Najis secara asal bahasa adalah kotoran yang harus dibersihkan. Sesuatu yang dianggap jijk dan kotor, sehingga orang ingin menghindarinya atau membersihkannya.

Adapun najis dalam tinjauan syariat adalah suatu kotoran yang harus dibersihkan semampunya, karena hal tersebut menghalangi keabsahan sholatnya seseorang.

Membicarakan najis lebih sensitive dibandingkan membahas masalah hadats. Karena selain lebih banyak khilaf ulama dalam menentukan ini najis atau tidak, sebagian orang juga ada yang bersikap berlebih-lebihan dalam masalah najis.

Untuk menghindari pembicaraan yang berlebihan mengenai hal itu, maka perlu kita sebutkan beberapa qaidah yang kita jadikan rujukan dalam membahas masalah najis.

***
Qaidah pertama :
“Hukum asal segala sesuatu itu suci, alias tidak najis, hingga datang dalil yang menjelaskan kenajisannya.”

Dalil untuk qoidah pertama ini adalah QS Al Baqarah ayat 29.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Dzat yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi untuk kalian” (Qs. al-Baqarah: 29)

Sisi pendalilan dalam ayat tersebut adalah segala sesuatu yang Allah ciptakan bagi kita itu, bisa untuk kita manfaatkan dan pergunakan sekehendak kita. Oleh karena itu hukum asal segala sesuatu itu suci, karena sesuatu yang najis itu umumnya dijauhi dan tidak bisa dipergunakan sekehendak kita hingga dibersihkan atau hilang kotorannya.

*
Qaidah kedua ;
“Apa yang ditetapkan sebagai suatu hal yang kotor atau najis dalam pandangan manusia, tidak mesti merupakan najis dalam pandangan syariat. Karena yang pokok adalah harus adanya dalil yang menunjukkan kenajisannya itu.”

Qaidah kedua ini merupakan qaidah turunan daripada qaidah yang pertama, dan hal ini cukup jelas.

*
Qaidah ketiga :
“Secara umum hilangnya najis itu dengan cara bersihnya atau hilangnya najis tersebut, dengan menggunakan cara apa saja. Baik itu dengan cara dibersihkan, atau dibiarkan saja hingga kering najisnya.”

Kecuali ada dalil lain yang menyebutkan bahwa walau najisnya masih ada walau sudah dilakukan cara thoharoh tertentu, namun najisnya dianggap telah hilang.

Ini seperti jenis najis air kencing bayi laki-laki yang belum makan apapun selain ASI, yang mana cukup dipercikkan air saja. Padahal jelas bekas najisnya masih ada.

Atau jenis najis tertentu yang berdasarkan dalil, hanya bisa hilang najisnya dengan menggunakan cara tertentu. Ini seperti najisnya tempat air yang diminum airnya oleh Anjing. Secara syariat harus dibersihkan 7 kali atau 8 kali dicuci menggunakan air, dan salah satunya menggunakan tanah.

Syaikh Al-Utsaimin berkata,

وإزالة النجاسة ليست من باب المأمور به حتى يقال: لابد من فعله، بل هو من باب اجتناب المحظور

“Menghilangkan najis bukanlah termasuk suatu amalan yang diperintahkan, sehingga dikatakan, harus melakukan amal tertentu untuk menghilangkan najis. Namun, terkait najis, termasuk bentuk menjauhi larangan.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 11, Bab. Izalah An-Najasah).

*
Qaidah keempat :
“Najis yang bisa berpindah tempat, atau menempel najisnya, adalah najis basah dan yang semisal. Adapun jika najis itu telah kering, maka hilang sifat najisnya, dan najisnya tidak bisa berpindah tempat karena telah hilang.”

Qoidah keempat ini penting untuk difahami bagi orang yang was-was dengan tempat-tempat yang dicurigai ada bekas najisnya, padahal tidak ada bukti bekas najis yang tampak disitu.

*
Qaidah kelima :
“Sesuatu yang diharamkan oleh syariat, belum tentu dianggap najis oleh syariat.”

Penggunaan qaidah ini sangat terlihat, ketika sampai kita memperbincangkan apakah khomr itu najis atau tidak. Yang mana jika dibawa kepada abad modern ini, akan sampai kepada pembahasan apakah Alkohol itu najis atau tidak.

Padahal Alkohol dan khomr itu beda. Tidak semua yang mengandung Alkohol itu bisa dianggap khomr.

*
Qaidah keenam :
“Kotoran ataupun kencing dari hewan yang halal dimakan dagingnya, maka kotoran dan kencingnya suci. Bukan merupakan najis dari sisi pandang syariat.”

Qoidah keenam ini merupakan turunan dari qoidah kedua.

Qaidah ini dituliskan secara tersendiri karena ada hadits bahwa Rasulullah dulu sholat di kandang kambing, sebelum masjid dibangun. Rasulullah menyuruh untuk minum kencing dicampur susu dari unta perah sebagai obat.

*
Qaidah ketujuh :
“Najis yang tidak bisa dihindarkan, dimaafkan.”

Qaidah ini berlaku seperti wanita yang terkena istihadhoh, yang mana darah istihadhoh ini najis dan terus keluar dengan sendirinya. Akan tetapi wanita seperti ini boleh sholat walaupun ada najis, yakni darah istihadhoh nya. Dan dia cukup berwudhu saja setiap kali sholat, serta berusaha menutup atau menampungnya dengan kain atau pembalut.

Atau juga bagi orang yang terkena “salisul baul”, yakni orang yang tidak bisa menahan keluarnya air kencing dengan sendirinya. Yang mana ada sebagian orang ketika sholat, memungkinkan air kencingnya keluar sedikit ketika rukuk ataupun duduk di antara 2 sujud. Atau juga bagi orang yang umumnya sudah uzur atau tua, yang mana mekanisme tubuh untuk menahan air kencingnya sudah lemah.

Orang seperti ini dimaafkan najisnya, dan sah sholatnya karena ada udzur.

Atau juga seperti hadits ketika Rasulullah sholat dengan memakai sandal, dan ada kotoran najis di sandalnya. Ketika diberitahu oleh malaikat Jibril sewaktu beliau sholat, maka beliaupun melepas sandal beliau. Dan beliau melanjutkan sholatnya, tidak mengulanginya. Yakni sholatnya sah, walau sejak awal beliau ada kotoran najis di sandalnya.

Yang terpenting di sini adalah usaha untuk menghilangkan najisnya, bukan masalah apakah najisnya masih tersisa atau tidak. Dan Sholat memakai sandal itu sunnah. Adapun jika ada najis di bagian bawah sandal kita, maka menghilangkannya cukup dengan menggosokkan bagian bawah sandal kita dengan tanah. Maka najisnya dianggap hilang.

Atau seperti darah haid yang mengenai baju ataupun pakaian dalam wanita yang tidak hilang bekasnya walau sudah dicuci. Bekas darah haid yang hukum asalnya najis itu dianggap hilang najisnya, setelah kita berusaha menghilangkannya terlebih dahulu.

Dari Abu Hurairah, bahwa Khaulah binti Yasar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Wahai Rasulullah, saya hanya memiliki satu pakaian, dan saya haid dengan menggunakan pakaian tersebut.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatkan, “Jika haidmu telah berhenti, cucilah bagian pakaianmu yang terkena darah haid, kemudian shalatlah dengan menggunakan pakaian tersebut.” Khaulah bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, meskipun bekas darah itu tidak hilang?” Beliau menjawab, “Cukup kamu cuci dengan air, dan tidak usah pedulikan bekasnya.” (HR. Abu Daud dan Baihaqi; dinilai sahih oleh Al-Albani)

****
Ketujuh qaidah dalam memahami seputar masalah najis ini saya sebutkan dulu, sebelum kita membahas masalah jenis-jenis najis dan cara membersihkannya.

Hal ini saya pandang penting, karena lebih baik kita memahami atau berdiskusi dengan benar dulu masalah seputar qaidah-qaidah mengenai najis, sebelum menuju ke pembahasan jenis-jenis najis dan cara membersihkannya. Karena cara membersihkan najis itu sebenarnya mudah dan tidak ribet.

Kenapa?
Karena jika kita langsung membahas masalah jenis-jenis najis dan yang berkaitan dengannya, tanpa memahami terlebih dulu qaidah-nya, maka kita akan kerja dua kali dalam membahasnya.

Selain itu potensi kesalah fahaman yang mungkin muncul, juga bisa lebih tinggi. Karena najis itu adalah masalah yang “sensitive” bagi sebagian orang yang berlebih-lebihan dalam memahami masalah thoharoh.

Padahal yang benar masalah najis itu adalah masalah yang sederhana dan mudah difahami, asal kita berangkat dari memahami qaidah-qaidahnya dengan benar dulu.

Dan kemudahan tanpa bermaksud meremehkan dalam masalah thoharoh inilah, ruh daripada aturan syariat yang sebenarnya.

Allah subhaanahu wa Ta’ala berfirman ketika menjelaskan mengenai masalah thoharoh wudhu, mandi, dan tayammum di QS Al Maidah ayat 6. Allah mengakhiri ayat tersebut dengan berfirman,

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“…Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” [Al-Maa-idah: 6]

***
Semoga tulisan ini mudah untuk difahami, dan bermanfaat bagi kita semua. Baarokalloohu fiik

Advertisements