Sebelumnya viral di berbagai media sosial, berbagai macam broadcast atau share picture terjemahan QS Al Maidah ayat 51 yang diterjemahkan menjadi “Teman Setia”.

Disebutkan disitu bahwa terjadi kedzoliman bahkan pemalsuan, dengan cara merubah terjemahan dari “Pemimpin” ke “Teman Setia” dalam tema larangan mengangkat pemimpin kafir yang ada dalam ayat itu.

***
Sebelumnya harus kami katakan broadcast ini “tidak bertanggung jawab”, terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan (jumping to the conclusion), dan bahkan sporadis, walau maksudnya baik dan larangan mengangkat pemimpin kafir itu benar.

Dikatakan “jumping to the conclusion”, karena terjemah resmi bahasa Indonesia dari depag dengan “Pemimpin” pada QS Al Maidah ayat 51 itu ada. Dan terjemah resmi bahasa Indonesia dari depag dengan “Teman Setia” pada QS Al Maidah ayat 51 itu juga ada.

Sekali lagi kami katakan,
terjemah resmi bahasa Indonesia dari depag dengan “Pemimpin” pada QS Al Maidah ayat 51 itu ada. Dan terjemah resmi bahasa Indonesia dari depag dengan “Teman Setia” pada QS Al Maidah ayat 51 itu juga ada

Bagaimana sejarahnya?

***
Terjemah Al Qur’an ke bahasa Indonesia, yang resmi dari negara dengan permintaan melalui SK Menteri Agama RI itu sebenarnya ada beberapa versi.

Ini yang kemudian dipakai sebagai acuan standard oleh Depag, dan juga yang dijadikan acuan standard para penerbit percetakan Mushaf Al Qur’an yang beraneka ragam itu.

Dijadikan acuan, karena mushaf terbitan para penerbit “non-goverment” yang beraneka ragam itu harus mengajukan mushaf cetakan mereka ke Lembaga pentashih dan terjemahan Al Qur’an di bawah Depag, untuk diverifikasi dan diberikan persetujuan boleh dicetak dan dijual ke masyarakat luas.

Yang diteliti dan diverifikasi itu adalah penulisan teks Arab-nya, dan terjemahan bahasa Indonesia nya.

Acuan versi terjemahan bahasa Indonesia yang resmi dari negara Indonesia, sebenarnya ada 3 versi :

1. Terjemahan resmi bahasa Indonesia yang pertama kali, pada tahun 1971.

Yang mana team penterjemah mendapat amanah negara melalui SK Menteri Agama no.26 tahun 1967, untuk melakukan terjemahan resmi negara yang pertama kali ke bahasa Indonesia.

Sebelumnya memang sudah ada terjemahan ke bahasa Indonesia lainnya, yang dibuat oleh para Ulama Indonesia secara Independen. Bukan resmi permintaan negara. Seperti tafsir dan terjemah yang dibuat oleh Al Ustadz Ahmad Hassan rohimahulloh, yang dibuat oleh Al Ustadz Bachtiar Surin rohimahulloh, yang dibuat oleh Al Ustadz Mahmud Yunus rohimahulloh, yang dibuat oleh Al Ustadz T.M. Hasbie Ash Shiddiqie rohimahulloh, dan lain-lain.

Terjemahan resmi negara itu akhirnya selesai pada tahun 1971 oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur’an. Team ini dikepalai oleh Al Ustadz R.H.A. Soenarjo rohimahulloh, yang beranggotakan 10 ulama Indonesia lainnya seperti Al Ustadz T.M. Hasbie Ash Shiddiqie, Al Ustadz Kyai Haji Maksum Ali, Al Ustadz Kyai A. Musaddad, dan lain-lain.

Di terjemahan resmi ini, QS Al Maidah ayat 51, Auliya’ dalam konteks ayat itu diterjemahkan “Pemimpin-pemimpin”.

Mushaf Al Qur’an dan terjemahan bahasa indonesia cetakan Saudi Arabia, yang biasanya di bagikan secara gratis kepada jamaah haji dan umroh dari Indonesia, mengacu kepada terjemahan ini.

2. Revisi terjemah resmi bahasa Indonesia yang pertama kali, pada tahun 1989

Depag dengan team yang lain, melakukan revisi pada terjemahan resmi bahasa Indonesia tahun 1971. Pada versi terjemahan tahun 1989 ini, di QS Al Maidah ayat 51 tetap diterjemahkan dengan “Pemimpin”, bukan “Teman setia”.

Maka dari itu Mushaf Al Qur’an dari berbagai penerbit dengan cetakan tahun 1988 ke bawah, menggunakan acuan terjemahan resmi 1971. Sedangkan 1989 ke atas, menggunakan acuan resmi 1989 hingga datang revisi terjemahan yang selanjutnya.

Di semua mushaf Al Qur’an cetakan pada tahun-tahun itu, akan menggunakan kata “Pemimpin” sebagai terjemah QS Al Maidah 51.

3. Revisi terjemah resmi bahasa Indonesia yang kedua, pada tahun 2002.

Dengan team lajnah pentashih dan penterjemah Al Qur’an yang lain, baru Depag pada versi terjemah resmi tahun 2002 ke atas hingga 2016 pada saat ini, merubah terjemahan “Pemimpin” dengan “Teman Setia” pada QS Al Maidah 51.

Maka dari itu, mushaf terjemah dari berbagai macam cetakan penerbit yang telah ditashih terjemahannya oleh Lajnah Pentashih di bawah Depag, pada tahun 2002 hingga sekarang selalu mengacu kepada revisi terjemahan yang kedua ini. Dan QS Al Maidah ayat 51 selalu diterjemahkan ke “Teman Setia”.

Di sinilah “root cause” nya sebenarnya.

Semua mushaf cetakan yang telah disetujui oleh Lajnah Pentashih di bawah depag, selalu menggunakan terjemahan “Teman Setia” ini kecuali mushaf terjemah bahasa Indonesia cetakan Saudi Arabia.

Mushaf terjemah cetakan Saudi Arabia tetap memakai standart terjemah resmi bahasa Indonesia tahun 1971, yang paling awal.

Menteri Agama kita sekarang Lukman Saifuddin, sebenarnya juga telah melakukan permintaan ke Saudi, agar Mushaf terjemah Indonesia cetakan Saudi Arabia juga direvisi terjemahannya.

Namun saya belum melihat mushaf terjemahan Indonesia cetakan Saudi, yang menggunakan revisi terjemahan yang baru ini. Mungkin karena permintaan ini baru dilakukan barangkali.

Lihat : http://lajnah.kemenag.go.id/…/180-menag-ingin-ada-perbaikan…

—–
Catatan :

Saya sebelumnya berterima kasih kepada semua teman saya, yang telah membantu saya dengan menshare data-data dan foto akan terjemah QS Al Maidah ayat 51 dari berbagai macam tahun penerbitan dan juga dari berbagai macam penerbit.

Hal tersebut sangat membantu kami dalam melakukan penelusuran ini.

***

Setelah mengetahui sejarah terjemahan resmi Al Qur’an, dan juga edisi revisinya, maka barulah kita faham duduk perkara kapan acuan terjemahan resmi Al Qur’an dari Depag itu mulai berubah dari “Pemimpin” ke “Teman Setia”.

Setelah faham duduk perkara itu, maka mungkin masih ada pertanyaan “Kalau begitu siapakah anggota team Lajnah Pentashih” yang merevisi terjemahan resmi Al Qur’an pada tahun 2002 itu?

Pada Mushaf terjemah “Syaamil Al-Qur’an” terjemah perkata yang saya punyai, cetakan tahun 2007.

Disebutkan di tanda tashih bernomor P.VI/I/TL.02.1/266/2007 bahwa lajnah pentashih tersebut diketuai oleh Haji Muhammad Shohibut Thohir, sekretaris Haji Anang Sudrajat, dan dianggotai oleh 20 orang ulama lainnya yang di bagian anggota nomor satu beranggotakan Dr. Haji Muhammad Quroisy Syihab.

Disini saya tidak sebutkan nama anggota lainnya, karena takut terlalu panjang, dan nama anggota lainnya bisa dilihat pada foto di bawah ini yang bertuliskan Arab-Indonesia.

***
Sekarang kembali ke permasalahan pokok, yakni apakah terjemah “Teman Setia” yang baru itu salah, sehingga yang benar itu harusnya diterjemahkan “Pemimpin”?

Ataukah terjemah “Pemimpin” yang dulu itu sebenarnya yang salah, sehingga direvisi menjadi “Teman Setia” pada revisi terbaru itu?

Al jawab semua terjemahan itu benar, hanya berbeda cara pendekatannya saja. Karena Auliya’ itu merupakan jamak taksir dari kata Wali. Dan kata wali itu merupakan kata musytarak, yang memiliki lebih dari 1 arti yang mana semua arti itu benar dan saling memperkuat.

Wali itu bisa berarti teman setia atau orang dekat, pembela, pelindung, pemimpin, penolong dan lain-lain yang memiliki hak tawali’ untuk kita berikan wala’ berupa loyalitas dan cinta dalam masalah agama kepadanya.

Hal ini masuk kedalam pembahasan Aqidah Tauhid Wala’ wal Baro’.

Ini bukan berarti kita tidak boleh berbuat baik kepada orang kafir. Berbuat baik dan bermuamalah kepada orang kafir yang tidak memerangi kita (terutama dalam masalah agama) itu boleh dan tidak ada masalah, sebagaimana yang tersebut dalam QS Al Mumthohanah ayat 8.

Namun jika hal itu sudah dalam masalah syariat aturan agama, maka tidak ada wala’ kepada orang kafir. Dan larangan menjadikan orang kafir sebagai wali itu, baik itu diterjemahkan teman setia ataupun pemimpin, merupakan syariat aturan agama yang tidak boleh kita langgar.

Kita boleh mencintai orang kafir dalam sebatas kecintaan tabiat atau hubungan darah, sepanjang itu tidak melanggar syariat Islam. Ini sebagaimana faedah yang bisa diambil dalam QS Al Qoshshoh ayat 56.

Kami sudah pernah membahas masalah ini, silakan lihat : https://kautsaramru.wordpress.com/…/pluralisme-dan-pengaru…/

***
Yang jadi permasalahan itu sebenarnya adalah penggiringan opini dan pemahaman, bahwa yang dimaksud Auliya dalam QS Al Maidah 51 itu adalah teman setia saja, adapun kalau mengangkat pemimpin kafir itu tidak mengapa.

Kalau ini adalah maksud dari “bermain air keruh” seputar revisi penterjemahan itu, maka hal ini harus kita tentang dan kita tolak.

Karena ini tidak lain hanyalah merupakan tafsir liberal atau tafsir bil ahwa’ (tafsir berdasarkan hawa nafsu), demi kepentingan Pluralisme yang dia inginkan.

Hal ini seperti orang yang mentafsirkan boleh mengangkat pemimpin kafir dengan Qiyas pilot, sebagaimana yang telah kami bantah pada tulisan kami yang sebelumnya.

Jadi nasehat kami ada tiga :
1. Orang yang menuduh bahwa terjemahan QS Al Maidah 51 itu sengaja dirubah dan dipalsukan itu jatuh ke dalam kesalahan, dan terburu-buru dalam mengambil kesimpulan.

2. Hendaklah orang-orang yang menshare kesimpulan yang terburu-buru itu meminta maaf atau menghapus tulisan share-nya, baik yang tertulis di media online ataupun media sosial seperti facebook dan broadcast lainnya. Jangan jadikan diri anda sebagai corong fitnah.

3. Orang-orang yang sengaja menggiring pemahaman bahwa bahwa yang dimaksud Auliya dalam QS Al Maidah 51 itu adalah teman setia saja, adapun kalau mengangkat pemimpin kafir itu tidak mengapa. Yakni dengan “bermain air keruh” seputar revisi penterjemahan itu, maka hal ini harus kita tentang dan kita tolak.

Orang-orang Pluralis Liberal beserta orang-orang awam yang terkecoh, yang berusaha menipu atau tertipu dengan hal ini, harus kita tentang, kita tolak, dan kita luruskan duduk permasalannya. Namun bukan dengan cara yang salah.

***
Semoga tulisan dan nasehat ini bermanfaat bagi kita semua. Baarokalloohu fiik

terjemah-al-maidah-51-bag-4

Advertisements