita salahkan.

3. Manhaj ini berusaha memberikan perlindungan dan tempat persembunyian bagi para ahlul bid’ah atau orang yang memiliki manhaj yang menyimpang, karena berkilah juga berdasarkan pendapat ulama.

***
Golongan yang secara umum senantiasa berlindung di balik manhaj ini adalah :

1. Harokiyyun

2. Golongan Islam Liberal dengan filsafat relativisme nya, yang suka mengutip ngutip perkataan ulama yang sesuai dengan kepentingan mereka

3. Para muqollid madzhab yang ghuluw dan tidak proporsional dalam memahami taqlid

4. Umat Islam yang tidak memahami duduk permasalahannya, dan tertipu dengan kata kata manis atas nama fiqh dan ukhuwah.

***
Berarti apakah para ulama itu sebenarnya telah memberikan arah pemahaman, dalam memahami perbedaan pendapat di antara ulama itu sendiri?

Al jawab, ya.
Qaidah yang diajarkan oleh para ulama itu adalah,
“Kebenaran itu hanya satu. Tidak berbilang. Walau itu di perbedaan pendapat di antara kalangan ulama itu sendiri”.

Demikianlah manhaj dan logika yang benar.

Berikut saya kutipkan perkataan ulama yang mengajarkan kepada kita, panduan bagaimana memahami perbedaan pendapat di antara ulama itu sendiri.

Ibnul Qasim berkata,
”Saya telah mendengar dari Malik dan Laits tentang perselisihan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tidaklah seperti yang dikatakan orang-orang, ’Dalam perselisihan tersebut terdapat kelapangan.’

Tidak demikian, yang ada adalah salah dan benar. ”
[Jami’u Bayanil Ilmi, juz 2 hal 100. Sebagaimana yang dikutip dalam Sifat Sholat Nabi]

Asyhab mengatakan, bahwa Malik pernah ditanya tentang orang yang mengambil sebuah hadist dari seorang yang tsiqat (terpercaya) dan orang itu mendapatkannya dari sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, ” Apakah engkau berpendapat bahwa dalam perselisihan terdapat kelapangan ?”

Imam Malik menjawab,
” Tidak demi Allah, sampai ia mendapatkan bahwa kebenaran itu satu. Adakah dua perkataan yang bertentangan keduanya benar ? Yang hak dan yang benar itu hanya ada satu.” [Jami’u Bayanil Ilmi, juz 2 hal 100. Sebagaimana yang dikutip dalam Sifat Sholat Nabi]

Imam Al Muzani, sahabat Imam Syafi’i berkata:
“Para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah berselisih. Lalu sebagian mereka menyalahkan yang lain dan mereka saling memperhatikan tiap perkataan di antara mereka dan mengomentarinya.

Jika sekiranya mereka berpendapat semua perkataan mereka itu benar, tentu mereka tidak akan melakukan demikian.

Pernah Umar bin Khathab marah karena terjadi perselisihan antara Ubay bin Ka’ab dengan Ibnu Mas’ud mengenai hukum salat dengan satu pakaian. Ubay mengatakan bahwa salat dengan satu pakaian itu baik dan indah. Sedangkan Ibnu Mas’ud megatakan bahwa hal itu dilakukan karena sedikit pakaian.

Kemudian Umar keluar dengan marah dan berkata, ”Dua orang sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah berselisih, yaitu diantara orang-orang yang memperhatikan Rasul dan mengambil pendapat beliau. Ubay benar dan Ibnu Mas’ud tidak kurang (berusaha). Akan tetapi aku tidak mau mendengar setelah ini ada orang-orang yang berselisih tentang hal itu. Jika masih ada tentu aku akan melakukan ini dan itu.” [Jami’u Bayanil Ilmi, juz 2 hal 103. Sebagaimana yang dikutip dalam Sifat Sholat Nabi]

Imam Al Muzani juga berkata :
“Katakanlah kepada orang-orang yang membolehkan perselisihan dan berpendapat mengenai dua orang alim yang berijtihad dalam suatu masalah.

Salah seorang di antara mereka menyatakan halal dan yang lainnya menyatakan haram.

Dikatakan “bahwa ijtihad keduanya benar semua, ”

Apakah engkau mengatakan ini dengan dasar ushul (pokok) atau qiyas ?”

Apabila ia mengatakan dengan dasar pokok, maka katakanlah kepadanya, ” Bagaimana mungkin dengan dasar pokok padahal Al-Qur’an menolak perselisihan ?”

Dan apabila ia mengatakan dengan dasar qiyas, maka katakanlah, ” Mengapa engkau membolehkan padahal pokok telah menolak perselisihan.” Hal ini tidak bisa diterima oleh orang yang berakal, lebih-lebih seorang alim. ”
[Jami’u Bayanil Ilmi, juz 2 hal 109. Sebagaimana yang dikutip dalam Sifat Sholat Nabi]

Ibnu Abdil Bar (wafat 463 H) berkata :
“Sekiranya kebenaran itu terdapat di dalam dua hal yang bertentangan, maka tidak mungkin orang-orang salaf akan saling menyalahkan dalam ijtihad, keputusan dan fatwa-fatwa mereka.

Dan pemikiran juga enggan menerima ada satu pendapat dan pendapat lain yang bertentangan dikatakan benar seluruhnya. Tepatlah apa yang dikatakan di dalam syair :

“Penetapan dua hal yang bertentangan secara bersamaan dalam satu hal Adalah seburuk-buruk kemustahilan yang datang”. ” [Jami’u Bayanil Ilmi, juz 2 hal 108. Sebagaimana yang dikutip dalam Sifat Sholat Nabi]

Syaikh Ali Hasan berkata,

”Maka perbedaan pendapat dalam perkara apapun, apakah dia itu sunnah atau bid’ah, mungkar atau bukan, tidaklah menjadikan seorang juru dakwah untuk diam dari menyampaikan kebenaran.

Yaitu dengan mengenal bid’ah sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah disebutkan sebelum ini dan menjelaskan kebenaran di dalamnya.

Apabila setelah pembahasan, penelitian, dan pengkajian yang mendalam diperoleh hasil bahwa hal itu adalah bid’ah, maka wajib untuk menamapakkan kebenaran dan menyingkap syubhat-syubhat orang yang menyalahinya. [Ilmu Ushulil Bida’, hal 192]

***
Setelah jelas bagi kita akan petunjuk para ulama, maka bagaimanakah sikap kita terhadap manhaj fiqh gantung dan perkataan manis yang menipunya “agar tidak terjadi konflik, dan ukhuwah tidak rusak karena perbedaan pendapat”?

Sikap kita adalah :

1. Kita katakan bahwa manhaj fiqh gantung ini menyelisihi manhaj Salaf dalam memahami perbedaan pendapat, terutama manhaj para sahabat.

Sebagaimana ini telah kita jelaskan di qoul ulama sebelumnya.

2. Walau kebenaran itu hanya satu, namun “dialektika” untuk menguatkan ataupun melemahkan salah satu pendapat. Ataupun untuk menyalahkan atau membenarkan salah satu pendapat ulama. Tentu tidak harus sampai terjadi konflik ataupun merusak ukhuwah.

Sikap agar “tidak dzolim” harus ditimbang dan tergantung kepada :
a. Bobot pengaruh perbedaan pendapat yang dibahas dalam masalah agama, dan juga apakah ada udzur atau tidak dalam hal itu.

b. Sikap ilmiah, kekuatan argumentasi, dan cara penyampaian dalam menguatkan sesuatu hal dan melemahkan pendapat yang lain.

3. Sikap yang dzolim yang harus kita hindari dalam menyikapi perbedaan pendapat ini adalah :
– Menganggap semua pendapat yang saling bertentangan itu benar, meremehkan usaha pentarjihan, dan ini jelas adalah sikap yang dzolim.

– Melakukan kedzoliman logical fallacy dengan segala macam bentuknya, dalam diskusi dan dialektika pentarjihan suatu khilaf fiqh.

***
Sekedar sebagai penutup,
sebagian orang orang ada yang terperangkap manhaj fiqh gantung setelah belajar dan mempelajari kitab fiqh muqoron (perbandingan) yang hanya sekedar berisi kumpulan pendapat ulama saja, dengan tanpa ada diskusi dan pentarjihan mana yang benar menurut sang penulis.

Hal ini seperti cara penulisan kitab Bidayatul Mujtahid, tulisan Ibnu Rusyd rohimahulloh.

Untuk orang orang yang mengalami “kebingungan” seperti ini maka kita katakan, bedakan antara kitab yang bertujuan sebagai “ensiklopedia” perbedaan pendapat ulama, dengan sikap ilmiah dalam melihat perbedaan pendapat ulama.

Kitab itu hanya bertujuan mengumpulkan perbedaan pendapat ulama saja. Bukan untuk mengajarkan tarjih dan sikap ilmiah dalam melihat perbedaan pendapat ulama.

Itu adalah dua hal yang berbeda.

Teknik pengumpulan “bank data” itu berbeda dengan teknik “pengolahan data”.

***
Semoga tulisan ini bermanfaat dan mudah untuk difahami. Baarokalloohu fiik

Advertisements